Jakarta—Fakta mengejutkan diungkapkan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Ansyad Mbai terkait rencana kelompok teroris mengincar gedung DPR untuk diledakkan. Apa alasan mereka mengincar para wakil rakyat di Senayan?

Jika selama ini teroris mengincar lokasi-lokasi atau orang-orang yang berkaitan dengan kepentingan asing, seperti gedung dan hotel terutama yang berkaitan dengan Amerika Serikat, belakangan teroris mengincar aparat keamanan terutama polisi. Aksi teror pelemparan granat dan penembakan polisi di Solo akhir Agustus lalu membuktikannya.

Pernyataan Ansyad jika teroris telah memiliki denah gedung DPR berdasarkan pengakuan tersangka teroris Mujib dan Nain yang ditangkap di Poso Juli lalu. Dalam pengakuan ke polisi, Mujib bahkan mengungkapkan dirinya sudah melakukan survei.

Atas pernyataan itu, Wakil Ketua Komisi III Nasir Djamil menyatakan tidak percaya. Sebab, jika pun ada niatan sekelompok orang untuk menghancurkan gedung DPR, hal itu dapat dengan mudah dilakukan. Apalagi pengamanan di gedung itu tidak begitu ketat dan diatur agar semua rakyat bisa masuk.

“Saya enggak percaya kalau gedung DPR jadi sasaran teroris. Kalau mau cari anggota dewan mudah mau cari kemana-mana,” kata Nasir di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (5/9).

Namun, pengamat masalah keamanan dan terorisme yang juga dosen kajian terorisme di FISIP Universitas Indonesia Andi Widjayanto punya sejumlah analisis mengapa gedung DPR termasuk salah satu yang diincar teroris. Menurutnya, berdasarkan dokumen dari hasil penggerebekan teroris di Jatiasih, Bekasi pada Agustus 2009 silam, diketahui jika sasaran para teroris ini semakin meluas.

“Mereka menetapkan musuh mereka adalah semua pihak yang bertanggung jawab terhadap eksekusi mati para pelaku bom Bali. Selain itu musuh mereka adalah pihak-pihak yang menghambat mereka dalam pelaksanaan tujuan mereka mendirikan negara Islam,” ujarnya kepada merdeka.com, Kamis (6/9).

Sementara DPR, lanjut Andi, menjadi sasaran karena para anggota DPR yang menyetujui UU 15/2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme yang memberikan dukungan kuat bagi peningkatan aksi aparat keamanan dalam memberantas terorisme.

“Segala sesuatu yang mereka sebut thogut itu jadi sasaran mereka seperti polisi, presiden, dan DPR. Bisa dikatakan jika target mereka meluas,” jelas Andi. Thoghut atau thaghut adalah istilah dalam agama Islam yang merujuk kepada setiap yang disembah selain Allah SWT.

Saat ini, kata Andi, pascakematian Noordin M Top dan Dulmatin, tidak ada lagi pemimpin kelompok teroris. Mereka terpecah-pecah menjadi sel-sel kecil yang aktif secara masing-masing. Setiap sel semakin otonom, tapi jika ditelusuri secara genealogi, semua sel-sel itu bisa terlacak. “Mereka masih dalam sebuah silsilah besar kelompok teroris yang sama,” ungkapnya.

Aparat keamanan, imbuh dia, sudah memiliki data-data para teroris ini. Namun yang sulit adalah mengantisipasi kapan masing-masing sel itu akan bergerak. “Itu makanya, aparat terlihat sangat mudah menangkap sejumlah orang dan mengetahui pelaku teror di Solo hanya beberapa hari setelah peristiwa,” pungkasnya.[msn]

Komentar