Santriwati Al Manar
Santriwati Al Manar saat mengikuti Ramadhan in Campus. Foto: Pikiran Merdeka/Dofa Muhammad Aliza

Kebanyakan pesantren dan sekolah meliburkan kegiatan belajar-mengajar selama bulan Ramadhan agar siswanya leluasa beribadah. Namun tidak demikian dengan pondok pesantren modern Al Manar.

Selama Ramadhan, ponpes yang berada di Cot Irie, Ulee Kareng, Banda Aceh, itu mengadakan ‘Ramadhan in Campus’ bagi santri kelas enam (akhir) atau setara dengan kelas XII tingkat Madrasah Aliyah (MA). Kegiatan ini berlangsung selama 15 hari yang dimulai sejak 6 Ramadhan hingga 20 Ramadhan.

Dalam Ramadhan in Campus, para siswa dibimbing dan beraktivitas seperti kegiatan sehari-hari pesantren dan tetap berdisplin seperti biasanya. Namun ada beberapa hal yang menjadi nilai lebih dari program dua pekan ini, yaitu mereka difokuskan pada suatu keilmuan keahlian keagamaan.

Adapun program-program selama Ramadhan in Campus itu, di antaranya, tadarus, tahsinul Quran, tahfizul Quran, pelatihan khutbah Jumat, pelatihan imamah dan samadiyah, bimbingan ibadah yaumiyah, pelatihan leadership, pelatihan tajhiz mayat, pelatihan jurnalistik, dan workshop fotografi, dengan menghadirkan ahli dari bidang masing-masing sebagai pematerinya.

Selain itu, para santri juga dibebankan untuk menjadi penceramah sebelum shalat tarawih dan bakda salat Subuh, serta menjadi bilal tarawih.

“Ini semua bertujuan agar para santri ini terbiasa dengan hal-hal tersebut dan mengaplikasikan saat mereka berada di tengah-tengah masyarakat serta menjadi pemimpin kelak,” ujar Ketua Panitia Ramadhan in Campus, Ustad Syafrizal Elselatany kepada Pikiran Merdeka, di Ponpes Al Manar, Rabu (22/06/16).

Ia menyebutkan, Ramadhan in Campus tahun ini diikuti oleh 36 Santri, terdiri dari 22 santriwan dan 14 santriwati. Santri Al Manar sendiri kini berjumlah 489 orang dari kelas satu sampai kelas enam (setara dengan kelas tiga Madrasah Aliyah).

Dengan adanya Ramadhan in campus, para santri-santri ini menguasai berbagai pengetahuan yang dapat meningkatkan keilmuan agamanya. Serta dari sisi ibadah dapat meningkatkan nilai ketakwaannya, sesuai dengan tema ramadhan in campus tahun ini, “melahirkan generasi Rabbani yang berakhlak Qurani”.

Pimpinan Ponpes Al Manar, Ustad Ikhram, mengatakan, Ramadhan in Campus merupakan program  tahunan, di mana santri berdomisili di pesantren selama Ramadhan berlansung.

Menurut Ikhram, santri setelah mengikuti Ramadhan in Campus diharapkan bisa lansung terjun ke masyarakat, seperti tajhiz mayat.

Ustad Ihkram - Pimpinan Pesantren Al Manar
Ustad Ihkram, Pimpinan Pesantren Al Manar. Foto: Pikiran Merdeka/Dofa Muhammad Aliza

“Di Aceh, program tajhiz mayat sangat langka baik untuk putra dan putri. Dengan program ini, paling tidak mereka paham dan bisa melakukan fardhu ien bagi keluarganya,” ucapnya.

Selanjutnya, kata dia, pelatihan jurnalistik ditujukan untuk memberitahu mereka, bahwa sebuah berita disampaikan harus berdasarkan kebenaran tanpa adanya unsur berita fitnah, serta penyampain informasi yang mudah dimengerti masyarakat.

Sementara, dalam pemaparan materi tentang makna busana bagi santriwati, disampaikan, busana muslimah bagi santri bukan hanya melekat di badan sebagai formalitas, tapi juga sebagai anjuran agama agar kelak melekat dalam jiwanya seorang muslimah sejati.

Pimpinan Pesantren Al Manar menargetkan, karakter santri dibentuk selama bulan puasa, dengan membina akhlak mereka sehingga menjadi orang yang bermanfaat kelak dan mampu memajukan syariat islam di Aceh.

“Santri yang ikut dalam program Ramadhan in Campus bisa menjadi uswatun hasanah bagi masyarakat setelah mereka pulang dari sini, dan mampu mengajak serta menggalakkan untuk shalat berjamah di mesjid agar Aceh kembali berjaya,” harapnya.[]

Komentar