WhatsApp Image 2021 01 12 at 17 39 09
Razali (48), tukat pijat tunanetra menerima bantuan yang dikumpulkan Komunitas Pijay Gleeh. (Foto/Ist)

PM, Banda Aceh – Sejumlah pegiat lingkungan dari Komunitas Pijay Gleeh menyambangi Razali (48 tahun), tukat pijat tunanetra di Gampong Meunasah Meulieng, Kemukiman Beuracan, Meureudu, Pidie Jaya pada Selasa lalu (12/1/2021).

Kunjungan ini dalam rangka menyalurkan sumbangan para donatur. Razali telah lama berprofesi sebagai tukang pijat bersama istrinya, Nurhayati (46 tahun) yang juga tuna netra. Mereka memiliki empat anak yang kini berusia sekolah.

Selain itu, kondisi rumah Razali juga memprihatinkan dan tidak layak huni. Hingga kini ia masih tetap menunggu realisasi janji pemerintah untuk membangun rumah layak untuknya.

Sementara itu Ketua Komunitas Pijay Gleeh, Fazli Husin mengatakan, hasil sumbangan uang para donatur itu dibelikan sejumlah kebutuhan rumah, seperti tempat tidur, bantal, sprei, handuk, lemari, kursi, cosmos, kipas angin, busa butterfly, dispenser, rak dispenser, dan tilam, termasuk minyak urut sebagai perlengkapan kerja bagi usaha pijat Razali bersama istrinya Nurhayati.

Selain itu, Komunitas Pijay Gleeh juga memberikan sembako dan uang tunai sebanyak Rp 1,6 juta untuk kebutuhan Razali dan Keluarganya, yang diserahkan oleh Teuku Saifullah, Sekjen Komunitas Pijay Gleeh.

Diketahui, dari hasil penggalangan dana Komunitas Pijay Gleeh berhasil mengumpulkan dana sebesar Rp 10 Juta. “Sebagian uang para donatur dibelanjakan peralatan pijat dan sisanya diberikan dalam bentuk tunai,” ungkap Fazli.

Ia juga mengatakan, “upaya ini bentuk kepedulian teman-teman relawan Komunitas Pijay Gleeh dan Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) Pidie Jaya terhadap keluarga penyandang disabilitas.” (*)

 

Komentar