Wisata Puncak Genting
Objek Wisata Puncak Genting dengan spesial hidangan kopi luak. FOTO: Anuar Syahadat/Pikiran Merdeka

Menyeruput kopi hasil fermentasi musang yang murah dan enak, melengkapi keindahan alam di puncak ini sembari menanti awan berlalu di atas kepala.

Oleh Anuar Syahadat

Matahari sore masih memancarkan cahanya terang di pertengahan hutan blantara. Kicauan burung dan riuh ayam berkokok masih menghidupkan suasana Puncak Genting, Kecamatan Pining, Gayo Lues.

Daerah ini tak pernah asing di telinga masyarakat setempat. Hampir saban sore, dikerumuni anak muda penikmat alam dan orang tua penikmat kopi luak di kedai-kedai dekat jalan lintas Pining itu.

Biasanya awan putih akan berada di Puncak Genting mulai pukul 17.30 wib sampai pukul 19.00 Wib. Pada menit-menit itu, gumpalan awan berarak melintasi daerah Pining menuju pusat Kabupaten Gayo Lues, Kota Blangkejeren.

Para pemuda yang (sebagian) membawa pasangannya dan lelaki tua bersama temannya menanti saat-saat awan berlalu. Ditemani segelas kopi luak dan beragam makanan ringan yang dijual tiga kepala keluarga di objek wisata Puncak Genting.

“Kopinya sangat enak, berbeda dengan rasa kopi lainnya yang ada di pusat Kota Blangkejeren. Makanya kami sering mengunjungi Genting untuk minum kopi dan melihat awan melintas di atas kepala,” kata Putra warga Blangkejeren yang sedang menikmati kopi pada salah satu kedai di Puncak Genting, Minggu, 14 Februari 2016.

Harga segelas kopi luak di Genting berbeda dengan harga kopi varian lain. Per gelas dijual Rp10 ribu, harga fantastis bagi penikmat kopi enak di Genting.

Menikmati Kopi Luak Genting
Menyeruput kopi luak berkualitas tinggi dan berharga murah, cukup menarik minat wisatawan. FOTO: Anuar Syahadat/Pikiran Merdeka

Putra menyebutkan, dari pusat Kota Blangkejeren menuju Puncak Genting hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit.

“Kalau ke Genting harus memiliki kendaraan sendiri, tidak ada angkutan umum yang melintas setiap jam. Jikapun ada hanya sekali dalam sehari,” ujarnya.

Pak Jur, salah satu penjual kopi di Puncak Genting menerangkan, setiap hari banyak pengunjung yang mampir di warungnya. Kopi luak dan mie instan menjadi makanan favorit di daerah itu sembari pengunjung melihat kebun kopi dan musang.

“Harga kopi luak Rp 10 ribu itu sengaja dibuat terjangkau biar banyak pengunjung. Untuk apa harga mahal tetapi tidak ada pengunjungnya,” katanya.

Harga bubuk Kopi luak, kata Pak Jur, mencapai Rp600 ribu per kg. Itupun jika orang membelinya dari daerah Genting. Jauh berbeda dari harga bubuk kopi gayo asli yang hanya Rp80 ribu per kg.

PELIHARA LUAK

Luak Puncak Genting
Kopi arabika difermentasi melalui pencernaan musang (luak). FOTO: Anuar Syahadat

“Kopi luak di sini murni hasil fermentasi kotoran musang yang kami pelihara,” ujarnya.

Ia menanam kopi satu hektar lebih di samping tempat jualannya, dengan memelihara musang sehingga stok kopi luak selalu tersedia.

Saat ini Pak Jur masih menghidupi dua luak hutan yang dikandangkan di belakang rumahnya. Jumlahnya menyusut setelah beberapa musang lain lepas dan mati di kandang.

Untuk fermentasi, setiap hari Jur memasukkan kopi yang sudah matang ke dalam kandang luak. Kotoran luak berupa gumpalan biji kopi tadi kemudian dikumpulkan untuk diolah menjadi bubuk kopi.

“Tidak ada lagi (bubuknya) sekarang, baru dibeli orang satu kg Rp 600 ribu. Tetapi kalau mau menikmati kopi per gelas masih ada. Rugi jika datang ke sini (Genting) tidak menikmati kopi luak,” tuturnya.

Kesejukan alam dan rasa kopi luak yang luar biasa, menjadikan Puncak Genting salah satu tempat wisata terkenal dengan suhu dinginnya dan awan berarak. Tak heran jika pengunjung sengaja menunggu moment menggengam awan di sana.[]

Diterbitkan di Rubrik WISATA Tabloid Pikiran Merdeka edisi 112 (22 – 28 Februari 2016).

Komentar

AdvertisementPemutihan pajak Kenderaan di Aceh