Bandeng tampa duri. Foto Joniful Bahri
Bandeng tampa duri. Foto Joniful Bahri

Daging ikan bandeng semakin lezat setelah dibuang durinya, usaha rumahan ini pun sudah merambah pasar Medan.

Cuaca panas di Gampong Pante Paku, Kecamatan Jangka, Bireuen, tidak menghentikan warga memanen padi. Angin menghembus dari persawahan cukup membuat dingin.

Saat Pikiran Merdeka memasuki satu lorong kecil desa itu, aroma ikan tercium begitu terlihat famplet bertuliskan “Bandeng Tandu Hana Duroe, UD Pangkai Na” di depan sebuah rumah yang sederhana berukuran 6 x 7 meter.

Di situlah, Nurmasyitah dibantu suaminya Jumain, menjalankan usaha ikan bandeng tanpa duri (tandu). Di ruang dapur rumahnya, ia mulanya mengembangkan usaha ikan bandeng duri lunak (presto). Per hari menghabiskan 20 kg bandeng dari usaha tambak warga sekitar.

“Tetapi produski tersebut tidak berjalan dengan baik, sehingga beralih ke bandeng tanpa duri,” tutur Nurmasyitah.

Baca: Bandeng Tampa Duri Menu Favorit Luar Negeri

Hingga empat tahun pascatsunami, pada 2008, dia mengikuti pelatihan pengolahan ikan bandeng tandu yang digelar oleh Food and Agriculture Organization of United Nation, yang membantu peningkatan kapasitas masyarakat korban bencana di bidang makanan dan agrikultural.

Pulang dari pelatihan itu, Nurmasyitah bersama suami dan keluarganya, komit mengembangkan usaha ikan bandeng tandu. Didukung oleh lingkungan desanya yang memiliki banyak tambak ikan bandeng milik warga.

Pelan tapi pasti. Dapurnya makin beraroma. Bermodal ilmu dan bantuan peralatan dari NGO serta Dinas Kelautan dan Perikanan Bireuen, produk ikan kemasan Bandeng Tandu Hana Duroe terus berkembang pesat.

Hal itu pula yang mengantarkan Nurmasyitah, selaku Ketua Kelompok Usaha Dagang (UD) Pangkai Na ini ke berbagai daerah untuk mengikuti pelatihan pengembangan ikan bandeng tanpa duri, semisal ke Jakarta pada 2011, Bandung pada 2013, dan Semarang setahun kemudian.

Komentar