UAS SMP Banda Aceh

Yogyakarta–Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Bidang Pendidikan, Prof Dr Ir H Musliar Kasim mengusulkan perlunya penerapan ‘Ikrar Siswa Indonesia’. Ikrar tersebut harus diucapkan rutin oleh semua siswa setiap hari sekolah.

“Lemahnya pendidikan karakter bangsa saat ini disadari oleh berbagai pihak. Padahal pembentukan karakter bangsa adalah sangat penting di masa depan,” kata Musliar Kasim.

Menurut Musliar, pengembangan pendidikan karakter itu tidak bisa lepas dari peran keluarga, sekolah, dan masyarakat. Selain melibatkan tiga pihak tersebut penanaman dan pengembangan pendidikan karakter memerlukan proses pembiasaan.

Lebih lanjut, dia menyatakan, ada beberapa langkah yang telah dilakukan dalam pelaksanaan pendidikan karakter. Saat ini sudah ada pembentukan tim sosialisasi dari pusat hingga daerah, pemetaan kesiapan pelaksanaan pendidikan karakter di sekolah hingga rencana penerapan Ikrar Siswa Indonesia.

“Akan kita coba dengan Ikrar Siswa Indonesia. Negara sebesar Amerika Serikat saja sampai saat ini para siswanya masih rutin mengucap ikrar (janji),” kata Musliar dalam ’90 Minutes Seminar on Knowledge Partnership’ dengan tema ‘Pendidikan Karakter’ di Ruang Multimedia Universitas Gadjah Mada (UGM), Jumat (4/5/2012).

Dengan adanya ikrar tersebut kata Musliar, diharapkan akan semakin memupuk semangat cinta tanah air sehingga karakter bangsa atau anak didik akan lebih terbentuk.

Dia juga sepakat dengan berbagai masukan dari beberapa pakar UGM. Beberapa masukan itu antara lain pendidikan karakter tetap harus berdasar pada local wisdom (kearifan lokal) di masyarakat, memahami adanya multikulturalisme dan berkelanjutan.

“Kita tidak akan banyak intervensi terutama di bangku perguruan tinggi sehingga ada kreatifitas dan kebebasan untuk pengembangan pendidikan karakter ini,” katanya.

Dia menambahkan saat ini belajar mandiri belum menjadi budaya bagi banyak perguruan tinggi (PT) di Indonesia. Beberapa perguruan tinggi masih memiliki motivasi yang sangat kurang termasuk aktivitas non kurikuler. Padahal, kemandirian merupakan salah satu nilai pembentuk karakter bangsa.

“Ini yang terjadi di lapangan. Kita kurang serius dalam menempa diri, memajukan kampus, memajukan daerah dan bangsa ini,” kata dia.

Selain kemandirian yang belum jadi budaya lanjut dia, belum semua kampus secara maksimal dalam mengeksplorasi potensi mahasiswa jika dibandingkan dengan bangsa-bangsa Asia yang maju lainnya seperti China atau Korea.

Musliar mencontohkan negara Korea. Saat ini Korea hampir menyamai Jepang dalam bidang automotif dan elektronik. Mobil Hyundai, merek Samsung sudah menguasai juga pasar dunia termasuk ke Timur Tengah.

“Mereka bisa karena ada kemauan, kerja keras, dan motivasi untuk bisa. Sementara kita terkadang masih belum mau mengerjakan sesuatu di luar kebiasaan. Kita masih menjalankan business as usual,” tutup Musliar.[dtc]

Komentar