Jelang Ramadhan, Pemulihan Fasilitas Keagamaan di Aceh Perlu Dikebut

Screenshot (38)
Kemenag Aceh mengerahkan relawan membersihkan masjid dan madrasah di Bireuen, Aceh Utara, dan Langsa untuk mempercepat pemulihan pascabencana banjir. [Dok. Ist]

PM, Banda Aceh – Pemulihan pascabencana banjir yang melanda Aceh kini tidak hanya berfokus pada perbaikan infrastruktur jalan dan jembatan, namun juga menyasar pada ketahanan spiritual warga.

Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam (Bimas Islam) Kementerian Agama menyatakan, layanan keagamaan di wilayah terdampak harus berjalan cepat dan berkelanjutan, terutama demi menyambut bulan suci Ramadan yang kian dekat.

Direktur Jenderal Bimas Islam, Abu Rokhmad, turun langsung meninjau sejumlah titik pemulihan pada Selasa (13/1/2026).

Dalam kunjungannya, ia menyoroti bahwa kehadiran negara pascabencana wajib menyentuh aspek yang paling mendasar bagi masyarakat Aceh, yakni layanan keagamaan dan pendidikan madrasah.

“Penanganan pascabencana harus menyentuh aspek fisik dan spiritual secara simultan. Masjid, KUA, madrasah, dan ruang-ruang keagamaan lainnya perlu segera dipulihkan agar tetap berfungsi sebagai pusat layanan umat. Layanan keagamaan tidak boleh terhenti,” tegas Abu Rokhmad di sela peninjauannya.

Pemulihan ini tidak dilakukan sendiri oleh Kemenag. Pihkanya juga berkolaborasi dengan BAZNAS, lembaga amil zakat (LAZ), perguruan tinggi, hingga kelompok swadaya masyarakat.

Sinergi ini diwujudkan dalam penyediaan air bersih, pembangunan MCK darurat, dapur umum, hingga perbaikan meunasah-meunasah yang sempat terendam lumpur.

Di Pidie Jaya, fokus utama terlihat pada sektor pendidikan. Abu Rokhmad meninjau MIN 4 Pidie Jaya yang kini tengah dalam proses renovasi. Agar proses belajar-mengajar tidak lumpuh total, pihak Kemenag telah menyiapkan madrasah sementara bagi siswa.

“Madrasah harus tetap menjadi ruang aman dan harapan bagi anak-anak. Ini bagian dari investasi jangka panjang pembangunan sumber daya manusia,” ujarnya.

Di Bireuen dan Aceh Utara, potret pemulihan terlihat pada gerakan gotong royong pembersihan masjid.

Masjid dan meunasah secara strategis tidak hanya sebagai tempat sujud, tetapi juga simpul distribusi bantuan dan pusat pemulihan psikososial melalui program trauma healing yang melibatkan para penyuluh agama.

Di sisi lain, birokrasi layanan umat seperti Kantor Urusan Agama (KUA) dipastikan tetap beroperasi normal. Abu Rokhmad memastikan urusan pencatatan nikah, konsultasi zakat, wakaf, hingga mediasi sosial tetap dilayani meskipun fasilitas fisik mungkin belum pulih seratus persen.

Menurutnya, KUA adalah garda terdepan saat masyarakat menghadapi krisis sosial pascabencana.

Sebagai bentuk dukungan langsung, Kementerian Agama juga menyalurkan logistik keagamaan berupa ribuan sarung, mukena, sajadah, tikar, hingga mushaf Al-Qur’an untuk menggantikan perlengkapan ibadah warga yang rusak atau hanyut terbawa arus.

Upaya ini, menurut Abu, merupakan pengejawantahan dari program Asta Cita pembangunan nasional yang menekankan pada pelayanan publik inklusif dan jaminan keberlanjutan pendidikan.  []

Belum ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

Pria Banglades Diamankan Imigrasi Lhokseumawe
Pria Banglades bersama istrinya saat diinterogasi di Kantor Imigrasi Lhokseumawe, Kamis(13/3/2014). [Pikiran Merdeka | Fahrizal Salim]

Pria Banglades Diamankan Imigrasi Lhokseumawe