PM, Banda Aceh – Gerakan Jeda untuk Iklim tengah gencar dikampanyekan di berbagai belahan dunia. Hingga kini, kampanye terkait krisis iklim global ini telah diikuti 150 negara.

Di Aceh, seruan ini digerakkan oleh 100 pemuda dari berbagai komunitas dan elemen masyarakat sipil. Mengambil tema “Hidup Sehat Lingkungan Terawat”, Gerakan Jeda Iklim Aceh 2019 akan digaungkan melalui media massa, diskusi publik dan teatrikal bumi sebagai ruang edukasi tentang keadilan iklim.

Selain itu, juga akan digelar workshop pengolahan sampah dengan tema “Sampahmu Tanggung Jawabmu”, pemutaran film melalui layar tancap, dan Aksi Bersih Gampong (Peugleh Gampong). Kegiatan ini terfokus pada dua lokasi, yaitu Gampong Nusa dan Lambaro Seubun, Aceh Besar, mulai 21-22 September 2019.

Tokoh perempuan dari Gampong Nusa, Rubama dalam keterangan persnya, Jumat (20/9/2019) menuturkan, saat ini gerakan muda dibutuhkan dalam menyuarakan pesan penting tentang krisis iklim.

“Gerakan ini merupakan transfer knowledge terkait situasi krisis iklim yang melanda bumi bagi masyarakat, kita harapkan, dengan internalisasi nilai dan kepedulian terhadap lingkungan ini bisa menjadi aksi nyata untuk menjaga lingkungan,” ujarnya.

Lebih jauh Rubama menjelaskan, bumi yang semakin panas telah berdampak buruk bagi jutaan menusia. Karenanya, perlu tindakan segera dengan mendorong transisi dari energi kotor menjadi 100 persen energi terbarukan.

Menurutnya, generasi muda Aceh yang peduli terhadap persoalan ini perlu menjadi bagian dari kampanye Jeda Iklim 2019. Pihaknya mengajak masyarakat, khususnya pemuda di Aceh aktif dan bersinergi untuk merawat bumi dan menjaga keberlanjutan lingkungan yang sehat.

“Ini dapat dimulai dari diri sendiri dan dengan aktivitas kecil, agar kompleksitas darurat iklim dan energi kotor di bumi dapat segera diganti dengan energi lebih sehat tanpa kecacatan lingkungan,” tandasnya.

Razikin Akbar, pemuda Aceh yang ikut ambil bagian dalam gerakan ini mengatakan, perubahan iklim tidak bisa dianggap hanya sebuah fenomena alam, karena ada kontribusi manusia di dalamnya.

“Untuk itu mari kita sebagai makhluk bumi yang berakal, bertanggung jawab untuk menjaga bumi dengan cara sederhana mulai dari diri sendiri, berprilaku tidak membebani bumi dengan sampah yang kita hasilkan dan sebagainya,” tukasnya.

Sementara itu, Presidium Balai Syura, Norma Manalu mengatakan, kepedulian ini penting untuk menegaskan pandangan bahwa manusia lah yang bergantung pada alam, bukan sebaliknya.

“Jadi mindset kita semua memang perlu diubah. Pemerintah, pihak swasta dan juga masyarakat harus memahaminya. Nyaris tidak ada waktu lagi jika tidak dimulai dari sekarang. Kita perlu bertanya pada diri sendiri setiap harinya, aksi kecil apa yang sudah kita lakukan hari ini untuk menjaga bumi dan alam,” imbuh Norma.

Jeda Iklim Aceh 2019 merupakan hasil kolaborasi sejumlah gerakan muda untuk menyuarakan darurat iklim, di antaranya Lembaga Pariwisata Nusa, Youth Forum of Aceh, Komunitas Al-Hayah, Solidaritas Perempuan, Balai Syura Ureung Inoeng Aceh, Komunitas Bina Damai, Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia, Sekolah HAM Kontras dan lainnya. []

Komentar