WhatsApp Image 2020 12 23 at 19 06 46
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh melalui UPTD Museum Tsunami Aceh akan merilis film dokumenter Delisa, penyintas Tsunami 2004 silam. (Ist)

PM, Banda Aceh – Masih ingat dengan film layar lebar yang berjudul “Hafalan Shalat Delisa” yang pernah dirilis tahun 2011 silam? Kali ini Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh melalui UPTD Museum Tsunami Aceh juga akan merilis film dokumenter Delisa yang diangkat dari kisah nyatanya 16 tahun silam.

Gadis kecil penyintas tsunami 2004 silam tersebut, kini sudah meranjak dewasa dimana pada setiap 15 Desember merayakan hari jadinya.

Bagi Caca, sapaan akrab gadis yang bernama lengkap Delisa Fitri Rahmadhani, tahun 2020 menjadi ulang tahun yang istimewa, ia dapat merayakan bersama Ibunya berserta dengan Museum Tsunami Aceh, Layar Kaca Intervision, dan Teater MAE.

“Sekumpulan tim ini merupakan keluarga baru Caca setelah usai penggarapan film dokumenter drama tentangnya yang akan diputar pada gala premiere film berjudul Saya Delisa di Taman Budaya Aceh,” jelas Kepala UPTD Museum Tsunami Aceh, Hafnidar, Rabu (23/12/2020).

Gala premiere film ini, kata Hafnidar, dalam rangka peringatan 16 tahun tsunami dan gempa di Aceh. Dan kegiatan pemutaran film terbatas ini merupakan bagian dari agenda Museum Tsunami Aceh untuk mengenalkan sedikit kisah kepada masyarakat.

“Tentunya penayangan film ini yang dilakukan secara tertutup dengan penonton terbatas, memberlakukan protokol kesehatan termasuk registrasi daring ke pihak Museum Tsunami Aceh,” tutur Hafni.

Kisah Museum Tsunami dengan Delisa

Hafni juga menyampaikan, bahwa gagasan dibuatnya film dokumenter drama ini sebagai media dalam mengkomunikasikan edukasi bencana ke masyarakat.

“Sudah bertahun-tahun Museum Tsunami melakukan pengkajian tangible dan intangible terhadap Delisa, semakin intensif sejak 2019-2020 dengan dukungan DAK-Non fisik Kemendikbud melalui Disbudpar Aceh, yang akhirnya kini bisa terwujud lewat karya visual,” jelas Hafni.

Dengan terlibatnya banyak pihak dalam karya ini, kata Hafni, tentunya akan menambah koleksi karya orang-orang Aceh di Museum Tsunami yang bisa disuguhkan ke masyarakat dunia.

Hafni sangat menghargai usaha dan kerja sama semua pihak, dan berharap ke depan terus berlanjut dan dalam interpretasi karya yang beda-beda namun tetap untuk tujuan mulia, mengedukasi generasi-generasi Aceh pada khususnya dan anak-anak pada umumnya.

“Para kreatif dan aktor film juga membagi kisah suka duka dalam proses pembuatan dan banyaknya kendala yang mendapatkan solusi unik bahkan mengharukan,” lanjut Hafni.

Sebut saja, Maulana Akbar, sang sutradara mengungkapkan perkenalannya dengan Delisa beberapa tahun lalu sudah ia yakini suatu hari dia akan berkarya bersama Delisa, karena sosok Delisa sangat kuat menginspirasinya.

Tak hanya Akbar, ada juga Mustika Permana yang juga bagian dalam film tersebut, juga mengatakan beberapa tahun lalu dia sudah melihat foto Delisa kecil, tidak kenal sama sekali namun ia seperti melihat ada magnet dari tatapan tajam Delisa kecil, bahwa mereka akan bertemu nanti, dan ternyata benar.

“Banyak tokoh dengan kemampuan acung jempol dan totalitas luar biasa yang terlibat dalam film tersebut, film ini akan menambah deretan karya terbaik perfilman Aceh,” pungkas Hafni.

Delisa sendiri berharap, film ini tidak hanya tentang ia berbagi pengalaman bencana tapi tentang bagaimana semangat bangkit dan cinta orang-orang yang mendukungnya.

“Hal terpenting lainnya, Delisa ingin menyemangati para disabilitas. Tidak ada yang bisa membatasi disabilitas, apa yang terjadi karena kita istimewa, mari terus melakukan yang terbaik, mari dengan bebas mencari bahagia meskipun celahnya kecil, tetaplah semangat,” harap Caca.[]

Komentar