20240429 172307
Pj Gubernur Aceh Bustami berfoto bersama usai rapat membahas inflasi di Takengon, Aceh Tengah, Senin, 29 April 2024 | Foto: Humas Aceh

PM, Takengon – Penjabat (Pj) Gubernur Aceh Bustami Hamzah menekankan pentingnya komitmen para pihak terkait untuk meningkatkan sistem ketersediaan pangan, khususnya melalui peningkatan kapasitas pertanian komoditas pangan strategis dalam upaya mengendalikan inflasi di Aceh.

Selain itu koordinasi antara berbagai lembaga dan instansi terkait, khususnya Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dan Satuan Tugas Pangan juga disebut merupakan kunci keberhasilan dalam mengatasi tantangan pengendalian inflasi.

Hal itu disampaikan Bustami saat berbicara pada High Level Meeting TPID Provinsi Aceh dan Gerakan
Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) di Takengon, Senin, 29 April 2024.

Acara yang digelar Bank Indonesia Perwakilan Aceh itu juga dihadiri Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) Zulfadli, sejumlah Penjabat Bupati dan Walikota, hingga para Kepala Satuan Kerja Perangkat Aceh.

“Saya berharap semua pihak punya niat yang tulus untuk sama-sama bekerja mengatasi berbagai tantangan, khususnya dalam mengendalikan inflasi,” kata Bustami.

Secara khusus Bustami mengingatkan para Penjabat Bupati dan Walikota di berbagai daerah di Aceh untuk saling berkoordinasi dalam mengatasi persoalan inflasi.

“Di saat bersamaan, inovasi dan adopsi teknologi dalam sektor pertanian, harus terus didorong. Penggunaan teknologi modern, seperti sistem irigasi cerdas dan pemantauan pertanian berbasis sensor, dapat membantu meningkatkan produktivitas dan efisiensi dalam pertanian,” kata Bustami.

Lebih lanjut, Bustami mengatakan, tantangan lainnya yang harus dihadapi bersama para pihak adalah target inflasi tahun 2024 yang semakin ketat dengan batasan maksimum inflasi menjadi hanya 3,5%.

Bustami mengingatkan hal ini perlu dikoordinasikan secara serius mengingat kondisi inflasi tahun yang menjadi pembanding cukup rendah, sehingga menjaga angka inflasi agar tetap berada dalam batasan baru tersebut akan menjadi tantangan yang lebih besar.

“Saat ini angka inflasi bulanan Aceh lebih rendah dibandingkan inflasi nasional yang berada pada angka 0,52% (bulan ke bulan), akan tetapi pertumbuhan inflasi tahun ke tahun Aceh masih berada di atas angka nasional yang tercatat pada posisi 3,05 (tahun ke tahun),” kata Bustami.

Selain itu, lanjut Bustami, ruang fiskal APBA yang terbatas tahun ini merupakan kendala yg harus diantisipasi dengan kolaborasi dan sinergi antar stakeholder, termasuk perusahaan melalui program CSR. Terkait hal itu, dukungan dari berbagai pihak dikatakan akan membantu mengatasi keterbatasan anggaran dan meningkatkan efektivitas upaya pengendalian inflasi.

“Untuk itu saya mengajak semua pihak terlibat aktif dalam proses ini. Mari kita bersama sama mencari solusi yang terbaik dan merumuskan langkah-langkah strategis yang dapat kita implementasikan untuk mencapai target inflasi yang telah ditetapkan. Dengan kerja keras, kolaborasi yang solid, dan komitmen yang tinggi, saya yakin kita dapat mengatasi tantangan ini dan membawa Aceh menuju masa depan yang lebih cerah,” kata Bustami.[*]