Hanya bermodal pinjaman dari gampong, dua pemuda ini membuka gerai jus murah. Setelah terseok-seok dan merugi, mereka kini memiliki 10 karyawan.

RIUH rendahnya penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil oleh beberapa instansi pemerintah pada pekan lalu hinggap juga ke telinga Irwan. Namun, pemuda asal Kembang Tanjong, Pidie, ini tak acuh. Ia sama sekali tak berminat mendaftar.

Irwan kini telah memilih jalan berbeda. Ia lebih memilih berkutat dengan gerai jus lima ribu rupiah. Bisnis ini didirikan Irwan pada 2014 lalu di Banda Aceh bersama karibnya, Muhar.

Ide usaha itu berawal saat Irwan masih di Sigli. Ketika itu ia sedang beristirahat siang. Di Kota Sigli saat itu telah ada gerai jus Rp5 ribu. Irwan juga pernah melihat gerai serupa di Beureuenun. Saat itu ia berpikir, kalau tidak ada untung mana mungkin ada yang mau menjualnya. “Karena tidak ahli dalam hal ini, jadi ajak kawan untuk mengelola bersama-sama,” ujar Irwan Kamis pekan lalu.

Namun, setelah mendapat ide itu, ia dan Muhar malah berencana membuka bisnis buah potong. Maka, dimulailah usaha tersebut. Modal awalnya, Irwan meminjam ke pihak gampong tempat ia berdomisili di Kembang Tanjong. Bulan pertama aparatur gampong meminjamkan Rp5 juta, bulan kedua Rp3 juta dan modal terakhir yang didapatkan Irwan Rp12 juta.

Kenyataan pahit harus diterima Irwan dan Muhar. Entah karena tak mempertimbangkan cuaca, bisnis buah potong itu merugi. Soalnya, saat bisnis dimulai tepat pada musim penghujan yakni November hingga Januari.

Tak mau terus merugi, pada Januari kedua pengusaha muda itu mengubah haluan; berpindah ke jus. Mereka memilih Banda Aceh sebagai tempat membuka lapak. Saat itu, hanya mereka yang mempunyai gerai jus lima ribu.

Lagi-lagi, faktor keberuntungan belum berpihak kepada Irwan dan Muhar. Pembeli belum banyak. Jika pun ada yang membeli, mereka kurang yakin terhadap kualitas jus racikan dua pemuda tersebut. Irwan lalu memutuskan mereka berhenti berjualan untuk sementara.

Usai musim hujan, Irwan mulai membuka lapak jus lima ribunya. Namun, baik ia dan Muhar belum berpendirian tetap. Terkadang gerai jus itu tutup beberapa hari. Di sisi lain, Irwan saat itu masih menjadi pegawai di sebuah dinas. Ia harus membagi waktu antara kantor dan bisnis.

Kehadiran kios jus lima ribu di Banda Aceh awalnya juga mendapat cibiran. Terutama dari pedagang lain yang menjual jual jus tapi dengan harga standar. Namun, lambat laun pelanggan mulai berdatangan. Mereka menilai jus lima ribu rasanya juga tak kalah dengan jus pada umumnya.

Selain itu, untuk meraup pelanggan Irwan menerapkan strategi berkumpul. Ia sengaja mengundang kawan-kawannya untuk datang dan meramaikan gerainya. Cara ini dilakukan untuk membuat orang penasaran.

“Ketika masyarakat lewat melihat ada orang ramai, mereka jadi penasaran dan singgah untuk membeli,” ujar Irwan. Ia juga menerapkan promosi gratis. “Caranya, jika pembeli bisa mengajak tiga orang teman maka diberi gratis satu botol jus,” ujar Irwan.

Pola promosi gratis juga dilakukan lewat cara beli lima gratis satu. Bahkan, hingga sekarang promosi gratis masih dilakukan yakni dengan sistem beli 10 gratis satu. Irwan juga memakai media sosial seperti Facebook dan Blackberry Messenger untuk mempromosikan produknya itu. Tak ketinggalan, pemasaran dilakukan dari mulut ke mulut.

Tak disangka-sangka, promosi itu berhasil. “Pesanan pertama itu 200 buah jus. Sampai saat ini pesanan banyak datang dari kantor-kantor,” jelasnya.

Belum lama saat karnaval bulan lalu, Irwan mendapat pesanan 800 jus. Sekarang, kata dia, saban harinya pesanan sekitar 200 hingga 300 buah. Pesanan dalam jumlah banyak biasanya untuk keperluan gotong royong dan rapat organisasi. Ada juga orang tua yang mengunjungi anaknya ke pesantren juga memesan jus dalam jumlah banyak.

Irwan menilai harga jus Rp5 ribu bisa terjangkau oleh siapa pun, termasuk siswa dan mahasiswa. “Jus (untuk) masyarakat dan pejabat yang harganya merakyat dan kualitas tidak berubah,” seloroh Irwan.

Berbeda jika harga jus Rp10 ribu, Irwan melihat siswa dan mahasiswa ada yang tak sanggup membelinya. “Kalau lima ribu (rupiah), masyarakat setiap hari sudah bisa merasakan buah,” jelasnya.

Untuk menjaga pelanggan, ia dan Muhar selalu menjaga kualitas dan rasa jus. Termasuk kebersihan gerai dan keramahan dari sisi pelayanan.

Menurut Irwan jus akan selalu diminati pembeli. “Kalau makanan (orang) cepat bosan. Kalau minuman, semua orang sebentar-bentar haus dan jus ini pun masyarakat tahu tidak mengandung bahan pengawet.”

Manajemen Keluarga
Hingga kini, gerai jus lima ribu milik Irwan dan Muhar yang berada di kawasan Blower, Banda Aceh, memiliki 10 pekerja tetap. Perekrutan karyawan itu dilakukan selama setahun lebih setelah usaha tersebut berkembang. Para karyawan sebagian direkrut dari kampung Irwan. Ada juga teman dekat keduanya yang diajak bekerja di tempat tersebut.

Oleh karena itu, pola manajemen yang diterapkan adalah kekeluargaan. Irwan dan Muhar tak membeda-bedakan antara bos dan bawahan.
“Karena di sini kita keluarga, tidak ada yang makan hati. Dengan begitu pelanggan pun dilayani dengan baik. Kalau kekeluargaan ini kan sama-sama puas,” ujar Irwan.

Jika ada pekerja baru, Irwan atau Muhar melatihnya terlebih dulu. Pekerja baru biasanya ditugaskan membersihkan buah-buahan yang bakal dijus. Saat gerai sepi pelanggan, barulah anak baru itu diajarkan cara memblender jus.

Gaji karyawan juga dibayar penuh. Tidak ada karyawan yang dianggap senior atau junior, semuanya sama. “Mana yang lebih yakin dan betul-betul kerja itulah yang kita lebihkan (gajinya). Gaji pun tidak saya patok, kalau banyak (omzet), ya banyak saya kasih, kalau sedikit ya apa adanya saya kasih.”

Omzet gerai jus tersebut tergantung cuaca. Di luar musim hujan pendapatan kotor mampu didapatkan Rp8-10 juta sehari. “Kalau musim hujan itu kadang lima juta rupiah. Hari-hari libur itu juga sepi.”

Sementara Muhar menimpali, sejak awal membangun bisnis itu mereka bertekad melakukannya secara bersama-sama. Kebersamaan ini diterapkan hingga ke hal-hal kecil seperti saat makan siang. Dua pekerja makan siang bersama. Setelah selesai, mereka kembali bertugas dan giliran dua pekerja lain menikmati makan siang. Cara ini, kata Muhar, dilakukan agar pelanggan tetap terlayani.

Tak melulu kerja, terkadang mereka pergi berlibur. Biasanya dilakukan ketika libur hari-hari besar. “Kalau ada rezeki lebih, itu kita pergi refreshing saat libur sehari,” ujar Muhar. Gerai jus itu sendiri dibuka setiap hari mulai pukul sembilan pagi hingga 11 malam. “Tergantung cuaca. Kalau hujan jam sembilan malam (tutup).”

Kini, Irwan dan Muhar berniat mengembangkan bisnisnya dengan membuka cabang di kota lain. Targetnya, Kota Langsa. “Kenapa Langsa, karena kota besar, orang ramai dan perkantoran bagus. Sudah survei, ini kita lagi cari pengelola, karena lokasi dan jarak mudah dijangkau,” ungkap Irwan.

Perkembangan usaha yang dimulai dari nol itu, bagi Irwan telah melewati apa disebutnya sebagai sebuah kesabaran dan disiplin. “Dalam mengerjakan sesuatu kita harus menggunakan kesabaran karena prosesnya lama. Kita juga harus disiplin.”[]