Banda Aceh—Petani kakao di kawasan Kecamatan Padang Tijie, Kabupaten Pidie mengharapkan program pendampingan petani berkelanjutan dalam upaya peningkatan produksi dan daya saing.

“Kami masih sangat mengharapkan program pendampingan agar berbagai ilmu budidaya yang telah dipelajari dapat diimplementasikan secara maksimal oleh seluruh petani,” kata M Nasir salah seorang petani di Gampong Jurong Anoe Kabupaten Pidie di Banda Aceh, Rabu (05/09).

Ia menjelaskan, para petani kakao di daerahnya telah mendapat berbagai pengetahuan cara membudidayakan kakao melalui program kakao Aceh namun masih butuh pendampingan berkelanjutan.

“Jika tanpa ada program pendampingan secara berkelanjutan maka ada di antara petani yang tidak mengurus tanaman kakao secara intens karena masih perlu pembinaan,” katanya.

Hal senada juga disampaikan petani lainnya Sulaiman Ahmad bahwa program pendampingan akan mampu meningkatkan pendapatan masyarakat di daerah sentra produksi kakao.

Ia menjelaskan hampir sebagian besar penduduk di daerah itu sebagai petani kakao. “Minat masyarakat untuk budidaya kakao terus meningkat seiring terus membaiknya harga coklat kering di pasar dunia.” Provinsi Aceh memiliki lahan kakao produktif sekitar 70.000 hektare dengan rata-rata produksi 400-500 kilogram/hektare. Lahan kakao tersebut tersebar di delapan daerah sentra produksi diantaranya Pidie, Pidie Jaya, Bireuen, Aceh Utara, Aceh Timur dan Aceh Tenggara.

Kakao asal provinsi ujung paling barat Indonesia itu banyak diekspor ke kawasan Eropa dan Amerika Serikat.[ant]

Komentar