Banda Aceh—Sekda Provinsi Aceh Teuku Setia Budi mengemukakan bahwa kendati wilayahnya dinyatakan sebagai salah satu daerah rawan bencana alam, namun sosialiasi kebencanaan belum berjalan maksimal.

“Saya mengapresiasi kegiatan ini sekaligus melakukan kajian, diskusi dan evaluasi untuk menemukan cara baru yang lebih efektif guna menyelamatkan masyarakat ketika keadaan darurat kebencanaan,” katanya di Banda Aceh, Senin (30/4).

Hal tersebut disampaikan saat membuka rapat koordinasi Satuan Kerja Perangkat Aceh (SKPA), kepala badan penanggulangan bencana daerah (BPBD) kabupaten dan kota serta lembaga terkait penanggulangan bencana.

Terkait kepanikan sebagian masyarakat Aceh disebabkan isu gempa bumi berkekuatan di atas 12 SR yang beredar melalui pesan singkat (SMS), menurut Sekda, hal itu telah berhasil ditenangkan.

“Dari pengalaman itu memberi gambaran kepada kita betapa paniknya masyarakat Aceh mendengar isu tentang bencana alam. Situasi itu juga menunjukkan bahwa sosialiasi tentang bencana alam di Aceh belum berjalan maksimal,” kata dia menegaskan.

Seharusnya, kata Sekda Aceh, pemerintah atau pihak terkait lainnya sesegara mungkin menjelaskan kepada masyarakat bahwa isi pesan yang beredar di SMS tersebut tidak bisa dipercaya.

“Kita harus segera memberitahukan kepada masyarakat bahwa tidak ada seorang pun di dunia ini yang bisa memastikan kapan gempa bumi akan terjadi,” katanya menambahkan.

Namun, semua pihak tentunya tahu bahwa potensi gempa itu ada di Aceh. Karenanya yang harus dilakukan adalah mempersiapkan diri dengan mengembangkan berbagai program terkait mitigasi atau penanggulangan risiko bencana, kata T Setia Budi.

“Saya berharap, pertemuan ini dapat menghasilkan beberapa rekomendasi yang ideal untuk selanjutnya kita terapkan secara efektif guna membantu masyarakat dalam situasi darurat,” katanya menegaskan kembali.

Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) Asmadi Syam mengatakan, rapat koordinasi tersebut merupakan tindak lanjut kunjungan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana dan Wakil Presiden pascagempa berkekuatan 8,5 SR dan 8,1 SR pada 11 April 2012.

“Rapat ini sekaligus juga untuk mendengar kesiapsiagaan SKPA sebagai persiapan kebencanaan,” kata dia.

Rapat koordinasi itu turut dihadiri Sekretaris Utama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Fachul Hadi, kepala BPBD se Aceh, SKPA dan SKPD dari kabupaten dan kota.[ant]

Komentar