2020 03 13 14 40 45 1d6cf08a019e4a7f57bd7727bd41b924 620x413 thumb
Menteri Keuangan RI, Sri Mulyani Indrawati. (Foto/Katadata)

Jakarta – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengajukan rancangan awal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025 kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

Hal ini disampaikan pada Rapat Paripurna DPR RI Ke-17 Masa Sidang V Tahun Sidang 2023-2024 yang membahas Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-pokok Kebijakan Fiskal (KEM PPKF) 2025.

Seperti dilansir dari Detik, Sri Mulyani menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,1 persen sampai 5,5 persen. Dengan komitmen dan kerja sama berbagai pihak, ia yakin target tersebut dapat tercapai.

“Kami optimistis, dengan kerja keras dan komitmen bersama dalam menjaga stabilitas ekonomi serta komitmen untuk melakukan terobosan kebijakan, diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dan berkualitas yang pada tahun 2025, diperkirakan berada pada kisaran 5,1 persen – 5,5 persen,” katanya dalam rapat di DPR RI, Jakarta Pusat, Senin (20/5/2024).

Proyeksi itu menurutnya juga ditopang oleh terkendalinya inflasi, kelanjutan dan perluasan hilirisasi sumber daya alam, pengembangan industri kendaraan listrik, dan digitalisasi yang didukung oleh perbaikan iklim investasi dan kualitas SDM.

Menurutnya laju pertumbuhan ini diharapkan akan menjadi fondasi yang kuat untuk pertumbuhan yang lebih tinggi dalam beberapa tahun ke depan.

Sementara itu, mempertimbangkan risiko dan ketidakpastian di pasar keuangan global yang masih tinggi, Yield SBN Tenor 10 tahun diperkirakan berada di kisaran 6,9 persen – 7,3 persen. Sementara nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sebesar Rp 15.300 -Rp 16.000.

“Dolar AS diperkirakan berada di rentang Rp 15.300,00-Rp 16.000,00. Sementara itu, inflasi diperkirakan dapat dikendalikan dikisaran 1,5 persen- 3,5 persen,” tuturnya.

Kemudian, dengan mencermati tensi geopolitik yang saat ini masih berlanjut maka harga minyak mentah Indonesia diperkirakan sebesar US$ 75 – 85 per barel, lifting minyak bumi 580 ribu – 601 ribu barel per hari, dan lifting gas 1.004-1.047 ribu barel setara minyak per hari.

Adapun defisit fiskal diprediksi berada di kisaran 2,45 persen sampai 2,82 persen. “Dengan demikian defisit fiskal diperkirakan berada pada kisaran 2,45 persen – 2,82 persen PDB,” pungkasnya.[]