Riswandi Instruktur Penata Busana Andalan Aceh
Riswandi Instruktur Penata Busana Andalan Aceh

Pria ini menempuh karier sebagai instruktur tata busana dari hasil jerih payahnya sendiri, kemudian membantu pendidikan anak-anak putus sekolah.

Mewakili Provinsi Aceh pada ajang Apresiasi Guru dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat (GTK Paud dan Dikmas), Riswandi berhasil meraih juara 3 dari 33 peserta secara nasional.

Riswandi juga satu-satunya dari 16 wakil Aceh yang meraih penghargaan di ajang yang berlangsung pada 22-28 Mei 2016 di Palu, Sulawesi Tengah itu.

Dia tampil sebagai instruktur tata busana Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) ‘Mom n Me’ Gandapura yang merupakan binaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bireuen.

“Saya di sana menampilkan pola busana karya saya hasil dari menggunakan sistem Tarla. Peserta diminta praktikkan langsung di depan dewan juri hingga menjadi pakaian jadi,” cerita Riswandi saat diwawancarai Pikiran Merdeka, pekan lalu.

Tarla merupakan proses menghasilkan pola jahit yang diciptakan Riswandi semenjak ia merintis karier sebagai penjahit sekaligus penata busana. Nama itu pula yang dipakainya untuk usahanya, Tarla Designer.

“Tarla adalah nama populer saya di Banda Aceh,” ujar pria kelahiran 1985 itu.

Dia menjelaskan, Tarla merupakan singkatan dari Team Analysis Reconstruction Lead of dan Amaliorate. Lebih rinci, lanjutnya, Tarla merupakan perencanaan berisi rangkaian kegiatan yang di dalamnya melibatkan model interaksi, proses informasi, personal serta modifikasi tingkah laku yang didesain untuk mencapai tujuan pendidikan.

Semenjak kuliah di Prodi Pendidikan Kesejahteraan Keluarga Tata Busana Unsyiah, Riswandi sudah memulai bisnis tata busana di kosnya. Dari rumah kos, ia menerima jasa jahit pakaian dan tata busana.

Sebelumnya, Riswandi juga mengambil jurusan Tata Busana di SMKN 2 Lhokseumawe. Sengaja dia ambil jurusan itu karena ia ingin pelajari tata busana. Biasanya, perempuan-lah yang belajar tata busana.

“Dianggap aneh memang oleh sebagian orang. Tapi saya merasa terlahir dari keluarga seniman. Nenek saya dan ibu saya adalah penjahit, jadi saya pun bisa menjadi seperti mereka,” ujar pria asal Sawang, Aceh Utara itu.

Sejak duduk di bangku SD, ia suka menggambar. Namun belum bisa menjahit hingga ia menempuah kuliah. Menamatkan S1, Riswandi melanjutkan S2 di Prodi Pendidikan Teknologi dan Kejuruan Tata Busana Universitas Negeri Padang (UNP), Sumatera Barat.

“Alhamdulillah dari hasil menjahit dan tata busana ini saya bisa membiayai kuliah sendiri hingga sekarang,” kata pria yang saat ini menempuh S3 Tata Busana juga di UNP itu.

Dia mengaku tetap menempuh jenjang pendidikan lebih tinggi sembari bekerja. “Menuntut ilmu sambil bekerja itu membuat kita makin mudah dalam berinovasi untuk karya kita,” katanya.

MEMBANTU ANAK PUTUS SEKOLAH

Riswandi mulai menjadi instruktur tata busana di LKP Mom ‘n Me Gandapura pada 2014. Di lembaga pendidikan masyarakat itu, dia mengajar untuk kursus tata busana dasar dan terampil.

Mom ‘n Me sendiri didirikan Siti Aisyah, warga Gampong Lhok Mambang, Kecamatan Gandapura, Bireuen, pada 2012. “Saya ingin membantu masyarakat di sekeliling saya, LKP ini menjadi wadah belajar bagi mereka,” ujar Siti kepada Pikiran Merdeka, Sabtu (15/10/16).

Dia awalnya membuka kursus menjahit. Kini sudah dimulai kursus tata busana dan menjahit kain perca (ampas jahitan). Pelatihan itu ditujukan bagi ibu-ibu rumah tangga dan anak-anak putus sekolah dari Gandapura. LKP Mom ‘n Me kemudian dibina oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Bireuen.

Riswandi mengaku bersyukur bisa mengajar anak-anak putus sekolah di LKP Mom ‘n Me. Dia mendapati minat luar biasa dari peserta yang kebanyakan anak putus sekolah SMP dan SMA.

“Saat saya tanyakan kenapa kalian belajar di sini, seorang dari mereka bilang, ‘keterampilan menjahit ini seperti batang ubi, di mana pun bisa tumbuh,” Riswandi mengutip muridnya.

Ungkapan nak-anak itu membuat dia sadar, bahwa yang ditekuninya selama ini benar-benar keterampilan yang dibutuhkan dari bidang pendidikan masyarakat (non formal). “Oh, iya juga ya yang mereka bilang,” imbuhnya.

Riswandi lantas menemukan para peserta itu kini sudah ada yang membuka usaha jahit sendiri, pun membuka toko butik. Hal itu memotivasi anak-anak lain untuk belajar di LKP Mom ‘n Me.

Tak salah, ketika Dinas P dan K Bireuen mengikutkan instruktur tata busana LKP Mom ‘n Me itu di ajang Apresiasi Guru dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat tingkat Provinsi Aceh, April 2016.

Kabid Pendidikan Keagamaan dan Pendidikan Non Formal Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Bireuen Jailani SPd MPd menjelaskan, Riswandi pada peringatan Hardiknas 2 Mei 2016 mendapat piagam pernghargaan dari Bupati Bireuen H Ruslan M Daud atas prestasinya meraih juara pertama di tingkat Aceh.

Riswandi pada 2015, juga diikutkan dalam ajang Apresiasi GTK PAUD Dikmas tahun 2015. Namun hanya meraih juara harapan II, sehingga bisa berkompetisi lagi di tahun 2016. “Kalau sudah masuk tiga besar nasional, tidak bisa ikut lagi di tahun selanjutnya,” tambah Riswandi.

Menurut Siti Aisyah, Riswandi satu-satunya instruktur tata busana di LKP Mom ‘n Me. “Riswandi wajar memeroleh prestasi seperti sekarang, karena passion-nya memang di situ. Jiwa dan raganya sudah di tata busana,” ucapnya.[]

Komentar