Ratna Eliza C-Four
Ratna Eliza bersama anak kanker dampingan C-Four. FOTO: IST/Dok.C-Four

Senyum anak-anak Aceh penderita kanker ketika meninggal cukup membahagiakan perempuan asal Palembang ini. Tapi bukan itu tujuan gerakan sosialnya bersama C-Four.

Oleh Makmur Dimila

Dari halaman rumah permanen bercat biru, Ajrina Marla (3,5), lari masuk ke dalam. Ada benjolan di leher balita pengidap kanker rhabdomsyarcoma itu. Ia peluk seraya sembunyikan wajah dalam rok ibunya, Laila Wati (45), yang justru tersenyum menyambut Pikiran Merdeka.

Keduanya sudah seminggu tinggal di Rumah Singgah C-Four, rumah yang dibangun oleh relawan Children Cancer Care Community (C-Four). Rumah itu diresmikan akhir Desember 2015 untuk ditempati anak-anak kanker yang sedang berobat di Rumah Sakit Umum Zainal Abidin (RSUZA), bersama orangtua mereka.

Laila bersyukur dengan adanya Rumah Singgah. Ia pernah keluarkan uang jutaan rupiah saat harus menemani Ajrina berobat di Onkologi RSUZA Banda Aceh. Selama dua bulan itu, ia dan suaminya tinggal di rumah sakit, mulai dari menjelang bulan Ramadhan 1436 Hijriah hingga menjalani lebaran di sana. Tak bisa pulang ke kampung halamannya di Bener Meriah.

Menjelang Ajrina menjalani siklus kemoterapi yang keenam, Ratna Eliza jumpai Laila untuk fasilitasi mereka tinggal di Rumah Singgah. Sehingga tak lagi harus keluarkan biaya hidup di rumah sakit, di samping biaya berobat pasien sudah ditanggung pemerintah. Suasananya pun sudah lebih nyaman: berudara segar, banyak kawan, dan lingkungan bersih.

“Kami sebelumnya tidak pernah terpikir akan ada orang yang khusus peduli pada anak kanker di Aceh,” ujar Laila, sore 3 Februari 2016, sehari sebelum peringatan Hari Kanker Sedunia. “Dia dengan kami seperti kawan saja,” akunya selagi menunggu kunjungan Ratna.

Tak lama. Ratna jalan kaki memasuki pekarangan Rumah Singgah C-Four di Lorong Blang Cut, Lambhuk, Banda Aceh. Ia membawa sekantung gorengan. Tapi sesungguhnya ia bawa senyuman yang langsung ditujukan ke wajah Ajrina begitu ia masuk.

Ratna selalu berupaya mengumbar senyum setiap menjumpai anak kanker, sehingga anak-anak itu ikut tersenyum. Sementara kepada orangtua mereka, diingatkannya, agar tak memandang kemoterapi sebagai hal yang menyeramkan, tapi hadapilah dengan senyuman.

SEMPAT DOWN BERKALI-KALI

Rumah Singgah C-Four
Ajrina memeluk ibunya di Rumah Singgah C-Four, yang disaksikan Ratna. FOTO: Makmur Dimila

Perjuangan Ratna dimulai pada suatu siang di awal Januari 2014. Selagi menyapu halaman rumahnya di Beurawe, Banda Aceh, ia melihat seorang anak turun dari becak bersama ibunya.

Ratna melihat benjol besar memenuhi batang leher anak itu dan dikiranya penyakit gondok. Penasaran, Ratna ikuti anak perempuan itu. Tanya ke ibunya.

“Ini kanker, Bu, sahut ibunya,” cerita Ratna.

Namanya Annisa Alqaisya Funnari. Asal Lhokseumawe, kelahiran 2010. Kenyataan anak itu sudah yatim semakin mendorong kepedulian Ratna.

Annisa rencananya mau dirujuk oleh RSUZA ke RS Dharmais di Jakarta, pusat kanker nasional. Transportasi ditanggung RSZUA, tapi keluarganya tak punya biaya hidup di ibu kota, seperti kebutuhan makan.

Ratna lantas bawa mereka ke Dinas Sosial Aceh, mengajukan biaya berobat ke Jakarta. Namun seseorang yang dijumpai Ratna di situ menyatakan tak ada plot biaya untuk kasus demikian. Dia bingung.

“Sempat waktu itu saya bilang begini: ‘Pak, saya sebenarnya bukan orang Aceh lho, Pak. Tapi saya peduli sama anak Aceh. Kok orang Aceh tidak peduli ya sama anak Aceh?”

Bapak yang dimaksud Ratna akhirnya merogoh koceknya, secara pribadi, kasih uang sekitar Rp 400 ribu. Mereka pun pulang. Ratna meyakinkan Annisa dan keluarganya agar tak khawatir, ia akan bantu.

Keesokannya anak kanker limfoma itu dibawa ke salah satu media lokal, berharap munculnya aksi galang dana. Namun nihil hasilnya. Muncul ide lain Ratna saat itu, posting kondisi Annisa ke Facebook .

“Di situlah saya mulai posting di Facebook.”

Teman-teman semasa SMP Ratna dari Palembang mulai tergerak untuk membantu. Mereka kirim uang ke dia untuk disalurkan ke Annisa. Hingga bocah perempuan itu jadi berangkat ke Jakarta.

Ketika Ratna berencana menyusul ke Dharmais, seorang mahasiswa kedokteran yang tengah magang di RSUZA menandainya di Facebook foto anak kanker mata berusia satu tahun, Airan Barat.

Didapati kondisi Airan memprihatinkan. Bola mata balita asal Subulussalam itu menyembul ke luar. Bahkan ia menangis darah dan nanah saat minta susu sama ibunya.

Ratna pulang ke rumah usai mendampingi anak itu kali pertama, membawa kekesalan yang mendalam. Saking kesalnya ia tidak tahu mau pukul siapa, ia tinju-tinju dinding kamar.

“Saat itu saya sempat berpikir, ‘Ya Allah…’ saya menghujat. ‘Kenapa Engkau kasih seperti ini, kenapa anak kecil, kenapa anak kecil?’ Itu saja yang saya ulang,” cerita ibu tiga anak ini.

Kelakuan Ratna malam itu memancing reaksi anaknya sendiri. “Papa jahat, Papa jahat. Mama nangis seharian.’ Padahal sebenarnya saya nangis gara-gara anak kanker itu, sampai tengah malam, kan habis ini air mata,” kisahnya.

Saat itu juga ia terbayang pengalaman menangis di depan seorang anak kanker. Anak itu menatapnya dengan ekspresi menyiratkan seakan-akan dia bilang: ‘Ibu ini kenapa menangis? Apa yang terjadi sama aku ini?’

“Dari situlah saya berpikir takkan ada lagi tangisan saat saya turun melihat anak kanker, kecuali dalam mobil di parkiran.”

Hikmah datang tengah malam itu. Kalau ia terus menangis takkan menyelesaikan masalah. Ia harus merasa kuat, baik di depan anak kanker maupun anaknya sendiri. Tak ingin ia ketika pulang ke rumah, anaknya mendapatinya menangis lalu melarangnya dampingi anak kanker.

Sebab sesungguhnya, anak kanker itulah yang harus menangis ketika menjalani kemoterapi. Akan ada efek dari upaya penyembuhan itu, seperti rambut rontok, kulit menjadi gelap, hingga mual-mual, di samping suntik berkali-kali saat akan kemoterapi dan operasi.

Ratna besoknya kembali mendampingi Airan yang orangtuanya dari kalangan tidak mampu. Ia akan cari bantuan. Namun bingung caranya bagaimana.

Ditemuinya Darwati A Gani, anggota DPRA yang peduli kesehatan di Aceh. Diceritakan kondisi Airan. Istri Irwandi Yusuf eks Gubernur Aceh itu pun turun tangan. Tapi saat kemoterapi ketiga, 23 Maret 2014, Airan meninggal.

“Saya drop. Dalam hati saya bilang, ‘untuk apa lagi saya tolong anak kanker dengan kondisi seperti ini.’ Seakan-akan saya tidak mampu memperjuangkan hidup dia,” tutur Ratna. “Saya nangis seharian.”

Di Dharmais, kanker getah bening yang diderita Annisa sudah stadium empat. Kankernya sudah melewati kerongkongan, sehingga tak bisa dioperasi. Dan pada 6 April 2014, balita itu dikabarkan meninggal di rumah sakit.

“Saya down lagi,” kenang perempuan kelahiran 28 Oktober 1974 itu.

Ratna tak berdaya lagi dan vakum beberapa bulan. Hingga Februari 2015, di dekat rumahnya ia mendapati Azizi, penderita down sydrown dengan kondisi limfoma. Ia kembali tersentuh untuk membantu bocah satu tahun itu mendapatkan kamar operasi.

Azizi berhasil dioperasi namun mengalami pendarahan. Beberapa jam kemudian, meninggal, dini hari 13 Februari 2015. Ratna down lagi. Kala itu ia berpikir tak ada gunanya dampingi anak kanker, karena tak bisa diselamatkan.

Namun di bulan Mei, lagi-lagi Ratna ditandai foto anak penderita kanker osteosarkoma (tumor tulang ganas) stadium lanjut, yang diunggah temannya di Facebook. Ia penasaran dan mendatangi anak yatim itu: Rahmatul Nisfu (14) asal Aceh Selatan.

“Dokter spesialis ortopedi yang menangani Rahmat saat itu bilang ke orangtuanya, ‘Mau dibawa ke Malaysia pun tidak bisa, pasti disuruh pulang,’ dengan maksud dokter itu bahwa pasien sudah stadium lanjut,” ungkapnya.

Orangtua Rahmat tersinggung. “Jadi untuk apa kami bawa kalau tidak ada solusi?” Ratna mengutip orangtua Rahmat.

Malam itu, Rahmat dibawa pulang orangtuanya tanpa sepengetahuan Ratna. Besok pagi baru ia tahu lalu didatangi rumah keluarga Rahmat di Tungkop, Darussalam. Didapatinya bocah itu menangis mengerang kesakitan akibat pahanya yang membengkak mau pecah. Airmata Ratna ikut menetes.

Ratna menelpon siapa saja yang bisa membantu. Dapatlah satu ambulance atas bantuan Gerindra dan Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA) partner-nya C-Four, boyong Rahmat ke IGD RSUZA.

Di situ dia bilang ke dokter spesialis yang tangani Rahmat, “Dokter tidak pantas mengatakan kepada keluarga pasien: ‘mau dibawa kemana pun pasti disuruh pulang.’ Sekecil apapun harapan hidup seorang pasien, walaupun tahu dia bakal mati, itu tetap lakukan pertolongan walaupun ajalnya di ujung tanduk.”

Ratna mendampingi Rahmat. Tapi bocah itu meninggal, setelah bengkakan kelenjar di kaki bocah itu pecah. Kejadian yang menimpa Rahmat betul-betul menyadarkan Ratna untuk semakin bersemangat mendampingi anak-anak kanker.

JANGAN SEKEDAR LIHAT DI FACEBOOK

Ratna Eliza C-Four
Ratna menunjukkan berkas berisi data anak-anak kanker dampingan C-Four. FOTO: Makmur Dimila

Selama pendampingan bersama relawan C-Four, Ratna mendapati ragam kondisi anak kanker dari total 36 orang yang sudah didampingi hingga Januari 2016.

Ia misalnya mendapati penderita neuroblastoma Muhammad Rafa Azizi (3) yang tak diperhatikan orangtuanya; penderita kanker sekaligus gizi buruk dan bisu Nasiran (14) yang kondisinya dilarang publikasi oleh petugas keamanan rumah sakit; penderita kanker karsinoma nofaring Syaukhi (14) yang awalnya pemalu menjadi bersemangat kemudian; hingga penderita leukimia Hayatun Nufus (14) dengan kondisi memprihatinkan sebelum didampingi dan menjadi cantik penuh semangat kemudian.

Sementara itu, dalam menarik simpati publik terutama calon donatur, ia menggunakan media sosial Facebook hingga kini. Setiap mendapati anak kanker, ia minta izin pada orangtunya untuk difoto dan disiarkan.

Ratna kemudian mengunggah kondisi anak kanker senyata mungkin. Tak akan diblur gelaja kanker sehingga orang bisa tahu kondisi riil anak itu, meskipun caranya demikian kerap dikritik.

“Saya posting seperti itu di Facebook karena saya tidak mau menutupi apa yang ada di sekitar kita.”

Ratna ingin orang lain memperhatikan orang di sekitar yang membutuhkan kepedulian dan bantuan. Denga melihat foto itu, orang akan turun langsung melihat dan menyalurkan bantuan.

“Saya akan lebih senang bila orang itu terjun langsung, tidak sekedar lihat postingan saya. Karena jika mereka lihat langsung, rasa empati mereka akan keluar.”

Orang yang turun itu pun diingatkan agar tak menangis di depan anak kanker, tak perlu menunjukkan rasa kasihan kepada mereka; begitu pula kepada setiap orangtua yang down dengan kondisi anaknya.

Ratna minta mereka perlihatkan ekspresi semangat hingga anak-anak kanker itu ikut bergairah menjalani hidup. Sebab satu hal penting didapatnya setelah beberapa kali pendampingan, anak kanker akan bersemangat bila diberi perhatian dan kasih sayang.

Namun begitu, ia masih berharap Pemerintah Aceh prioritaskan kesehatan anak-anak Aceh, khususnya di pedalaman, karena anak-anak kanker yang didampingi C-Four kebanyakan berasal dari keluarga tak mampu di pedalaman Aceh, sehingga penanganannya sering terlambat. Ia juga berharap kontribusi pemerintah untuk membantu aksi C-Four, jika memang pemerintah sendiri tak sempat turun tangan.

INGIN DIKENANG ANAK-ANAK SURGA

Harapan anak kanker
Kenangan dari anak kanker untuk C-Four. FOTO: Makmur Dimila

Aksi sosial yang dilakukan Ratna bersama C-Four, sama sekali bukan untuk mencari ketenaran.

“Saya tidak ingin terkenal, tapi saya mau dikenang. Dikenang ini akan abadi kalau anak-anak saya itu sembuh. Suatu saat mereka besar, akan ingat Ibu Ratna. Itulah yang paling abadi. Kalau terkenal, ia lenyap,” tutur perempuan yang dinikahi pria asal Pidie ini.

Prinsip itu dia pegang teguh setelah suatu malam tiba-tiba ia ditelfon Erna Fitri (14) dari Bireuen yang dikenalnya pemalu. Seminggu sebelumnya, anak itu ikut dibawa jalan-jalan ke laut dan berkumpul bersama anak-anak lainnya saat peresmian Rumah Singgah C-Four.

“Saya tidak punya siapa-siapa di sini kecuali suami. Tapi saat mereka yang bukan darah daging saya, bukan keluarga saya, tiba-tiba suatu malam mereka cuma mengucapkan: ‘Buk, saya kangen sama Ibu, Ibu sehat? Kapan Erna kemo lagi?” tutur Ratna, seraya mengeluarkan air mata.

“Makanya saya bilang saya tidak mau terkenal, tapi hanya ingin dikenang. Karena cukup susah saat kita sudah dekat sama anak-anak, tiba-tiba mereka drop, meninggal. Itu sakit sekali saya.”

Ratna bahagia bisa melihat anak-anak kanker itu tersenyum. Itu keberhasilan baginya dan tim yang bekerja suka rela. Tapi ada satu kebahagiaan paling berkesan bagi Ratna.

“Anak-anak kanker yang meninggal ini anak-anak Surga semua. Saya lihat mereka senyum semua,” kenangnya.[]

*Diterbitkan di Rubrik INSPIRASI Tabloid Pikiran Merdeka edisi 110 (8-14 Februari 2016)

Komentar