Oleh Ediya Moralia

Kontroversi rencana konser Lady Gaga di Jakarta kembali menghangat. Penyanyi eksentrik ini dituding membawa aliran setan. Benarkah ia utusan setan?

Tentu saja sulit mencari konfirmasi kepada setan apakah benar telah mengutus Lady Gaga. Namun yang jelas mengaitkan musik dengan setan, atau sesuatu yang bertolak belakang dengan ajaran agama, bukanlah hal baru.

Di Indonesia, misalnya, pada 1970-an majalah musik Aktuil sempat mengangkat polemik antara dangdut dan rock. Polemik antara Rhoma Irama dan Ucok AKA itu sempat mencuatkan istilah ‘musik dangdut kampungan, musik rock suara setan.”

Di jagat musik, misalnya, kontroversi yang mengaitkan musik dengan setan pernah terjadi pada saat grup The Rolling Stones merilis album Sympathy for the Devil (1969). Saat itu sang vokalis, Mick Jagger, sempat dituding telah menyembah setan oleh beberapa kelompok masyarakat.

Musisi yang sedang berada pada masa keemasanya memang tak sedikit menjadi liar. Lupa diri. Begitu pula John Lennon, sang legenda The Beatles. Ia pernah memuat pernyataan bahwa The Beatles lebih populer daripada Yesus.

Pernyataan John Lennon itu dilansir pada 29 Juli 1966. Saat itu The Beatles sedang luar biasa tenar di seantero dunia. Tak pelak, ia pun mendapat kecaman dari berbagai kelompok agama. John Lennon pun dipaksa minta maaf.

Selain artis yang sedang tenar, memproduksi karya atau pernyataan yang bertentangan agama juga kerap dilakukan para musisi. Ratu Pop Madonna yang sedang terpuruk, misalnya, bersinggungan dengan agama saat akan mengangkat album Like A Prayer. Madonna mencoba menghujat dalam video klip lagunya dengan menampilkan Yesus yang sedang disalib dengan berpakaian serba hitam.

Sementara penyanyi Sir Elton John juga pernah membuat pernyataan mengejutkan. Pelantun The Rocket Man yang juga menikah dengan pembuat film asal Kanada, David Furnish mengatakan kepada majalah Parade, “Saya pikir Yesus adalah seorang penyayang, sosok gay yang sangat cerdas dan orang yang mengerti masalah manusia.”

Lain lagi dengan Lady Gaga yang sejak 27 April lalu baru saja memulai konser dunianya. Meskipun kehadiran penyanyi bernama asli Stefani Joanne Angelina Germanotta disambut hangat di negara-negara Asia, namun tidak semua negara itu menyambut kehadiran sang bintang.

Di Indonesia, salah seorang anggota Majelis Ulama Indonesia menyerukan bahwa menonton konser Lady Gaga haram. Pernyataan itu dikeluarkan sesaat setelah penjualan 40 ribu lembar tiket konser Lady Gaga pada pertengahan Maret lalu. Pernyataan ini sontak menjadi trending topic di jejaring sosial Twitter.

Sementara Front Pembela Islam (FPI) dan Lembaga Adat Besar Republik Indonesia (LABRI) menolak konser Lady Gaga di Jakarta pada 3 Juni 2012, dengan tuduhan Lady Gaga kerap mempromosikan pemujaan terhadap setan. “Lady Gaga menghina semua agama, bahkan orang Kristen di Korea menentangnya,” ujar Ketua DPP FPI Salim Assegaf. “Dia mempromosikan pemujaan setan,” imbuhnya, pekan lalu.

Sosok kelahiran New York,28 Maret 1986, ini memang menarik untuk disimak. Ia seperti sejumlah musisi dunia lainnya yang berani tampil mendobrak kemapanan budaya. Ia kerap tampil urakan, nyeleneh. Ia kerap memposisikan diri sebagai duta setan di dunia. Setan yang mampu menghipnotis penonton menuju dunia lain, dunia setan.

Lirik lagunya, musiknya, dan penampilannya yang bertema setan, sudah membawanya pada pembenaran isu bahwa ia adalah pemuja setan. Plus penampilan vulgar seksual menambah lekat lagi stigma setan bagi Lady Gaga.

Tak pelak, kehadiran Lady Gaga mendapat penolakan dari kelompok agama Kristen, maupun agama Budha, di sejumlah negara lainnya di Asia, Termasuk di Indonesia, tentangan berasal dari kelompok masyarakat Islam.

Awal kehadirannya di pentas musik dunia pada 2008, Lady Gaga terbilang sukses. Dalam album perdana The Fame, Lady Gaga lebih banyak mengeksplorasi lagu tentang ketenaran, kekayaan, dan budaya pop.

Namun berbeda pada album berikutnya, The Fame Monster. Di album ini lagu-lagu Gaga bertemakan monster, vampir, dan kematian. Sementara di album terbaru Born This Way, Lady Gaga seperti ingin mendirikan sekte kepercayaan dengan lagu-lagu bertema kepercayaan dan agama.

Sebagai artis yang membutuhkan personel branding, pilihan Lady Gaga menjadi The Mother Monster bisa jadi tepat. Pilihan uniknya ini mendapat sambutan pecinta musik dunia. Dalam waktu singkat ia berhasil menjaring delapan juta pengikut di Twitter.

Atas nama kebebasan berekspresi, Lady Gaga boleh saja mencampuradukkan sejumlah simbol sakral keagamaan dalam berbagai karyanya, seperti aksi Gaga sebagai biarawati di video klip Alejandro. Lady Gaga juga boleh saja berpenampilan seronok saat tampil di atas panggung.

Namun juga wajar bila pilihannya itu mendapat perlawanan dari kelompok yang ingin mempertahankan kemapanan, kelompok yang ingin mempertahankan kesucian ajaran agama.

Jadi konser Lady Gaga di Indonesia kini telah merubah menjadi ‘medan pertarungan’ antara penyelenggara yang ingin mengeduk keuntungan dari kehadiran puluhan ribu Little Monster di Gelora Bung Karno Jakarta, dan sejumlah ormas yang ingin menggagalkan pertunjukan tersebut dengan dalih Indonesia merupakan negara dengan sila pertama soal ketuhanan, bukan kesetanan.

Kita lihat saja pada 3 Juni nanti, kelompok mana yang akan memenangkan ‘pertarungan’. Namun yang perlu diingat, kita tak ingin pertarungan wacana ini bisa berubah menjadi benturan fisik. Hal ini bisa saja terjadi di sebuah negara dengan pemerintahan yang terlalu banyak rencana namun kerap ragu saat akan mengimplementasikannya.[inc]

Penulis adalah redaktur pelaksana inilah.com (PT Indonesia News Center)

Komentar