Komunitas ABL
Komunitas ABL (ist)

[frame src=”http://pikiranmerdeka.com/wp-content/uploads/2012/03/komunitas-abl.jpg” width=”460″ height=”315″ linkstyle=”none”]

[dropcap]M[/dropcap]alam itu, Kamis 22 Maret 2012, terminal bus Bathoh, Banda Aceh, ramai. Disesaki penumpang yang baru datang dan hendak berangkat. Beberapa pria yang berdiri sambil ngobrol, mengamati setiap bus yang memasuki terminal.

“Karena ini hari libur, makanya ramai. Biasanya malam Sabtu, malam Minggu yang ramai,” kata Mahmud, seorang dari pria itu.

Sambil melempar telunjuknya ke arah bus yang baru saja memasuki terminal, Mahmud berbincang-bincang dengan kawannya seputar spesifikasi dan keadaan bus tersebut. Rupanya, mereka anggota komunitas pecinta bus: Aceh Bus Lovers biasa disingkat ABL.

“Hampir saban malam kami ngumpul di sini,” kata Mahmud.

ABL merupakan wadah bagi penggila, penggemar maupun pecinta bus. Baik dari Aceh maupun luar Aceh. Di sini mereka saling bertukar pikiran dan sharing info-info terbaru seputar transportasi darat. Mereka juga menjunjung tinggi kebersamaan dan solidaritas antarsesama.

ABL dibentuk oleh tiga mahasiswa: Ihsan, Danil, dan Adlan, pada 15 Agustus 2011. Ketiga-tiganya mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala (FE Unsyiah). Berawal dari sekedar hobi, mereka mendirikan ABL.

“Kami membentuk ABL karena hobi bus. Kami enggak tahu kalau ada wadah-wadahnya begini. Karena bismania sendiri belum masuk ke Aceh, kenapa enggak kita buat satu grup independent Kebetulan namanya Aceh Bus Lovers,” cerita Ihsan.

Selain itu, ABL dibentuk sebagai tempat sharing seputar bus. “Sebelumnya, mereka itu enggak ada tempat sharing. Biasanya ke Medan kalau ada kopi darat,” ucapnya.

ABL juga wadah untuk bertukar informasi, seperti kecelakaan bus. Mereka juga mengabarkan kalau ada bus baru yang mau masuk ke Aceh, tipe-tipe bus, keberangkatan bus, dan harga tiketnya.

Hingga kini, anggota yang aktif di Banda Aceh sepuluh orang. Di antaranya Badrol, Mahmud, Lily, Adlan, Danil, Fahmi, Rangga, dan Ayar. Di Lhokseumawe tujuh orang. “Total semuanya 18 orang ada,” kata Ihsan.

Dari dulu, Ihsan sudah bergabung dengan komunitas bis di Lhokseumawe, namun menurutnya di Lhokseumawe tidak cocok untuk komunitas bus.

“Di Lhokseumawe kan bukan ibukota provinsi, jadi kita buat di Banda Aceh. Pas kita buat di Banda Aceh langsung muncul yang enggak pernah nampak itu. Ada yang dari Gayo, Kuala Simpang, dan Langsa. Dari Banda Aceh sendiri juga sudah bermunculan,” ujarya.

Selain itu, mereka juga membahas isu-isu baru seputar bus. Seperti membahas spesifikasi mesin, mengadakan kopi darat (kopdar) di terminal untuk berdikusi, foto-foto denagn bus.

“Intinya itu semua menjalin silaturrahmi. Kita adain kunjungan ke gudang Kurnia, PMTOH, Pelangi. Kita ikat relasi juga sama kru-kru di sana,” lanjut Ihsan.

Kecuali itu, ABL juga melakukan touring. Seperti baru-baru ini, mereka adakan touring ke Medan. Ke depan, akan touring keliling Aceh Besar.

Komunitas Independen

Ihsan menyebutkan, saat ini ABL masih merupakan komunitas independen. Karena statusnya itu, mereka sempat diajak bergabung oleh Komunitas Bismania.

“Saya lagi di Jogja, nanti kalau sudah pulang ke Aceh, saya akan ngumpul dulu dengan kawan-kawan. Kami bicarain kalau memang setuju diganti dengan Bismania,” ucapnya.

Hobi Sejak Kecil

Mahmud salah satu anggota ABL. Saat dijumpai Pikiran Merdeka di Terminal Bus Bathoh, sedikit bercerita tentang kecintaannya pada bus. Hobinya pada bus bukan sejak bergabung dengan ABL, melainkan sejak kecil.

“Namun tidak ada teman curhat hanya konsumsi sendiri saja (foto bus). Abis tu, lihat di facebook ada komunitas ini, ya udah gabung saja. Udah itu, baru berani foto-foto,” ucapnya sambil tersenyum.

Saking hobinya pada bus, jika ke Jakarta, Mahmud hanya memesan sit pesawat hingga Medan saja. Lalu dari ibukota Sumatera Utara itu, ia naik bus ke Banda Aceh. “Kalau misalnya kita pulang dari Jakarta ke Banda Aceh pakai bus kan capek sekali,” katanya.

Menurutnya, bus terbaru saat ini di Banda Aceh ada dua: Kurnia New Celcius dan PMTOH Legacy. Anak ABL menandakan semua jenis mobil dari bodynya.

“Kita juga menginformasikan bus-bus yang baru masuk. Kalau ada bus baru yang akan masuk, itu kami sudah tahu semua spesifikasinya. Tahunya dari kawan-kawan di luar atau kami langsung ke loket-loket,” ujarnya.

Selain Mahmud, ada Muahajir mahasiswa Fakultas Teknik Unsyiah. Ia senang bergabung dengan ABL. Ceritanya, dia juga sudah lama hobi bus, namun belum ada komunitas yang berkaitan seputar bus. Namun ia hanya foto-foto saja.

“Kalau hobinya, dari pertama datang ke Banda Aceh dulu. Tapi hanya foto-foto saja, biasanya di terminal fotonya,” ungkapnya sambil melihat-lihat ke arah bus.

Selain yang disebutkan di atas, ABL juga bertukar informasi dengan kawan-kawan sesama anggota komunitas bus yang ada di luar Aceh dan mencarI informasi dari forum-forum atau komunitas dari luar.

Untuk menginformasikan atau publikasi, saat ini mereka menggunakan jejaring sosial, seperti facebook ‘Aceh Bus Lovers (komunitas pecinta bus aceh)’ dan twitter ‘AcehBusLovers’. Mereka juga berencana bikin web.[sayed jamaluddin]

Komentar