Masjid Istiqlal (Masjid Soeharto) di Sarajevo. (IST)

Sarajevo – Bagi publik Indonesia Bosnia memang letaknya sangat jauh. Dia ada di belahan wilayah Benua Eropa paling selatan.

Berbatasan dekat Turki tapi tak terlalu jauh dari Jerman. Negara ini adalah pecahan Yugoslavia. Meski penduduknya berbudaya ala ‘bule’ Eropa, warga Bosnia adalah umumnya Muslim.

Negara ini sangat terpengaruh spirit Kekhalifahan Turki Usmani (Ottoman). Masjid dan budaya Turki terasa kental di sana. Negara ini beribu kota di Sarajevo.

Terkhusus bagi Muslim Indonesia sebenarnya punya kenangan dan emosi di sana. Hal itu terjadi ketika di negara itu pecah akibat perang yang disertai genosida di wilayah Balkan itu.

Hingga kini kunjungan Presiden Soeharto ke Sarajevo pada awal 1990-an, saat kota itu dikepung Serbia menjadi kenangan pengikat dan lestari sampai sekarang.

Kisahnya bermula saat Presiden Soeharto nekad pergi ke negara yang saat itu tengah dilanda pembantaian yang dahsyat. Sebab dua hari sebelumnya pesawat terbang utusan khusus PBB asal Jepang ditembak jatuh.

Namun Soeharto tetap datang ke ibu kota Bosnia, Sarajevo. Komandan Paspampres kala itu, Sjafri Samsoedin, menjadi saksi ganasnya perang, sekaligus keberanian Soeharto berangkat ke sana.

Ketika hendak mendarat di Bandara Sarajevo yang diapit dua bukit, Sjafrie melihat senjata 12,7 mm terus bergerak mengikuti pesawat yang ditumpangi orang nomor satu Indonesia saat itu.

Untungnya, selama kunjungan sejata anti pesawat terbang tersebut tak jadi digunakan. Alhasil, kunjungan Soeharto di Sarajevo selama enam jam sukses.

“Mirip peristiwa enam jam di Jogja Pak,” kata Sjafri kala diajak berbincang Presiden Sohearto mengenai suasana kunjungan tersebut.

Memang saat perang, lapangan terbang Sarajevo dikuasai dua pihak. Pihak Serbia menguasai landasan dari ujung ke ujung, sementara kiri-kanan landasan dikuasai Bosnia.

“Pak Harto turun dari pesawat dan berjalan dengan tenang. Melihat Pak Harto begitu tenang, moral dan kepercayaan diri kami sebagai pengawalnya pun ikut kuat. Presiden saja berani, mengapa kami harus gelisah,” beber Sjafrie.

Setelah kunjungan dan sesudah terjadi perdamaian, Presiden Soeharto berinisiatif mendirikan sebuah masjid disana. Maka kemudian ditunjuklah arsitek kondang asal Bandung, Ahmad Nu’man.

Lewat rancangannya kemudian terwujud sebuah masjid dengan dua menara yang ada di depannya. Masjid ini berdiri megah di tengah Sarajevo dan berada di sebuah lapangan yang luas.

Masjid ini diberi nama ‘Masjid Istiqlal’, namun warga di sana banyak juga yang menyebutnya sebagai Masjid Soeharto. Maka bila anda ke Bosnia dan mampir ke Sarajevo singgahlah ke masjid tersebut.

Isi masjid ada sumbangan mimbar dan berbagai ukiran kayu jati asal Jepara dari Presiden BJ Habibie. Dan pada prasasti pendirian masjid tertulis nama Presiden Megawati Soekarnoputri.

”Bagi orang Bosnia lazimnya masjid di sana hanya punya satu buah menara saja. Tapi oleh Pak Ahmad Nu’man kelaziman ini diubah. Menara masjid itu dibuat dua buah sebagai lambang kokohnya hubungan dua negara: Bosnia dan Indonesia,” kata Edin Hidalick, warga Bosnia yang kini tinggal dan mengubah status menjadi WNI.

Sumber: Republika

Komentar