Pemimpin Iraq Saddam Hussein. (AFP)

Jenewa – Kuwait menerima ganti rugi 270 juta dollar AS, sekitar Rp 3,7 triliun, setelah invasi Irak yang terjadi 1990 silam, demikian keterangan PBB.

Kompensasi tersebut diberikan untuk menyelesaikan proses pemulihan setelah perang selama lebih dari satu dekade sejak kematian Pemimpin Irak, Saddam Hussein.

Komisi Ganti Rugi PBB dibentuk pada 1991, atau ketika AS memimpin koalisi internasional dan melakukan penyerbuan untuk mengusir Saddam Hussein dari Kuwait.

Komisi itu diberi tugas untuk memberi kompensasi sebesar 52,4 miliar dollar AS, atau Rp 732,7 triliun, bagi negara hingga individu yang mengalami penderitaan akibat invasi Irak.

Dilansir AFP Selasa (23/7/2019), dana untuk memberikan ganti rugi itu didapat dari penjualan minyak Irak maupun berbagai produk dari perut bumi negara itu.

Komisi itu dilaporkan menunda pembayaran selama 2014-2018 ketika terjadi krisis di Irak, atau saat kemunculan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).

Dengan pembayaran terakhir, komisi mengklaim sudah menggelontorkan 48,7 miliar dollar AS, atau Rp 681 triliun, dan menyisakan 3,7 miliar dollar, atau Rp 51,7 triliun.

Pembayaran itu terkait dengan klaim tunggal yang diajukan Kuwait Petroleum Corporation yang merugi akibat kerusakan pada aset ladang minyak mereka.

Sampai pembayaran ditunda pada 2014, Irak dilaporkan masih memegang teguh skema tersebut, namun apakah adil mengingat mereka juga tengah mengalami kesulitan ekonomi.

Adapun Saddam Hussein digulingkan oleh invasi AS pada 2003, dan kemudian dieksekusi tiga tahun setelahnya.

Sumber: Kompas

Komentar

AdvertisementPemutihan pajak Kenderaan di Aceh