[dropcap style=”inverted”]S[/dropcap]eorang kanak perempuan menarik-narik baju ibunya. Perempuan paruh baya itu berusaha melepaskan pegangan si anak. Dan, agaknya kuat nian tarikan si anak. Biarkan ia tutupi sebisanya, tapi wajahnya tak bisa berbohong: ada rasa rasa jengkel di sana. Perempuan itu pun sampai-sampai harus duduk-diang di depannya.

Tapi si anak rupanya masih juga tak mau patuh. Sekuatnya ia menggeleng. Si ibu terus merayu. Rona sedih terpancar dari wajah kecil itu, ”Silop brök nyan hai, Nyak/Sandal jelek itu, Nak,” jelas si ibu.

“Bloe… bloe… bloe,” rajuk si anak. Kaki kecil itu mulai gelinjang. Telunjuk kanannya menunjuk sandal merah.
“Murah ini, Bu,” sahut abang penjual sandal. Tatapan sekilas si ibu ke si penjual, saya pun tahu, ibu itu sangat marah.

Dibopongnya sang anak. Ia tak peduli rontaan si anak di pundaknya. “Bloe, Mak. Mak. Mak,” jerit si kecil.
Saya ikut terpesona dengan kejadian si kecil yang minta dibelikan sandal pada orang tuanya.

“Siapa tuh, Bang,” tiba-tiba si pedagang sandal berbisik di samping saya.

Saya sedang berusaha sekuat-kuatnya untuk tidak menjadi penipu lagi seperti dulu. “Orang yang pernah saya cintai ketika SMP,” kata saya sesingkat-singkatnya. Ia terbatuk-batuk dan seperti berusaha menahan senyum.

“Cantik, ya?” ujar si pedagang.

“Ya. Meskipun sudah punya anak tiga,” jelas saya.

Beginilah suasana di pasar malam di Kota Meureudu, Pidie Jaya, Sabtu (28/4) malam. Di antara senyum si anak, si ibu, dan si bapak, beberapa dara sedang menunggu dituliskan namanya di atas sepotong kaca.

“Rp300 ribu, paling sedikit semalam,” terang Adi, 27, salah seorang penjual. Di samping menulis nama di potongan kaca, ia juga menjual pakaian dalam perempuan.

“Ih, abang itu matanya kok lihat kutang aja dari tadi,” tahu-tahu dara cantik di dekat saya berkata. Si lelaki yang dimaksud langsung angkat kaki.

“Mau beli buat yayangnya mungkin,” kata yang punya lapak. Saya ikut tersenyum-senyum. Dua dari lima dara itu mulai melirak-lirik ke arah saya. “Saya pesan ini, Dek. Gak beli kutang,” kata saya sambil menggerakkan dagu ke arah kaca yang sedang dituliskan nama saya.

“Kaca-kaca ini saya cari di toko bangunan. Kaca rusak saya cari, jadi dikasih cuma-cuma, gratis,” ujar Adi kira-kira dua jam kemudian. Ternyata menulis nama di atas potongan kaca yang dibentuk aneka rupa tidak hanya di arena pasar malam, Adi juga mengunjungi sekolah-sekolah di seputar Kota Meureudu.

“Di sana setengah hari bisa dapat Rp400 ribu,” ujarnya. Sementara itu, lagu-lagu Aceh murahan riang-gembira di arena pasar malam makin memusingkan saya. Di sana sini jerit senang-teriak kanak yang merengut minta dibelikan sesuatu saling mengatasi.

Para pengunjung ada yang malu-malu menanyakan harga pakaian dan sandal. Ada yang lincah menimbang harga dengan penjual.

“Murah-murah, Bang,” kata Hasliani, 21, warga Pante Raja. “Ini buat ponakan saya. Harganya cuma Rp13 ribu. Abang udah beli buat anak abang?”

“Abang belum kawin, Dek,” jelas saya.

“Belum dua, ya, Bang,” tukas temannya sambil cekikikan.

Khairizal, 30, salah seorang penjual, mengabari perihal harga sewa lapak per tenda Rp300 ribu selama pasar malam diadakan, selama 21 April-3 Mei 2012. Hitungannya empat meter per tenda. “Itu dianggap dua muka, 6 ratus (ribu),” tunjuk ke tenda di seberang yang menjual pakaian batik.

“Yang seperti dia (si pelukis nama_red), Rp150 ribu,” kata Khairizal.

Seorang pengunjung ditawarinya pin bendera Partai Aceh, saya ikut tertawa mendengar orang itu beralasan, “Hana mangat tapakek nyan. ’Oh dikalon lé gôb, sang kön tapeurôh-rôh droeteuh jeut keu awak GAM ban awak GAM ka meunang/Tak nyaman pakai itu. Kalau dilihat oranng, seakan-akan orang GAM ketika GAM sudah menang.”

“Abang gak beli?” tanya Khairizal dalam bahasa Indonesia logat Aceh, “Lông lagèe gobnyan sit/saya seperti dia juga, he he,” jawab saya.

Di samping dijual pakaian, arena pasar malam juga dilengkapi permainan kolam bola, permainan kuda-kudaan, dan kereta api.

“Lima ribu. Waktu gak ditentukan. Bisa main sepuas-puasnya,” kata Adi mengenai kolom bola saat saya kembali lagi ke lapaknya. Jam sudah menunjukkan pukul setengah satu dini hari.

Laki-laki kelahiran Lampoh Saka, Pidie, itu juga mengatakan belum lama bergabung dengan tim pasar malam.

“Kami ada ketuanya. Soal pilih memilih gak ada ketentuannya. Kalau sudah gak cocok atau gak mau lagi pilih, ya, pilih lain lagi. Tapi tiap kami harus mau dijadikan sebagai ketua tim pasar malam,” jelas Adi sambil menyesap rokoknya dalam-dalam.

Kepada saya Adi juga mengutakan bahwa tim pasar malam terdiri dari para pedagang sejumlah daerah di Aceh. “Ada yang dari Matang, Bireuen, Lhokseumawe, Pidie, bahkan dari wilayah Barat-Selatan juga ada,” tambah laki-laki berbadan langsing itu.

Orang mulai tinggal satu dua di arena pasar malam. Musik masih tetap yang murahan. Di antara keinginan pulang ke rumah atau duduk mengobrol dengan para sahabat, telpon genggam saya bergetar tanda ada sms yang masuk. Saya rogoh saku celana. Saya tekan beberapa tuts. Ternyata sms itu dikirimkan oleh orang yang pernah membuat saya bahagia.[Edi Miswar]

Komentar