Telah diterbitkan cetak Edisi II (86) Pikiran Merdeka 18-23 Agustus 2015.

Karya Mahdi Idris
Ketua Umum FLP Cabang Lhoksukon. Buku kumpulan Cerpennya yang telah terbit: Lelaki Bermata Kabut (Cipta Media, 2011), Sang Pendoa (Yayasan Pintar, 2013) dan Jawai (Smart Writing, 2014).

DESIR angin malam yang menerobos masuk lewat jendela yang sedikit terbuka, menyapu tubuhku di atas ranjang besi tua. Tubuh yang kaku, terbujur menghadap kiblat, kini menjadi mayat. Ruh sudah melayang ke awang dua hari lalu, menuju qandil segala arwah yang telah dipersiapkan sang khalik. Aneh, ia tak pernah kembali setelah pergi meninggalkan jasad yang mulai kaku. Apa gerangan yang membuatnya bertahan begitu lama di sana, padahal tubuhku belum dikuburkan.

Aku sering mendengar para guru berkhutbah di masjid bahwa setelah ruh diambil malaikat pencabut nyawa dan dibawa menghadap sang khalik, ia akan dikembalikan sejenak waktu menatap jasadnya sampai jasad itu dikuburkan. Barulah kemudian ruh disiksa kalau dia milik orang jahat dan diberi kenikmatan alam barzakh bila ruh itu milik orang baik-baik. Namun ruhku tak pernah kembali setelah meninggalkan jasadku yang dingin menggigil.
Aku makin tak berdaya, bingung, sekaligus sedih, mengapa jasadku dibiarkan begini terbujur kaku tanpa pelayat. Kapan aku dikuburkan, apakah keluarga membiarkan aku sampai membusuk dan menjelma belulang dalam ruangan ini lalu mereka membakarnya? Aku tak tahu, bahkan sampai larut malam aku belum dimandikan, dikafani, dan dishalatkan. Bukankah aku ini orang beriman yang mesti dilakukan empat hal itu?

Malam makin larut. Kesunyian makin mencekam. Angin terus berdesir, menyapu jasadku dalam gelimang gundah. Aku tak tahu sesiapa yang datang menghampiri, menjaga jasadku atau membaca yasinan sebagaimana yang kusaksikan para jenazah sahabat dan kerabatku dulu sebelum dikuburkan. Jenazah mereka ada yang menjaga, membaca ayat-ayat Al-qur’an di kepala. Seorang penjaga yang sudah lelah dan mengantuk, datang yang lain menggantikannya. Bahkan ada pula yang datang beramai-ramai menjaga jenazah dan membaca Al Qur’an. Lantunan ayat-ayat suci itu begitu syahdu, menggema seisi ruangan, bahkan terdengar sampai ke luar rumah serupa suara anai-anai yang beterbangan menuju sarangnya.

Kini aku makin gundah. Bayangan istri dan keempat anakku selalu tertancap dalam ingatan. Orangtua, mertua, adik-adikku, para sahabatku, dan tetangga, satu persatu aku bayangkan. Di mana mereka sekarang. Kenapa salah satu di antara mereka tak pernah datang menjengukku. Apakah mereka membuangku di tempat ini, sehingga aku tak mengenal dengan tepat di mana aku berada sekarang. Kenapa keluargaku tega berbuat sedemikian keji padaku. Bahkan istri dan anak-anaku tak lagi peduli terhadapku meski sudah menjadi mayat busuk. Padahal, aku sudah membangun buat mereka sebuah rumah berukuran tiga kamar dan ruangan yang lebar. Memang, kondisi rumah itu sekarang belum sempurna, aku belum memasang loteng, lantai keramik, dan lampu. Tapi semua kekurangan itu bukan salahku, penghasilanku sebagai tenaga honorer di sebuah kantor pemerintahan, belum cukup untuk memenuhi semua itu. Yang lebih menyedihkan, sekarang aku punya hutang sebanyak dua puluh lima juta pada teman-temanku. Kenapa istri dan anak-anakku tak mengerti atas semua itu. Bahkan setiap hari aku banting tulang, demi membangun rumah impian yang sejak dulu kami idamkan.

Bayangkan dulu, sejak menikah lima belas tahun lalu, aku hanya pekerja serabutan. Kami tinggal di sebuah rumah kontrakan di pinggir kota kabupaten. Karena sering terlambat membayar uang kontrakan, kami diusir pemiliknya. Kemudian tinggal di rumah mertua. Dan setelah aku menjadi tenaga honorer dan bekerja di sebuah lembaga swadaya masyarakat milik temanku, aku berhasil mengumpulkan uang untuk membangun sebuah rumah impian kami. Terakhir yang kuingat, sebelum mati, aku terpeleset di kamar mandi dan kemudian tak sadarkan diri.

JAM terus berdetak, meninggalkan bunyi yang menyayat hati. Malam mulai beranjak ke sepertiganya. Sekonyong-konyong guntur menggelar dahsyat, membiaskan warna kuning keemasan dalam ruangan dimana aku terbujur kaku. Bahkan suara guntur itu makin keras saat hujan mulai turun. Genap sudah suasana malam ini yang menyakitkan. Aku tak tahu lagi apa yang mesti kuterima selanjutnya sampai semua ini berakhir.

Saat suasana mencekam yang membuatku kian ketakutan – kurasa ini bukan azab kubur yang sedang menimpa – sosok bertubuh tinggi menjulang dan berwarna hitam nan legam datang menghampiriku. Semakin ia mendekat, semakin kelihatan pula wujudnya. Sekujur tubuhnya dipenuhi mata yang terbelalak besar, ia memelototiku penuh murka. Mata itu berwarna merah seumpama api sedang menyala di kedalaman mata yang tak mampu terjangkau. Bahkan bukan itu saja yang membuat nyaliku menciut, tapi karena tubuhnya itu juga dipenuhi bulu hitam yang lebat.

Ingin aku meronta, bangkit dan menjauh dari sosok itu, namun semuanya hanya keinginan belaka. Aku tak mampu berbuat apa-apa. Dengan sekali gerakan, tubuhku sudah berada dalam cengkramannya. Ternyata, tubuhku sangat kecil dan enteng berada dalam kekuasaannya. Seolah kini aku berada dalam ruang paling gelap dan murka di dunia. Aku tak pernah menyangka akan terjadi begini. Setelah beberapa saat aku merasakan sesak dan pengap itu, kemudian ia meremas tubuhku hingga remuk dan hancur berkeping, seperti bebutir beras yang ditumbuk menjadi emping. Bahkan sirna segala rasa. Pepuing tubuhku jatuh berserakan. Anehnya, pepuing tubuhku yang berserakan itu berhimpun kembali dan utuh seperti semula. Dan hal itu ia lakukan berkali-kali, begitu pula keadaan tubuhku yang hancur berkeping-keping bersatu kembali. Aku kira ia bosan melakukannya, kemudian ia meletakkan tubuhku dan diselimuti kembali dengan kain putih sebagaimana sebelum ia meremukkannya.

“Semua ini akibat rumah impianmu,” bentaknya, bagai suara halilintar menggelegar di siang hari. “Kau sudah berhutang pada temanmu untuk membangun rumah. Jadi, sebelum hutangmu dilunasi, kau tetap begini. Tubuhmu tak bisa dikuburkan. Istri, anak, dan orangtuamu sedang menangis meronta di sana. Karena pemiliknya datang menagih. Mereka yang meminta tubuhmu jangan dikuburkan sebelum uang mereka dilunasi. Jangankan dua hari, seribu tahun pun kau akan tetap di sini. Tubuhmu akan membusuk dan hancur!”
Utang, sebegini beratkah? aku membatin.

“Kau baru tahu? Percuma saja kau sadari sekarang. Semuanya sudah terlambat. Di dunia kau lebih takut pada istrimu, bila marah tak kau bawa uang untuk membangun rumah. Tapi kau tak pernah takut menghadapi murka Tuhanmu. Di dunia kau tahan haus dan lapar demi uang. Kau tak pernah berpikir membangun rumah impianmu di surga, di mana kau akan abadi, tak seperti di dunia yang hidupmu sementara,” ujar kembali sosok tubuh hitam menjulang tinggi itu. Kini suaranya lebih keras. Matanya yang terletak di seluruh tubuh itu menyala-nyala menerangi seluruh ruangan. Aku terdiam, tak mampu berkilah sedikit pun lagi. Ternyata ia tahu apa pun yang berdesir dalam batinku.

SUARA tangis anak-anakku terdengar histeris. Aku tersentak kaget. Di sudut kamar, juga terdengar istriku sedang sesenggukan. Lalu aku membuka mata dan bangkit, “Masya Allah,” sepatah kata ini keluar dari mulutku. “Di mana saya sekarang, Ma?” aku bertanya kepada istriku yang wajahnya kemerahan, matanya bengkak. Aku yakin, ia menangis sangat lama. Aku kebingungan, benar-benar kehilangan logika entah sejak kapan, bahkan sekarang aku tak tahu apakah pagi, siang, atau sore.

Istriku bangkit dan memelukku. Pada rona wajahnya yang memerah itu menyisakan ketakutan yang tiada tara. Ia mengatakan bahwa tadi pagi aku terpeleset di kamar mandi rumah ibunya, di mana kami tinggal sejak enam bulan lalu. Katanya, aku sempat pingsan selama lima belas menit dan setelah siuman aku minta makan. Lalu aku tertidur dari pukul 10.00 pagi sampai saat ini, pukul 17.00 sore. Berarti aku tertidur selama tujuh jam. Benar-benar waktu tidur yang lama dan membuatku gelisah, akibat mimpi yang mengerikan.
“Di rumah.”
“Di rumah siapa?”
“Ibu.”
“Benar kan saya masih di dunia?”
“Benar, Pa. Apakah Papa tadi merasa sudah mati?”
Aku mengangguk. Aku yakin, tadi bermimpi. Mimpi yang mengerikan. Benar-benar menakutkan.
“Pa. Tadi ada yang ingin menemuimu. Namanya Hardi. Setelah saya bilang Papa sakit, dia langsung pulang.”
“Bilang apa lagi dia?” tanyaku.

Kemudian istriku menyerahkan selembar kertas padaku. Di situ tertera, “Aku benar-benar terdesak. Tolong lunasi hutangmu sebanyak delapan juta rupiah.” Lalu tubuhku gemetaran, berguncang hebat, hampir terjatuh. Namun dengan cepat istriku menahan tubuhku, tidak sampai terjatuh.
“Kenapa, Pa?”
“Saya pening. Tolong ambil segelas air,” pintaku. Istriku mengangguk, lalu menuju ke ruang dapur.
“Yah, ada yang datang,” ujar anakku yang pertama begitu muncul di ambang pintu kamar.
“Siapa?”
“Teman Ayah. Namanya Nazar.”
“Dia bilang apa?”
“Menagih utang, lima juta.”

Begitulah sore itu sampai pukul 10.00 malam. Ada saja yang datang menagih hutang. Aku pun tak berkilah. Memang aku berhutang pada mereka untuk membangun rumah impian yang sudah lama aku idamkan. Namun betapa terkejut ketika kulihat kalender, ternyata hari ini jatuh tempo pembayaran untuk mereka sebanyak dua puluh lima juta. Pikiran dan tubuhku mulai lelah, kutatap langit-langin kamar yang makin buram.

Komentar