[quote]Oleh Syarwan Ahmad[/quote]

Malaysia sedang menjadi salah satu pusat pendidikan tinggi internasional. Negara ini sudah menjadi target kaum muda sebagai tempat menempuh pendidikan tinggi mereka karena berbagai kelebihannya. Tulisan ini mencoba menyajikan beberapa alasan kenapa Malaysia, yang pada tahun 70-an banyak mengimpor guru dari Indonesia, bisa menjadi pusat pendidikan tinggi dunia.

Keberhasilan negara tetangga terdekat kita ini bukan terjadi begitu saja. Penyebab utama adalah berkat adanya tekad pemerintah. Ketika Datuk Seri Najib Bin Razak (Perdana Menteri sekarang) sebagai Menteri Pendidikan, beliau mengajukan konsep pendidikan berstandar dunia. Konsep ini mengisyaratkan usaha strategis untuk globalisasi pendidikan, pencarian ilmu pengetahuan tanpa batas, terbuka dan siap menghadapi tantangan. Kerangka strategis ini selanjutnya dipertegas dalam pidato Menteri Pendidikan Tinggi tahun 2012. Dalam pidatonya Menteri Pendidikan Tinggi, Datuk Seri Khaled Nurdin, antara lain menekankan pentingnya pembentukan pusat pendidikan dan keterampilan (knowledge and skill hub) melalui internasionalisasi pendidikan sebagai sarana bagi kemitraan global.

Sudah menjadi kebiasaan pemerintah Malaysia dalam melaksanakan pembangunan nasional di mana program-program pembangunan jangka pendek dan menengah dirancang sedemikian rupa sehingga program-program tersebut mendukung program pembangunan jangka panjang. Rencana Strategis Pendidikan Tinggi (the National Higher Education Strategic Plan) memberi penekanan pada usaha internasionalisasi yang komprehensif yang menyanggupkan Malaysia menjadi pusat pendidikan regional (regional hub) dengan target 200 ribu mahasiswa internasional pada tahun 2020. Rencana ini telah menyebabkan terjadinya gelombang reformasi sistem perkuliahan di antara lembaga-lembaga pendidikan tinggi di Malaysia. Bidang-bidang seperti manajemen mahasiswa internasional, perekrutan staf, pengembangan riset dan akomodasi mahasiswa menjadi aspek-aspek yang secara mendesak diperbaiki begitu negara tersebut menghadapi tantangan internasional.

Pada tahun 2010, lebih dari 86 ribu mahasiswa internasional yang kebanyakan berasal dari berbagai negara Asia dan Timur Tengah memilih Malaysia sebagai destinasi pendidikan tinggi mereka. Sekarang angka pendaftaran sudah mencapai 93 ribu mahasiswa yang memilih berbagai program studi yang mereka minati.

Akibatnya, negeri jiran kita ini meraup banyak keuntungan finansial dari limpahan pendaftaran mahasiswa asing tersebut. Diperkirakan sektor pendidikan tinggi akan menyumbang antara 34 sampai 61 miliar ringgit kepada income per kapita nasional menjelang 2020. Malaysia telah sangat berhasil dalam menjaring calon mahasiswa asing dan telah memposisikan lembaga-lembaga pendidikan tingginya sejajar dengan banyak perguruan tinggi kelas dunia. Sebagai buktinya, Malaysia sekarang berada pada peringkat ke 10 dunia menyangkut pemilihan tujuan atau tempat pendidikan tinggi bagi calon mahasiswa asing berdasarkan the World Education Service Report.                                   

Di samping usaha pemerintah yang sungguh-sungguh dalam menjadikan Malaysia sebagai pusat pendidikan tinggi dunia (international education hub), berdasarkan informasi yang ada, paling tidak ada delapan faktor lain yang menjadi daya tarik bagi mahasiswa asing untuk mendaftarkan diri ke berbagai perguruan tinggi di Malaysia.

Faktor-faktor tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut. Pertama, universitas-universitas ternama di dunia membuka kampus cabang di Malaysia (Twinning Program) yang menawarkan jurusan-jurusan yang terakreditasi secara internasional. Sebaliknya, saat ini pemerintah Malaysia sedang memikirkan untuk membuka kampus cabang beberapa universitas terkemukanya di luar negeri.

Kedua, pesona alam Malaysia yang unik dengan lingkungan yang aman dan stabilitas politiknya yang kondusif membuat warga asing nyaman tinggal di negeri ini.

Ketiga, Malaysia merupakan sebuah negara yang multi budaya dan agama. Keadaan ini mencerminkan kejayaan masa lalu dimana kawasan ini merupakan arus perdagangan rempah-rempah. Akibatnya, di kawasan ini terjadi perpaduan budaya seperti budaya Arab, Cina, India, Portugis, Belanda dan Inggris. Pada masa sekarang penduduk Malaysia yang kurang lebih terdiri dari 70% Melayu, 20% Cina dan 10% India hidup rukun dan harmonis dengan keunikan budaya mereka masing-masing. Mungkin karena perpaduan tiga ras Asia ini Malaysia kerap mempromosikan wisatanya dengan menggunakan istilah truly Asia. Jadi, karena faktor historis dan kenyataan sekarang tidak mengherankan kalau Malaysia menjadi destinasi dunia termasuk pendidikannya.

Keempat, serangan teroris 11 September 2001 yang merobohkan gedung WTC (World Trade Center) di New York Amerika Serikat disinyalir juga turut memberi kontribusi terhadap bertumpahnya mahasiswa asing khususnya yang berasal dari Timur Tengah terutama Iran ke berbagai perguruan tinggi ternama di Malaysia.

Kelima, tingkat penggunaan bahasa Inggris di Malaysia pada umumnya dan sebagai bahasa instruksional di kebanyakan program yang ditawarkan di perguruan tinggi khususnya juga memberi pengaruh besar terhadap kedatangan mahasiswa asing ke Malaysia. Untuk melengkapi staf pengajar lokal universitas-universitas disana juga mengontrak profesor-profesor asing untuk mengajar pada program-program yang diperlukan.

Keenam, sungguhpun  menurut Times Higher Education, sebuah lembaga internasional yang setiap tahunnya melakukan survey untuk perangkingan universitas-universitas terkemuka dunia, tahun ini tidak satu pun universitas Malaysia termasuk ke dalam daftar 400 besar, universitas-universitas di Malaysia telah sering mendominasi kategori 300 besar dunia. Bahkan University of Malaya sering masuk daftar 200 besar dunia. Hal ini mungkin juga memberi andil tersendiri bagi pertimbangan calon mahasiswa asing dalam memilih tempat merajut masa depan mereka.

Ketujuh, biaya pendidikan yang relatif murah dibandingkan dengan biaya untuk program yang sama di universitas-universitas di Amerika, Australia dan Eropa juga telah merubah pikiran calon mahasiswa asing untuk memilih yang lebih murah dengan kualitas yang tidak jauh berbeda.

Terakhir, kebetulan secara geografis Malaysia berdampingan langsung dengan Indonesia yang berpenduduk mayoritas Muslim, dan Malaysia sendiri merupakan sebuah negara Islam modern yang sedang mempromosikan Islam moderat, menjadikannya  tempat menuntut ilmu yang menarik bagi kebanyakan calon mahasiswa Muslim yang berasal dari berbagai belahan dunia.

Di antara berbagai faktor di atas, usaha pemerintah yang serius untuk memajukan pendidikan merupakan penyebab yang sangat signifikan terhadap majunya pendidikan di Malaysia terutama pendidikan tinggi. Mungkin kalau ada kementrian yang paling penting bagi pemerintah Malaysia itulah kementrian yang mengurus pendidikan. Bayangkan, perdana menteri Malaysia sekarang Datuk Sri Najib Bin Razak merupakan mantan menteri pendidikan nasional negeri itu. Sekarang menteri pendidikan nasional Malaysia dijabat langsung oleh wakil perdana menteri, Datuk Sri Mahyeddin Yasin. Barang kali jarang di dunia ini negara yang menteri pendidikannya dijabat oleh tampuk pimpinan negara seperti Malaysia. Mengingat pentingnya peran pendidikan tinggi, di Malaysia pendidikan tinggi diurus secara khusus oleh sebuah kementrian pendidikan tinggi.

Kalau pemerintah kita memiliki tekad untuk memajukan pendidikan, dengan potensi yang kita miliki, Insy Allah kita juga berpeluang menjadi sebuah kawasan yang akan menjadi internasional education hub, pusat pendidikan dunia.[*]

*Penulis adalah dosen pada Fakultas Tarbiyah IAIN Ar-Raniry dan Phd student pada Faculty of Education, University of Malaya, Malaysia.

Komentar