Lucas Coch
Foto: Lucas Coch / EPA

PM, SYDNEY – Mengawali 2021, pemerintah Australia secara resmi mengubah beberapa penggal lirik lagu kebangsaannya. Hal ini menyusul seruan untuk mengakui bahwa masyarakat pribumi adalah peradaban tertua yang berkelanjutan di dunia.

Lirik yang diganti adalah for we are young and free (karena kami muda dan bebas) menjadi for we are one and free (karena kami adalah satu dan bebas) yang mulai berlaku Jumat (1/1) waktu setempat. Tidak ada lagi lirik yang menyebut Australia sebagai young and free.

“Kami hidup di tanah abadi bangsa First Nations dan kami mengumpulkan cerita lebih dari 300 leluhur nasional dan kelompok bahasa,” ujar Perdana Menteri Australia Scott Morrison di Canberra.

“Dan lagu kita harus mencerminkan itu. Perubahan yang telah kami buat dan kami umumkan hari ini, menurut saya, mencapai tujuan itu,” ujarnya menambahkan.

Ide untuk mengubah susunan lirik kata tersebut dilontarkan pada 2020 oleh Perdana Menteri New South Wales Gladys Berejiklian. Dia mengatakan bahwa susunan kata saat ini mengabaikan budaya Bangsa Pertama yang membanggakan Australia.

Proposal tersebut disambut oleh beberapa anggota parlemen, termasuk menteri federal untuk Penduduk Asli Australia Ken Wyatt serta pemimpin partai One Nation sayap kanan Pauline Hanson. Ketika ditanya apakah dia ingin menjadi orang pertama yang menyanyikan lagu kebangsaan baru, Morisson memberi jawaban.

“Saya pikir menyanyi oleh perdana menteri sama dengan latihan umum oleh perdana menteri, paling baik dilakukan secara pribadi,” kata dia.

Australia telah berjuang selama beberapa dekade untuk berdamai dengan suku Aborigin. Aborigin tiba di benua itu sekitar 50 ribu tahun sebelum penjajah Inggris.

Setiap tahun warga Australia memiliki hari libur nasional pada 26 Januari. Hari itu menandai tanggal “Armada Pertama” berlayar ke Sydney Harbour pada 1788, membawa sebagian besar narapidana dan pasukan dari Inggris.

Beberapa penduduk asli menyebut Hari Australia sebagai “Hari Invasi”. Kini, ada fokus baru pada pemberdayaan Pribumi di tengah gerakan Black Lives Matter.

 

Sumber: Republika.co.id

Komentar