Pasangan Cabub Bireuen Khalili-Yusri didampingi petinggi PA, kautsar, Darwis Jeunieb (PM/Zoel Sopan)
Pasangan Cabub Bireuen Khalili-Yusri didampingi petinggi PA, kautsar, Darwis Jeunieb (PM/Zoel Sopan)

Tak puas hasil Pilkada karena jagoannya kalah, Boing menggugat Partai Aceh. Ia meminta Kautsar diganti dari posisi Sekum DPW PA Bireuen.

Sekelompok orang pada Jumat Sore pekan lalu menggeruduk Kantor Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Aceh Kabupaten Bireuen. Kedatangan puluhan pria yang diketahui mantan kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) wilayah Batee Iliek ini sempat membuat gaduh dan menjadi perhatian pengguna jalan. Pasalnya, posisi Kantor DPW PA Bireuen yang beralamat di Gampong Meunasah Blang, Kota Juang, ini bersisian dengan jalan nasional.

Kedatangan kelompok yang dipimpin oleh mantan Panglima Muda Daerah III Sufri Daud alias Boing ini ternyata sudah diketahui sebelumnya. Beberapa menit sebelum kelompok ini datang, Ketua PA/KPA Bireuen Darwis Djeunieb meninggalkan kantor. Padahal sebelumnya, Darwis diketahui tengah memimpin rapat internal.

Massa yang terlihat emosi ini berusaha mencari Tgk Darwis dan Kautsar. Keduanya merupakan Ketua dan Sekretaris PA Bireuen. Kautsar sendiri diketahui sedang berada di Banda Aceh.

Tak berhasil menemui keduanya, pandangan mereka tertuju kepada foto Kautsar yang terpajang di sebelah foto Tgk Darwis. Mereka melampiaskan kemarahannya dengan menghancurkan foto Kautsar. Untung saja, inventaris lainnya luput dari sasaran kemarahan massa yang dipimpin Boing ini.

Mereka akhirnya diterima oleh sejumlah pengurus PA. Dia ntaranya Ridwan Muhammad yang juga Ketua DPRK Bireuen, anggota Fraksi PA DPRK Bireuen Dahlan ZA dan Rusydi Mukhtar. Mereka ditemani Jafaruddin alias Nektu. Nektu sendiri adalah pengganti Boing sebagai Panglima Muda Daerah III yang ditunjuk Tgk Darwis pada akhir tahun 2016. Boing sebelumnya dipecat karena menolak mendukung bupati yang diusung PA yakni Khalili dan memilih mendukung bupati incumbent, Ruslan M Daud.

Meski telah dipecat, Boing tetap menggugat kepengurusan DPW PA Bireuen. Tuntutan utama mereka adalah meminta Dewan Pimpinan Aceh (DPA) Partai Aceh segera menggelar Musyawarah Luar Biasa (Muslub) DPW PA Bieruen. Menurut dia, Muslub itu perlu dilaksanakan karena PA Bireuen telah gagal memenangkan calon yang diusungnya.

“Selain itu, Muslub juga untuk menyatukan kembali para anggota PA/KPA yang telah tercerai berai dalam rangka menguatkan kembali Partai Aceh demi persiapan Pemilihan Legislatif (Pileg) 2019,” tutur Boing, seperti dikutip dari kabarbireuen.com.

Permintaan Boing Cs lainnya adalah pergantian Sekum PA DPW PA Bireuen yang kini dijabat Kautsar. Jika sebelum Pilkada lalu ia meminta Ketua KPA Tgk Darwis diganti, kali ini giliran Kautsar. “Apabila dalam waktu dekat ini tuntutan kami tak direspon, maka akan melakukan aksi yang lebih besar lagi,” ancam Boing.

Usai menyampaikan tuntutannya, massa lalu meninggalkan kantor PA Bireuen. Sementara itu, Ridwan Muhammad irit bicara. Ia mengatakan dirinya hanya sekedar menerima aspirasi dan akan menyampaikan kepada pimpinan.

Baca: Kautsar: Mereka Desertir dari Partai Aceh

Ketua Fraksi Partai Aceh, Kautsar, S.Hi.

“Mengenai tuntutan mereka, saya tak bisa putuskan karena menyangkut kebijakan partai. Biar Ketua Partai, Mualem (Muzakir Manaf) dan pengurus lain yang ambil keputusan,” tuturnya kepada wartawan.

Begitupun, secara pribadi Ridwan menyambut baik ajakan Boing Cs untuk  bersatu menguatkan PA menghadapi Pileg 2019. “Mengenai tuntutan Muslub, juga akan disampaikan kepada pihak partai. Namun keputusan akhirnya tentang hal itu tetap di tangan pimpinan,” sebutnya.

Bila sebelumnya Tgk Darwis yang menjadi sasaran kemarahan Boing, kali ini giliran Kautsar. Kautsar sendiri belum genap setahun menduduki jabatan Sekum menggantikan Muzakir Zulkifli yang juga membelot dari kebijakan partai.

IKHWAL PERPECAHAN

Cerita perpecahan PA Bireuen diawali dari sikap beberapa eks kombatan mendukung keputusan partai di Pilkadda 2017. Kisruh panjang yang menguras banyak energi para petinggi PA Kabupaten Bireuen, akhirnya  memutuskan tidak lagi mengusung Ruslan M Daud sebagai Cabup Bireuen di Pilkada 2017. Ketua DPA PA Muzakir Manaf justru merestui pengusungan Khalili dalam suksesi pemilihan Bupati Bireuen 2017-2022. Hal inilah yang membuat Boing Cs marah kepada Darwis Djeunieb.

Setelah terdepak dari PA, Ruslan yang kini menjabat Bupati Bireuen mengumpulkan ratusan pendukungnya di Komplek Meuligoe Residen, Rabu (20/7/2016) malam. Selain itu, ratusan anggota KPA juga sempat mendatangi kantor Dewan Perwakilan Wilayah (DPW) PA Bireuen. Mereka menolak penetapan H Khalili SH dan meminta PA tetap mengusung Ruslan di Pilkada Bireuen 2017.

Dimotori Boing yang kala itu  menjabat Panglima KPA Daerah 3 Wilayah Bate Iliek, mereka sepakat menyatakan menolak penetapan Khalili karena sebelumnya Ketua DPP PA Muzakir Manaf dan Ketua DPW PA Bireuen Tgk Darwis Djeunieb telah memutuskan untuk mengusung Ruslan M Daud berpasangan dengan Effendi sebagai calon bupati dan wakil bupati Bireuen peridoe 2017-2022.

Akhirnya, Boing dipecat oleh Darwis Djeunieb karena menolak mengikuti keputusan partai. Sementara Muzakir Zulkifli memilih mundur dari posisi Sekum.

Sementara itu, peristiwa Jumat pekan lalu sendiri menjadi konflik internal PA yang pertama seusai Pilkada. Hal ini terjadi setelah kedua pasangan calon yang didukung oleh mantan kombatan GAM ini gagal terpilih. Khalili yang diusung secara resmi oleh PA dalam Pilkada kalah telak. Begitupun bupati petahana yang didukung sebagian eks kombatan seperti Boing dan Muzakir Zulkifli juga keok.

SALAHKAN KAUTSAR

Selain permintaan pergantian Kautsar di Bireuen, sebelumnya Kautsar juga berulang kali disalahkan usai proses Pilkada selesai. Ketua Fraksi PA di DPRA ini diserang oleh kader dan simpatisan PA wilayah Pase. Menurut mereka, Kautsar telah membisikkan saran yang salah kepada Mualem—sapaan Muzakir Manaf.

Kala itu diketahui, setelah hasil hitung cepat Pilgub pada 15 Februari lalu, Mualem sempat bertemu dengan Irwandi yang dinyatakan pemenang Pilkada versi hitung cepat. Kautsar ikut menemani Mualem dalam pertemuan itu. Karena itu, pertemuan tersebut dinilai sebagian kader PA memang diatur oleh kautsar. Mereka meyakini, Mualem mampu dipengaruhi oleh Kautsar untuk bertemu Irwandi. Padahal, di tengah kondisi yang masih panas dan potensi pergesekan di akar rumput, pertemuan tersebut diapresiasi banyak kalangan.

“Mana mungkin saya mampu mempengaruhi Mualem. Apa mereka pikir Mualem itu orang bodoh yang bisa diatur-atur,” ujar Kautsar kala itu.

Namun, upaya mengkambinghitamkan Kautsar juga masih berlangsung hingga beberapa pekan ke depan. Di media sosial, sumpah serapah belum berhenti meski KIP talah memutuskan Irwandi-Nova sebagai pemenang Pilkada Aceh.

Seusai gugatan Pilkada di Mahkamah Konstitusi selesai, di mana gugatan Muzakir-Khalid tak diterima MK, Kautsar kembali dicibir. Pasalnya, Kautsar sempat menyampaikan Fraksi PA yang siap bekerja sama dengan gubernur terpilih untuk membangun Aceh.   

Ia tak menampik bahwa sejauh ini belum ada instruksi dari pimpinan PA apakah PA ke depan akan berkoalisi atau menjadi partai oposisi dari pemerintah Irwandi-Nova. Namun, jika merujuk pada pertemuan terbatas antara Irwandi dan Muzakir Manaf alias Mualem pada 22 Februari lalu, tak tertutup kemungkinan akan mendukung dan berkoalisi dengan pemerintahan Irwandi-Nova untuk periode 2017-2022.

“Kita siap berkoalisi dan siap juga menjadi oposisi. Ini tergantung instruksi dari pimpinan,” kata Kautsar kepada media lokal.

Statmen Kautsar ini pun memantik amarah kader dan pengurus partai. Wakil Ketua PA Kamaruddin Abubakar alias Aburazak menyatakan pernyataan itu tak mencerminkan sikap partai dan merupakan sikap pribadi Kautsar.

Seminggu berselang, Mualem akhirnya buka suara. Ia menyatakan hal senada dan mengaku akan memanggil Kautsar terkait pernyataan itu. Di sisi lain, Kautsar juga sudah mengakui sejak awal statmen tersebut merupakan pandangan pribadinya dan masih menunggu sikap PA terkait pemerintahan ke depan.[]