Patroli Gajah Conservation Response Unit (CRU) Sampoiniet. (PM/Oviyandi Emnur)
Patroli Gajah Conservation Response Unit (CRU) Sampoiniet. (PM/Oviyandi Emnur)

PM, Banda Aceh – Untuk mengatasi persoalan konflik antara gajah dengan manusia yang kerap terjadi di Aceh dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah disarankan membentuk kawasan ekosistem esensial.

Kawasan ekosistem esensial merupakan ekosistem di luar kawasan hutan konservasi. Kawasan tersebut berperan penting mendukung perlindungan keanekaragaman hayati baik flora maupun fauna.

Aktivis lingkungan, TM Zulfikar kepada Antara mengatakan, konflik antara gajah dengan manusia terus terjadi di Aceh karena pembukaan hutan yang merupakan koridor gajah.

Selama ini, masyarakat sering membuka kawanan hutan untuk ladang maupun kebun yang sebelumnya merupakan lintasan gajah. Parahnya lagi, kata dia, ladang tersebut ditanami dengan tanaman yang disukai atau makanan gajah, sehingga gangguan satwa dilindungi tersebut tidak terelakkan.

Kata Zulfikar, hal ini tidak terjadi jika ada pemahaman yang cukup di kalangan masyarakat itu sendiri.

“Maka solusinya dengan membuat kawasan esensial untuk koridor gajah,” kata TM Zulfikar, Minggu (17/1/2021).

Zulfikar menyarankan pemerintah bersama pemerintah daerah, baik provinsi maupun kabupaten kota, menetapkan kawasan esensial ini di wilayah-wilayah yang menjadi koridor gajah maupun satwa dilindungi lainnya.

“Tujuannya agar lintasan gajah mencari makan tidak terganggu oleh aktivitas masyarakat yang berkebun atau berladang. Di samping upaya-upaya lainnya mencegah konflik gajah dengan manusia,” kata TM Zulfikar.

Seperti diketahui, konflik gajah paling dominan terjadi di Aceh. Konflik ini kerap terjadi di beberapa daerah seperti di Kabupaten Bener Meriah, Kabupaten Aceh Timur, Kabupaten Pidie, Kabupaten Aceh Jaya, dan Kabupaten Aceh Selatan.

Sumber: Antara

Komentar