Kantor PLN Aceh (Foto PM/Oviyandi Emnur)
Kantor PLN Aceh (Foto PM/Oviyandi Emnur)

PLN Aceh terus mengulah. Masyarakat Aceh dipaksa menikmati byar-pet atau pemadamaman listrik hingga berjam-jam setiap hari.

Heri baru saja memangkas sebagian kecil rambut salah satu pelanggan tetapnya. Kala itu, baru ada dua jumpit potongan rambut yang berjatuhan di lantai keramik ruko yang disewanya. Tak lebih dari itu. Jarum jam masih di angka 9. Namun, saat potongan ketiga hendak dilanjutkan, mesin pemangkas rambut miliknya berhenti total. Di waktu yang bersamaan, seluruh area ruko menjadi gelap gulita.

Dalam kondisi yang sedikit panik, Heri mencoba menenangkan pelanggannya yang juga ikut resah. “Bang, sabar bentar ya, mungkin cuma mati sebentar listriknya. Sebentar juga sudah hidup lagi,” ceritanya.

Di waktu yang bersamaan, ia menghidupkan fitur senter di smartphone-nya. Hanya untuk penerang seadanya sembari menunggu lampu menyala, pikirnya.

Setelah setengah jam menunggu, hasilnya masih saja nihil. Listrik di kawasan Lamjamee, Jayabaru, Banda Aceh tak kunjung menyala. Heri semakin panik. Pasalnya, ia juga tak memiliki genset (mesin pembangkit listrik) yang bisa menyuplai aliran listrik sementara ke ruko satu lantai tersebut.

Di saat ia belum menyelesaikan gaya rambut yang diinginkan pelangganya, beberapa pelanggan lain malah memilih pulang. “Saya benar-benar gelagap malam itu. Saya tidak tahu harus berbuat apa terhadap rambut pelanggan saya yang sudah lapang itu. Tidak pernah saya mengalami kejadian seperti itu,” ujar barber 24 tahun itu sembari menghela nafas panjang.

Untung saja pelanggan yang belum selesai dipangkasnya itu mengerti keadaan. Ia memilih pulang dan meminta untuk dihubungi Heri saat listrik sudah normal kembali. “Dua jam kemudian baru hidup lampu. Namun, karena mulai mengantuk, saya memilih tidak menghubunginya lagi malam itu dan langsung tidur,” pungkasnya dengan nada kesal.

Kekesalan serupa diungkapkan pemilik percetakan di kawasan Darussalam, Masrul, 26. Ia mengaku hampir habis kesabaran dengan kondisi listrik yang tak menentu selama beberapa pekan terakhir.

Meski memiliki genset, ia mengaku kerap merasa was-was saat pemadaman listrik mendadak dilakukan PLN. Pasalnya, aku Masrul, meskipun pihaknya telah menghidupkan ginset, jumlah arus listrik yang dikeluarkan belum mampu untuk menghidupkan dua mesin fotocopy.

“Kita sangat susah kalau mati lampu. Kita harus menunda order cetakan dari pelanggan,” tuturnya.

Selain dirugikan karena harus membeli bahan bakar genset, lanjut Masrul, peralatan elektroniknya juga rusak akibat pemadaman listrik mendadak.

Keluhan lain disampaikan pemilik laundry (jasa cuci pakaian) di kawasan Blang Oi, Kecamatan Meuraxa, Banda Aceh. Wanita yang sudah menjalankan usaha laundry selama tiga tahun tersebut mengaku harus beberapa kali meminta maaf kepada pelanggannya karena cucian milik mereka tidak diselesaikan secara tepat waktu.

Bahkan, ia beberapa kali harus menghadapi pelanggan yang marah-marah memintanya mencari alternatif lain agar cucian dapat terselesaikan tepat waktu. “Mereka ya pasti kesallah. Apalagi kalau ada yang kasih baju dinas yang mereka butuhkan secara mendadak,” aku wanita itu saat dijumpai Pikiran Merdeka, Kamis (6/4/2017).

Selain merugikan beberapa pemilik usaha, pemadaman listrik yang dilakukan PLN juga berdampak buruk pada keberlangsungan proses belajar mengajar di lembaga pendidikan. Salah satunya, Pesantren Almanar yang berlokasi di  Desa Lam Permei, Krueng Barona Jaya, Lampermai, Aceh Besar yang harus menghentikan sebagian proses belajar mengajar ketika arus listrik PLN terhenti.

“Kita memang punya genset, tetapi kan tidak bisa semua fasilitasnya kita hidupkan. Kalau semuanya kita hidupkan, arusnya tidak cukup. Ini sudah pasti berimbas pada proses pembelajaran siswa,” ujar Syafrizal El-selatani, guru di pesantren modern itu.

Selain menggangu proses belajar, pemadaman listrik juga berefek pada kelancaran sisitem administrasi yang membutuhkan arus listrik sebagai penunjangnya. “Kan di kantor-kantor kita pakai komputer dan internet untuk urusan ADM pesantren. Kalau listriknya padam, ini semua tidak bisa bekerja maksimal,” pungkas Syarfizal saat dihubungi Pikiran Merdeka, Sabtu (8/4/2017).

DALIH PEMELIHARAAN

Keluhan atas pemadaman listrik tak hanya di dunia nyata, kondisi itu juga dikelukan netizen di media sosial. Ragam postingan dan cemooh dilontarkan terhadap PLN.

Menanggapi hal tersebut, Humas PLN Aceh T Badrul Halid angkat bicara. Dalam sebuah rilis, ia mengatakan PLN Aceh terpaksa melakukan pemadaman bergilir selama per tiga jam di beberapa wilayah di Aceh karena sedang terjadi pemeliharaan perangkat.

Disebutkannya, suplai arus listrik terganggu karena adanya proses upgrading conductor (penggantian kable transmisi dari ACSR 240 mm2 kha 600 A menjadi ACCC 310 mm2 kha 1200 A) di dua saluran—transmisi kiri dan kanan—yang ada di Aceh.

“Sebelumnya, kedua transmisi tersebut masing-masing berkapasitas 120 MW. Setlah di-upgrade kapasitasnya akan bertambah menjadi 240 MW per transmisi (kiri dan kanan),” katanya.

Selama tahap pengerjaan tersebut, jelas Badrul, PLN melakukan pemadaman listrik sementara. “Pemadaman diterapkan di saluran transmisi kiri terlebih dahulu dengan menerapkan sistim pemadaman bergilir per tiga jam,” katanya.

Proses peningkatan konduktor yang mulai dikerjakan sejak 2 Oktober 2016 itu agar suplai arus listrik dari Sumut ke Aceh dapat maksimal. “Peningkatan kapasitas konduktor yang ada di Aceh ini merupakan upgrading perdana yang dilakukan PLN Wilayah Aceh karena permintaan daya listrik masyarakat Aceh yang terus meningkat,” sebut petugas di kantor PLN Aceh, Kamis (6/4/2017).

Dalam proses upgrading tersebut, sebut dia, ada masalah teknis yang harus disikapi PLN. Salah satunya, harus melakukan pemeliharaan terhadap Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Nagan Raya dan pembangkit listrik di Sumatra Utara.

Hal ini dilakukan agar tidak mengganggu upgrading conductor. “Tapi, listrik di Aceh dipastikan sudah mulai normal sejak Rabu malam (5/4),” pungkasnya.[]

Komentar