Vivi Anggraini Alamsyah, Caleg Partai Nasional Aceh (PNA) gagal melenggang jadi wakil rakyat. (VIVAnews/Zulfikar Husein)

Lhokseumawe – Teror dan konflik yang terjadi saat menjelang Pemilu di Aceh terbukti berpengaruh dalam perolehan suara pada 9 April lalu. Salah satunya terjadi pada mantan Putri Pariwisata Indonesia 2010, Vivi Anggraini Alamsyah. Berdasarkan hasil rekapitulasi partainya, suara yang diperoleh tidak mampu mengantarkannya menjadi anggota dewan.

Vivi yang menyabet gelar Putri Intelegensia pada kontes Putri Pariwisata Indonesia 2010 ini gagal dapat kursi dewan karena sempat menjadi sasaran teror. Saat itu, spanduk Caleg Dewan Perwakilan Rakyat Kota (DPRK) Lhokseumawe ini raib, diturunkan orang tak dikenal.

“Waktu itu lagi panas-panasnya politik, baru pasang tiga spanduk, cuma dua hari bertahan, tiba-tiba hilang,” ujar Vivi, caleg Partai Nasional Aceh (PNA) ini kepada VIVAnews, Rabu, 16 April 2014.

Sejak kejadian tersebut ia menjadi takut ancaman datang langsung ditujukan kepadanya, sebagaimana terjadi terhadap salah seorang caleg perempuan lainnya yang berasal dari satu partai. Kala itu, rumah caleg tersebut ditembaki dan dilempari batu oleh orang tak bertanggung jawab.

Ia juga sempat mendapat arahan dari pimpinan partainya agar tidak berkeliaran pada malam hari mengantisipasi terjadinya hal yang tidak diinginkan. Kata dia, gara-gara kejadian tersebut, akhirnya ia hanya mencetak kartu nama dan dibagikan kepada keluarga dan teman-temannya.

Selain itu, ia juga mengaku gagal karena tidak melakukan ‘serangan fajar’, sementara banyak caleg yang lain sibuk melakukan kecurangan tersebut menjelang hari pemungutan suara. “Itu membuktikan bahwa politik di Indonesia ini belum bersih,” kata dia.

Vivi mengaku sangat menyayangkan Pemilu di Aceh diwarnai aksi teror dan konflik. Menurutnya, hanya satu persen yang digunakan untuk keberhasilan meraih suara rakyat, selebihnya sebanyak 99 persen dilakukan dengan aksi, baik berupa ancaman maupun kekerasan secara langsung.

Namun, kekalahan tidak membuat semangantnya surut. Duta wisata Aceh tahun 2009 ini mengaku mendapat hikmah besar pernah menjadi caleg. Ia tidak mau meniru cara-cara yang tidak baik untuk mendapati hati rakyat.

“Penyimpangan yang terjadi bisa menjadi acuan bagi saya agar kedepannya tidak pernah ditiru. Kemudian satu hal lagi, saya harus berbuat lebih banyak lagi, terutama aksi pencerdasan kepada teman-teman generasi muda di Lhokseumawe ini,” katanya.

Meski gagal menjadi anggota dewan, Vivi mengaku tetap semangat menjalani aktivitasnya sehari-hari. Saat ini, gadis hitam manis tersebut tengah giat-giatnya membantu Pemerintahan Kota Lhokseumawe, Aceh, mempersiapkan program Visit Lhokseumawe Year 2015.

“Ke depan saya akan terus melakukan aksi-aksi pengabdian, termasuk membantu Pemkot mempersiapkan Visit Lhokseumawe. Saat ini masih mencari koneksi dengan seluruh provinsi. Saya dan teman-teman sedang berupaya agar visit daerah bisa sampai ke seluruh pelosok Indonesia,” katanya lagi.

[viva.co.id]

Komentar