Ilustrasi: CNN

Beredarnya informasi mengenai penularan Covid-19 lewat udara, kian menambah keprihatinan di kalangan masyarakat. Pakar epidemologi dari Universitas Indonesia, Pandu Riono mengiyakan potensi tersebut.

Melansir Liputan 6, Pandu mengatakan penularan virus lewat udara juga telah dikonfirmasi oleh organisasi kesehatan dunia (WHO). Bahkan, lanjut dia, penularan bisa terjadi di tempat kebugaran maupun di perkantoran. Itu sebabnya beraktifitas menggunakan masker jadi semakin penting. Apalagi, virus mudah menyebar jika diperparah dengan sirkulasi ruangan yang buruk.

“Itu yang memperkuat tekat kita untuk selalu memakai masker, baik di luar gedung maupun di dalam gedung. Dan jangan masuk ke dalam gedung yang ventilasinya buruk karena itu beresiko,” kata Pandu.

Menurutnya penting mengevaluasi semua fasilitas di berbagai tempat yang dijamah manusia.

“Jadi harus semua harus ngecek sistem pendinginan, sirkulasi dijaga, dan kalau perlu ya kalau memang harus bersidang di dalam ruangan ya menggunakan masker,” tandasnya.

Sebelumnya, WHO hanya menganggap kontak dengan permukaan yang terinfeksi virus sebagai satu-satunya cara penularan yang didukung oleh bukti ilmiah. Ini terjadi ketika Covid-19 ditularkan melalui cipratan atau droplet dari batuk atau bersin. Sampai saat itu, WHO menganggap cuci tangan adalah langkah pencegahan penting melawan Covid-19.

Namun kini, mengutip BBC, pihaknya mengakui kemungkinan airborne transmission atau penularan lewat udara. Ini artinya virus corona bisa menyebar melalui partikel kecil yang diproduksi ketika berbicara atau bernapas. Jika bukti permulaan ini terkonfirmasi, kemungkinan akan berdampak pada panduan protokol kesehatan di dalam ruangan.

Penularan lewat udara terjadi ketika kita menghirup virus atau bakteri yang dibawa oleh partikel yang melayang di udara selama berjam-jam. Droplet yang jauh lebih kecil ini bisa menyebar di area yang lebih luas. Tak hanya itu, WHO juga mengakui ada bukti yang menunjukkan bahwa virus corona bisa menular di ruang tertutup dan ramai.

Penelitian menunjukkan virus corona yang disemprot secara artifisial dapat tetap hidup di udara setidaknya selama tiga jam. Tetapi para ilmuwan menekankan bahwa percobaan itu dilakukan di laboratorium, yang berbeda dengan kondisi kehidupan nyata dimana hasilnya dapat bervariasi.

Kasus-kasus virus corona, yang disebut superspreading, telah memperkuat kecurigaan bahwa kontaminasi melalui udara adalah suatu kemungkinan. []

Sumber: Liputan 6, BBC Indonesia

Komentar

AdvertisementIklan Selamat Hari Raya Idul Adha BPKA