Berbagai langkah strategis dilakukan Pemerintah Aceh untuk mengatasi krisis listrik di Aceh. Salah satunya melalui pengelolaan dan pemanfaatan energi panas bumi Seulawah untuk pembangkit listrik.

Dalam peradaban modern, energi listrik menjadi kebutuhan mendasar manusia, baik untuk kegiatan industri, kegiatan komersial maupun dalam kehidupan sehari-hari rumah tangga. Energi listrik dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan penerangan dan juga proses produksi yang melibatkan barang-barang elektronik dan mesin industri.

Sayangnya, persolan kelistrikan masih mendera Aceh hingga sekarang ini. Kondisi suplai arus listrik PLN yang sering ‘putus-nyambung’ menjadi tantangan terbesar Pemerintah Aceh untuk segera mengatasinya. Karena itu, berbagai langkah strategis dan simultan pun dilakukan, termasuk melalui pemanfaatan sumber energi panas bumi yang dimiliki Aceh.

Sebagai langkah awal pemenfaatan sumber energi tersebut, Pemerintah Aceh melakukan penandatanganan Joint Venture (Kerjasama) pengelolaan energi panas bumi Seulawah untuk pembangkit listrik, yang dilakukan oleh Perusahaan Daerah Pembangunan Aceh (PDPA) dengan PT Pertamina Geothermal Energy, Senin (31/07/2017).

Penandatanganan yang berlangsung di ruang kerja Gubernur Aceh itu dilakukan oleh Direktur PDPA Muhsin, Direktur PT Pertamina Geothermal Energy Irvan Zainuddin, serta Gubernur Aceh Irwandi Yusuf.

Join Venture adalah kerjasama beberapa pihak untuk menyelenggarakan usaha bersama dalam jangka waktu tertentu. Dalam hal ini, PT Pertamina melalui anak perusahaannya PT Pertamina Geothermal Energy, PDPA, serta Pemerintah Aceh membentuk PT Geothermal Energy Seulawah (GES) untuk mengelola pembangkit listrik tenaga panas bumi di Seulawah, Aceh Besar.

Gubernur Aceh Irwandi Yusuf mengatakan proyek ini sudah ditunggu-tunggu sejak enam tahun lalu. Ia berharap, proyek tersebut dapat diselesaikan dalam waktu 3,5 tahun atau maksimal 4 tahun ke depan, sehingga krisis listrik di Aceh dapat segera tertangani. “Semoga dengan penandatanganan ini gerak maju listrik di Aceh jangan ada kendala lagi,” ujar Irwandi.

Menurut Irwandi, masyarakat Aceh sudah cukup lama hidup dalam keterbatasan listrik, bahkan buruknya listrik di Aceh selama ini juga berdampak pada terhambatnya sektor investasi. Dijelaskannya, beban puncak kebutuhan listrik di Aceh berkisar 325 megawatt (MW), sehingga untuk melayani kebutuhan dengan baik, idealnya PLN memiliki cadangan energi 50 persen dari kebutuhan itu, atau sekitar 500 MW. “Namun kenyataannya, saat ini energi yang tersedia hanya 340 MW,” sebut gubernur.

Irwandi juga menjelaskan, proyek geothermal ini sebenarnya telah mulai digagas pertama kali pada tahun 2008. Gagasan itu mendapat sambutan baik dari Pemerintah Jerman, yang pada 2009 bersedia menghibah dana sebesar 10 juta Dolar. “Jerman tergerak menghibah dana sebesar itu karena Pemerintah Aceh saat itu memprakarsai pembangunan berbasis lingkungan yang dinamakan ‘Aceh Green’,” katanya.

Namun sayang, proyek tersebut belum sempat terlaksana hingga masa tugasnya sebagai Gubernur Aceh berakhir pada 2012 lalu. Irwandi berharap, dengan dimulainya pemanfaatan energi panas bumi Seulawah ini, kebutuhan listrik di Aceh dapat segera dipenuhi.

Dalam pengerjaannya nanti, sumur-sumur yang dibor diharapkan benar-benar dapat mengeluarkan energi panas sebagaimana diharapkan, sehingga modal yang terpakai benar-benar tepat guna. “Perkiraan sementara, panas bumi Seulawah itu punya potensi hingga 165 MW. Untuk tahap awal Pertamina dan PDPA akan mencari dulu 55 mega watt,” katanya.

Irwandi juga berharap, dalam pengerjaannya nanti, energi panas bumi tersebut dapat ditemui pada kedalaman yang standar, sehingga akan membutuhkan modal yang lebih sedikit. Ia mencontohkan seperti di Sabang yang energi panas buminya bisa didapat pada kedalaman 1.200 meter. “Semoga ini juga terjadi di Seulawah, sehingga tidak lama lagi kita akan menikmati listrik yang cukup,” kata Irwandi.

Sementara itu, Direktur PT Pertamina Geothermal Energy Irvan Zainuddin mengatakan pihaknya akan berusaha semaksimal mungkin untuk dapat menyelesaikan proyek tersebut dalam tenggat waktu yang disebutkan Irwandi Yusuf.

Sebelumnya, PT Pertamina (Persero) telah ditunjuk sebagai pemenang lelang Wilayah Kerja Seulawah Agam di Aceh yang diperkirakan memiliki potensi sampai dengan 165 MW. Pertamina telah menugaskan PGE untuk memenuhi persyaratan lelang dengan mendirikan perusahaan patungan bersama BUMD Aceh dan selanjutnya perusahaan yang dibentuk tersebut akan melakukan eksplorasi dan eksploitasi Panas Bumi berdasarkan Ijin Panas Bumi (IPB) yang akan diterbitkan oleh Pemerintah c.q. Menteri ESDM.

Dengan perjanjian ini, komposisi kepemilihan saham untuk badan usaha patungan antara PGE dan PDPA adalah 75% PGE dan 25% untuk PDPA. Untuk tahap awal direncanakan survey dan eksplorasi untuk menyusun pembangunan PLTP unit I dengan kapasitas sekitar 55MW dengan komitmen investasi untuk tahap eksplorasi sekitar US$40 juta sesuai dengan dokumen penawaran Pertamina dalam lelang WK Seulawah.

“Bagi kami, kerjasama antara PGE dan PDPA tidak sekadar upaya pemenuhan ketentuan pemerintah melainkan juga menjadi komitmen kuat Pertamina untuk maju bersama membangun perekonomian Aceh dengan penyediaan energi yang cukup, dalam hal ini pengembangan potensi panas bumi yang cukup besar di Aceh. Selanjutnya, PGE dan PDPA segera merealisasikan secara konkret proyek panas bumi Seulawah Agam sesuai dengan komitmen investasi kepada pemerintah,” kata Vice President Corporate Communication Pertamina Wianda Pusponegoro.

Wilayah kerja panas bumi Seulawah Agam terletak di Kabupaten Aceh Besar, mencakup Kecamatan Seulimeum, Krueng Raya dan Indrapuri. Lokasi proyek dapat berjarak sekitar 50 km ke arah tenggara dari Kota Banda Aceh.

DUKUNGAN DPRA
Wakil Ketua DPRA Sulaiman Abda mengatakan DPRA mendukung penuh proyek geothermal Seulawah untuk mengatasi krisis listrik di Aceh. Dia berharap, proyek tersebut segera direalisasikan oleh pihak terkait agar Aceh tidak lagi kekurangan arus listrik.

“Kami DPRA siap mendukung penuh proyek geothermal Seulawah ini. Tahapan-tahapan itu harus segera dikerjakan. Jangan bayangan-bayangan saja,” sebut Sulaiman Abda.
Langkah strategis tersebut tentu tidak akan bermakna manakala tidak adanya kerjasama antara pihak pemerintah, perusahaan pelaksana, masyarakat, dan pihak-pihak terkait lainnya dalam menangani krisis energi listrik di Aceh. Oleh karena itu, kerjasama antara pihak-pihak tersebut amatlah penting. Sehingga, proyek Geothermal Seulawah segera memberikan manfaat bagi masyarakat Aceh secara keseluruhan.[***]

Komentar