Maimun bin Lukman

PM, BANDA ACEH—Akademisi Universitas Syiah Kuala, Maimun bin Lukman, mengatakan, damai Aceh jangan dipandang hanya dari aspek tertentu saja, tetapi harus dilihat secara komprehensif.

Hal itu dikatakannya, di Darussalam, Banda Aceh (15/08/2015) terkait peringatan hari MoU Helsinki atau dikenal juga dengan Hari Perdamaian Aceh.

“Ada yang memaknai bahwa damai Aceh sudah wujud hanya gara-gara beberapa mantan oknum kombatan sudah sejahtera, ada juga yang menilai Aceh sudah sangat damai, karena masyarakat sudah bisa beraktivitas secara normal baik siang maupun malam hari, bahkan ada juga yang melihat Aceh sudah damai karena adanya kebebasan berbicara, baik melalui media maupun dalam forum2 tertentu. Pertanyaanya, jika beberapa oknum saja yang sejahtera, bagaimana dengan yng lain belum sejahtera, dan tidak memiliki akses pada penguasa?” ujar Maimun.

Menurut dia, semestinya sepuluh tahun perdamaian Aceh harus jadi momentum khusus untuk semua elemen mengevaluasi diri atas capain subtansi dari perdamaian itu, baik aspek regulatif maupun teknis. Ia menyebutkan, perlu dilihat manfaat-manfaat yang dirasakan oleh rakyat secara menyeluruh sehingga ke depan dapat ditempuh langkah-langkah strategis mencapai subtansi perdamaian yang dimaksud.

“Kita akan terus berhadapan dengan era yang semakin moderen dan kompetitif ke depan, kualitas sumberdaya manusia menjadi syarat utama,” imbuhnya.

[PM004]

Komentar

AdvertisementIklan Selamat Hari Raya Idul Adha BPKA