Pengibaran bendera RI di Gunung Halimun, Pidie. 17 Agustus 2015. Foto: Zamah Sari.

Gunung Halimun!

Nama itu tentunya mengingatkan semua orang Aceh kepada salah seorang tokoh Aceh yang sempat menguncangkan seantero dunia yaitu Hasan Muhammad Di Tiro. Pasalnya di puncak gunung yang terletak di daerah pedalaman Tiro Kabupaten Pidie itulah Hasan Di Tiro bersama rekan-rekannya mendeklarasikan Gerakan Aceh Merdeka tanggal 4 Desember 1976 atau 39 tahun silam beserta mengibarkan bendera Bulan Bintang sebagai bendera resmi Aceh Merdeka.

Sejak saat itu Hasan Tiro dan kawan-kawan mulai melakukan perlawanan terhadap Pemerintah Republik Indonesia dengan tujuan ingin memisahkan Aceh dari Indonesia dan mendirikan ‘Negara Aceh Sumatra’.

Gunung itu menjadi sejarah awal perang baru di Aceh hingga banyak korban berjatuhan dari ke dua belah pihak. Hingga akhirnya perdamaian antara Pemerintah Republik Indonesia dengan Gerakan Aceh Merdeka ditandatangani di Helsinki Finlandia 15 Agustus 2005 lalu.

Sejalan perjanjian MoU itu Aceh dipimpin oleh mantan kombatan yang dulu berseberangan dengan Pemerintah. Mulai dari gubernur hingga sebagian besar bupati dan walikota di Aceh diberi kepercayaan oleh rakyat kepada mereka.

Hampir sepuluh tahun peleburan dengan rakyat serta kembali hidup dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia dan membangun Aceh secara bersama-sama menuju sejahtera adil dan merata.

Kini kisah Gunung Halimun kembali hangat dibicarakan mulai dari rakyat hingga pejabat dengan lahirnya sejarah baru bagi negeri ini. Di puncak gunung yang berada diperbukitan bukit Barisan ini pada tanggal 17 Agustus 2015 tepatnya pukul 10.00 WIB satu bendera raksasa dikibarkan dalam sebuah upacara yang berlangsung khitmad. Tetapi bukan bendera bergambar bulan bintang yang dikibarkan melainkan bendera Merah Putih berukuran 20×25 dikibarkan di Gunung Halimun.

Peringatan HUT Kemedekaan RI ke 70 dilaksanakan di bukit itu diikuti ratusan warga Pidie dan Pidie Jaya bersama beserta Personil Polri Polres Pidie, TNI dari jajaran Komando Resimen Militer (Korem) 011/ Lilawangsa beserta sejumlah Organisasi Kepemudaan (OKP). Peringatan Detik-detik Proklamasi dipimpin Korem 011/ Lilawangsa Kol. Inf Dedi Aguspurwanto dan komandan upacara Kasdim 0102/ Pidie, Manyor. Inf. Suparman.

Masyarakat mengikuti detik-detik proklamasi dan pengibaran bendera ukuran raksasa. Untuk mencapai lokasi pengibaran bendera dengan ketinggian 1500 kaki itu, masyarakat dan seluruh undangan serta pasukan TNI/Polri jajaran Korem 011/Lilawangsa harus menempuh waktu satu jam tiga puluh menit perjalanan kaki. Perjalanan dengan kaki tersebut dimulai dari gampong Blang Pandak, Kecamatan Tiro Kabupaten Pidie dengan kondisi mendaki yang terjal dan licin pasca dilanda hujan sehari sebelumnya.

Dalam acara itu tidak tampak tokoh mantan GAM yang hadir baik mereka yang sudah jadi tokoh publik maupun yang kini jadi tokoh masyarakat. Hanya ada satu orang tokoh GAM dari Pidie Jaya yakni H Muhammad Yusuf Ibrahim yang merupakan mantan Wakil Bupati Pidie Priode lalu.

Upacara pengibaran bendera merah putih ukaran raksasa tersebut belangsung khidmat selama tiga puluh menit dan selesai dilaksanakan pada pukul 10.30 Wib.

Danrem 011/Lilawangsa, Kol.Inf Dedi Aguspurwanto seusai upacara mengatakan, maksud pengibaran bendara merah putih ukuran raksasa di gunung Halimon adalah untuk menumbuhkan semangat nasionalisme bagi generasi Aceh di masa yang akan datang serta menjaga semangat damai yang telah tumbuh di bumi Aceh selama 10 tahun.

“Dengan semangat kemerdakaan mari kita sama-sama, bahu membahu menjaga perdamaian dan membangun Aceh ke arah lebih maju dan sejahtera dengan tetap menjaga persatuan dan kesatuan,” katanya.

[PM005]

Komentar