Fajar Siddiq dengan rapai buatannya. (Makmur Dimila/Pikiran Merdeka)

Tak hanya memainkannya, semua alat musik tradisi Aceh bisa diciptakan Fajar Siddiq.

Oleh Makmur Dimila

Kapaloe kapaloe paloe
Pue yang Nek yue bloe ulon ka tuwo
Lon bloe bakong Nek kadang ubat gigoe
Meunan lon puwoe lon neuseurapa
Meu’ah Nek peumeu’ah cuco

Sebait lirik lagu “Kapaloe” ciptaan Said Jaya itu kerap mengalun di Aceh pada era awal 2000-an. Instrumen musiknya cukup enak didengar, selain syair jenakanya yang mengandung pesan moral efek penggunaan narkoba.

“Itu instrumen musik pertama yang saya ciptakan untuk album ‘Kapaloe’ Said Jaya,” tutur Fajar Siddiq, kepada Pikiran Merdeka, Jumat, 26 Februari 2016, seraya menyuruh dua putranya segera latihan memainkan rapai dan suling.

Anak pertamanya, Jaifani Nuriyanallah, lincah memukul gendang rapai yang ia produksi sendiri. Sementara anak keduanya, Jukhri Maisyuri, meniup suling penuh percaya diri—bekal untuk diajari memainkan seurunee kale.

Fajar menitiskan kesenian kepada dua putranya yang masih duduk di bangku SD itu sebagai wujud regenerasi. Setiap sore, ia perkenalkan anaknya beragam not lagu Aceh, di samping memainkan alat musik tradisi.

Dengan begitu, ia tak hanya menciptakan alat musik tradisional Aceh, tetapi juga membentuk generasi yang kelak menggantikan posisinya dalam memainkan alat musik itu sendiri. Sebuah gerakan melestarikan seni lokal dari rumahnya sendiri.

Bukan hanya anaknya, Fajar juga melatih anak-anak usia SD-SMP di Kompleks Perumahan Kuwait, Gampong Kayee Lee, Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar, tempat ia tinggal kini bersama istri dan tiga anaknya.

Melalui Sanggar Guransang yang dipimpin istrinya Marliani semenjak tahun 2013, ia akan membangun gerakan pelestarian seni Aceh, yang mungkin selama ini jarang dilakukan di sekolah-sekolah formal.

“Biasa kami buat latihan di halaman rumah untuk 10 – 15 orang. Atau di aula SMK Al-Mubarkeya (sebelah kompleks perumahan) jika pesertanya lebih banyak.”

Pria kelahiran Aceh Barat itu juga sering diundang ke sekolah-sekolah dan sanggar di Banda Aceh dan Aceh Besar, untuk melatih anak-anak pelajari kesenian daerah, sekaligus membuat alat musik tradisi.

“Semua itu saya lakukan untuk melestarikan seni tradisi Aceh yang mulai kurang diminati oleh generasi Aceh sendiri, di saat orang-orang di luar Aceh justru sangat menggemarinya,” tutur Fajar.

Fajar melatih putranya Jukhri dan Jaifani. (Makmur Dimila/Pikiran Merdeka)
Fajar melatih putranya Jukhri dan Jaifani. (Makmur Dimila/Pikiran Merdeka)

Terabaikan di Negeri Sendiri

Ia menyebutkan, berdasarkan kunjungannya beberapa kali ke Jakarta, ia mendapati pelajar di Jabodetabek dalam 5 tahun terakhir cukup fasih dalam memainkan sendratasik (seni drama tari dan musik) khas Aceh, yang diajarkan Dek Gam, seniman asal Aceh di Jakarta, melalui sanggar Ratoh Jaroe-nya.

Bahkan sanggar-sanggar binaan Dek Gam dan kawan-kawannya lebih sering diundang tampil ke luar negeri dibanding sanggar-sanggar seni dari Aceh sendiri.

Fenomena itu menurut Fajar cukup wajar. Sebab Pemerintah Aceh sendiri kurang peduli pada denyut seni daerahnya. Bahkan pemerintah tak menyambut terobosan sekolah-sekolah di Aceh yang sudah menjalankan kurikulum budaya lokal semenjak beberapa tahun terakhir.

Seharusnya, sebut dia, pemerintah bisa bikin festival seni se-Aceh secara rutin dengan menyediakan hadiah (apresiasi) yang besar, tidak sekadar trofi, sehingga anak-anak Aceh pun punya semangat lebih besar dalam menekuni seni khas daerah asalnya.

Di sisi lain, sekolah pun kekurangan guru kesenian. Kondisi ini didapati Fajar saat ia turun ke sekolah-sekolah. Namun anehnya, sekolah tak menghadirkan tenaga pengajar profesional dari luar.

Padahal ia yakin sekali, seorang anak akan bisa bermain musik kalau memiliki salah satu dari dua hal utama: bakat atau kemauan yang kuat.

“Saya bisa tahu seorang anak itu bisa atau tidak bisa memainkan alat musik saat ia pertama kali memegang dan memainkan alat musik. Jika saya lihat ia bisa pada awalnya, maka ia pasti akan bisa kemudian,” tuturnya.

Fajar juga mengungkapkan soal keprihatinan perajin tradisional yang bertebaran di berbagai pelosok Aceh. Mereka tak diperhatikan pemerintah. Bahkan Dekranasda (Dewan Kerajinan Nasional Daerah) Aceh yang punya fungsi utama mengelola kerajinan daerah, juga terkesan tutup mata. Kondisi itu membuat para perajin harus berjuang sendiri-sendiri.

Begitupun Fajar. Sudah sejak 1998, ia menjadikan bagian belakang rumahnya sebagai workshop. Di bengkel musik yang bersisian dengan dapur rumah dua kamar itu, terdapat satu mesin bubut, cetakan rapai, dan perkakas kerja lainnya, berbaur dengan tumpukan rapai siap pakai dan ampas-ampas kayu. Agak kumuh.

“Pemerintah seakan-akan tidak terenyuh melihat kondisi kami. Mereka sebenarnya tahu itu, dari pemberitaan koran maupun televisi,” ketus Fajar, yang duduk di hadapan rapai buatannya.

Pada dinding tempat ia bersandar, persis di atas kepalanya, terpajang piagam penghargaan satu-satunya yang ia bisa tunjukkan ke orang lain. Piagam penghargaan “Seniman Pengrajin Alat Musik Tradisi Aceh” yang diterimanya dalam pagelaran Piasan Seni Banda Aceh 2014.

“Selebihnya sudah lenyap saat tsunami 2004,” kata dia.

Karyawan di bengkel seni Fajar Siddiq mengerjakan rapai (Makmur Dimila/Pikiran Merdeka)
Karyawan di bengkel seni Fajar Siddiq mengerjakan rapai (Makmur Dimila/Pikiran Merdeka)

Menolak Tawaran Malaysia

Pada puncak kariernya sebagai pemusik dan pelestari alat musik tradisi Aceh, Fajar selama tahun 2000 – 2003 yang sering tampil di Asia Tenggara bersama teman-temannya, sempat delapan kali ditawarkan bekerja di Malaysia.

Ia dan dua temannya disodori surat kontrak kerja dengan jaminan fasilitas rumah dan mobil serta biaya hidup, untuk mengajari generasi muda Negeri Jiran dalam membuat alat seni tradisi Aceh itu.

Dua temannya menerima tawaran itu, tapi Fajar menolak. Ia takut alat-alat seni tradisi Aceh kelak dipatenkan oleh Malaysia. Selain, kenyataan Aceh yang masih membutuhkan orang seperti dirinya, untuk melestarikan kesenian dari tanah lahirnya.

“Kalau bukan kita sendiri, siapa lagi yang melestarikan budaya kita,” ucap Fajar mengutip ungkapan alm. Ibrahim Hasan Gubernur Aceh periode 1986 – 1993 saat ditanya anaknya kenapa seorang tokoh Aceh seperti ayahnya berbicara di forum publik dengan Bahasa Indonesia yang kental akan aksen ke-Aceh-an.

“Jujur, Ibrahim Hasan salah satu inspirasi saya dalam melestarikan seni dan budaya Aceh. Ia bahkan menjawab kepada anaknya saat itu, ‘saya bisa beberapa bahasa asing, tapi ada tempatnya.”

Suatu kali pada 1991 saat berlangsungnya Festival Seudati tingkat SMP se-Aceh, Fajar mendengar sambutan Ibrahim Hasan persis seperti orang Aceh bertutur Bahasa Indonesia yang baru datang dari kampung ke kota.

“Sejauh ini saya tak melihat ada tokoh Aceh lainnya yang mau berbicara seperti almarhum Ibrahim Hasan di depan publik,” aku Fajar.

Dilahirkan Menjadi Seniman  

Fajar Siddiq dibesarkan oleh keluarga seniman. Ayahnya, Jainun, seorang tabib dan seniman, yaitu syahi seudati dan rapai. Begitupun ibunya, Nur Asri, seorang pelatih tari di tingkat desa. Kedua orangtunya pun asli Nagan Raya (kini Aceh Barat).

“Saya sendiri mulai menggemari dunia seni semenjak duduk di bangku SD, yang berlanjut hingga SMA,” cerita sulung dari dua bersaudara ini.

Sewaktu menempuh pendidikan dasar di MIN Kuala Tuha, Nagan Raya (dulu Aceh Barat), Fajar mendapati dirinya mulai menciptakan seurune pade—suling terbuat dari batag padi, suling, dan menyanyi. Ia belajar otodidak, bukan diajari guru. Hingga ia menemukan not dasar lagu: do re mi fa sol la si do’.

Beralih ke masa SMP Padang Panyang, ia mulai bikin band bersama teman-teman kelas, J’ Foris Band. Ia sebagai vokalis, menyanyikan lagu-lagu pop dan dangdut yang populer saat itu, seperti Rhoma Irama, Meggy Z, dan lagu India.

Adanya grup band membuat Fajar remaja mulai mengerti tangga nada. Ia menghafal not lagu-lagu itu untuk dibawakan dengan suling, karena saat itu belum ada yang memainkan alat musik tiup di daerahnya. Ia terus belajar memainkan suling agar bisa tampil bersama band.

Dari situlah, sejak kelas 3 SMP, kemampuannya memainkan alat musik tiup mulai terarah. Namun ketika tamat SMP, band berbasis di Seunagan, Nagan Raya itu, katanya sudah ada pemain suling dari luar Aceh, Jawa Tengah.

“Tapi saat dites, saya lihat kemampun dia masih di bawah saya, begitupun kata orang lain,” ceritanya. “Kenapa dipilih dia, karena rupanya adik perempuan pemain suling itu dekat dengan si pemilik band itu,” kenangnya.

Fajar pun merasa tersingkir saat itu, hingga ia tak lagi bergabung dengan J’ Foris. Tak lama, ia bikin band baru bernama Band Blok Siploh, yang kemudian berhasil menyaingi pendahulunya.

Prestasi Fajar bersama Blok Siploh tercium Pimpinan Sandiwara Sinar Harapan. Ia lantas dikontrak oleh grup musik yang terkenal hingga nasional itu sebagai pemain suling.

Di grup inilah, selagi mengenyam pendidikan SMA, ia meraup banyak ilmu bermusik, dari seniman-seniman Medan dan Jawa yang bergabung dalam Sandiwara Sinar Harapan. Di samping itu, ia juga sering isi acara pesta kawin di kampung-kampung.

Tahun berganti tahun, Fajar terus mengembangkan bakatnya, baik dalam bermusik maupun menciptakan alatnya. Ia bikin serune kalee dan rapai secara alami, tanpa berguru pada siapapun, kecuali pada naluri dan pikiran.

Usai tamat SMA, selagi membantu orangtuanya di kampung halaman, Fajar mendapat kontrak dari Sanggar Tari Cut Nyak Dhien Provinsi Aceh. Ia kemudian bekerja di situ dalam kurun 1999 – 2002, untuk mengajari generasi membuat rapai dan seurune kalee, di samping menciptakan instrumen musik untuk berbagai tarian dan lagu.

Dari sini, ia mulai mendalami irama-irama lagu Aceh, hingga diundang ke sekolah dan perguruan tinggi untuk membidani sanggar-sanggar. Pada masa itu pula, ia dan beberapa kawannya, menekuni permainan musik seurune kalee.

Dalam riwayat keseniannya, Fajar kemudian sering dikontrak oleh sanggar pendopo dari berbagai daerah di Aceh. Kemudian membuat irama musik untuk sanggar Ratoh Jaroe Jakarta. Selepas tsunami, Fajar fokus pada industri rumah tangganya.

“Hingga hari ini saya tak pernah masuk sekolah musik atau mengambil kursus seni. Murni bakat alami.” Fajar hanya tersenyum. “Inilah kelebihan yang Allah berikan pada saya,” sambungnya.

Ia pun berharap, dunia seni Aceh janganlah “meupaloe” seperti dalam lagu Kapalo Said Jaya di atas. Jangan menjadi cucu yang tidak paham pesan neneknya.[]

Diterbitkan pada rubrik Inspirasi Tabloid Pikiran Merdeka edisi 113, 29 Februari – 6 Maret 2016

Komentar

AdvertisementIklan Selamat Hari Raya Idul Adha BPKA