(Foto/ANTARA) - Proses evakuasi pengungsi Rohingya di pesisir Pantai Lancok, Kecamatan Syamtalira Bayu, Aceh Utara, Juni lalu.

PM, Lhokseumawe – Sedikitnya 297 imigran Rohingya tiba di Pantai Ujong Blang, Lhokseumawe, Senin lalu (7/9/2020). Lembaga swadaya Arakan Project menduga ada peran kelompok penyelundupan manusia di balik telantarnya pengungsi selama berbulan-bulan di lautan.

Melansir BBC, Chris Lewa dari Arakan Project, mengatakan, 297 imigran yang mendarat ini merupakan bagian dari sebuah kapal besar yang awalnya mengangkut sekitar 800 etnis Rohingya yang keluar dari Bangladesh, pada akhir Maret. Kebanyakan dari mereka berasal dari kamp pengungsi setempat. Menumpangi kapal besar, mereka berupaya masuk ke Malaysia pada bulan April.

“Namun mereka tidak bisa turun dari kapal karena pembatasan akibat Covid-19, sehingga Malaysia mulai mendorong mereka kembali ke perairan internasional,” ujar Chris. Menurut dia, hal yang sama juga dilakukan oleh Thailand pada Juni lalu. Seperti diketahui, sebanyak 94 etnis Rohingya terdampar di perairan Aceh Utara, sebelum akhirnya dibawa ke daratan oleh para nelayan setelah didesak penduduk setempat.

Ditolak dua negara tersebut, para pengungsi mulai berpindah ke kapal-kapal yang lebih kecil. Chris meyakini puluhan pengungsi yang tiba di Aceh Utara pada Juni lalu itu berasal dari kapal yang sama dengan rombongan 297 orang ini.

“Mereka juga berasal dari kapal yang sama dengan dua kelompok yang tiba di Malaysia pada Juni lalu,” jelas Chris.

Tak hanya itu, Arakan juga tengah memverifikasi kabar 30 orang yang meninggal di kapal tersebut. Sebab, kata dia, informasi yang sama juga ia peroleh dari keterangan kelompok Rohingya yang tiba di Malaysia.

Selain ditolak oleh negara-negara Asia Tenggara, alasan lain mengapa etnis Rohingya terombang-ambing di lautan selama enam bulan, diduga karena mereka dijadikan ‘tawanan’ oleh kelompok penyelundup manusia. “Penyelundup ini ingin dibayar, jadi mereka menawan para penumpang, itulah kenapa kelompok ini menghabiskan waktu lama di lautan sebelum mereka mendarat (di Aceh),” kata Chris.

Pihaknya sempat menghubungi beberapa kerabat para penumpang ini, mereka mengaku  telah membayar biaya perjalanan pada Mei lalu. Namun ada sebagian pengungsi yang belum membayar, sehingga kapal itu ditahan dulu di lautan dan tidak dapat mendarat.

Kapal besar yang mengangkut pengungsi Rohingya dari Bangladesh itu diduga telah diatur dari Myanmar. Kapal ini, ujar Chris lagi, tidak pernah memasuki perairan Bangladesh. Ia juga menambahkan, setelah melihat kapal yang mendarat di Aceh pada Senin lalu, ia yakin bahwa itu bukan kapal utama.

“Jadi para penumpang ini ditransfer ke kapal-kapal yang lebih kecil di tengah lautan. Siapa para penyelundup manusia ini? Kami tidak tahu,” tutur dia. []

Sumber: BBC

Komentar