Tarmizi - Irwandi

Dukungan PDI-P dinilai memperkuat posisi Irwandi Yusuf menghadapi pesaingnya di Pilkada 2017. Namun, partai moncong benteng putih belum mengeluarkan dukungan resmi.

Bendera lima partai menghiasi tiap sudut bangunan di Jalan Teuku Umar, Seutui, Banda Aceh, Kamis pekan lalu. Ratusan orang memadati area itu. Pemandangan ini membuat gedung tersebut berbeda dari biasanya.

Irwandi Yusuf bersama Nova Iriansyah yang akan maju sebagai calon gubernur dan wakil gubernur Aceh pada Pilkada 2017 resmi mengenalkan diri dan partai pendukungnya dalam sebuah konferensi pers. Bertempat di Taman Budaya, Banda Aceh, pasangan ini disambut ratusan relawan dan kader partai pendukung.

Kegiatan yang dimulai sebelum siang itu menghadirkan seluruh perwakilan partai pendukung Irwandi-Nova. Sebut saja dua partai nasional, Partai Demokrat dan Partai Kebangkitan Bangsa. Lalu dua partai lokal, Partai Nasional Aceh dan Partai Damai Aceh.

Dalam Pilkada 2017, dua figur ini maju dalam satu paket, setelah pada Pilakda 2012 keduanya maju dengan pasangan berbeda. Irwandi maju dari jalur indpenden dengan menggandeng Muhyan Yunan sebagai wakil, sedangkan Nova mendampingi Muhamamd Nazar dengan modal dukungan Partai Demokrat dan PPP. Saat itu, keduanya kalah dari pasangan Zaini Abdullah-Muzakir Manaf yang diusung Partai Aceh.

Dirunut lebih jauh ke belakang, Irwandi Yusuf merupakan Gubernur Aceh periode 2007-2012. Kala itu, ia gubernur pertama di Indonesia yang maju dari jalur independen. Ia juga mantan petinggi Gerakan Aceh Merdeka yang kemudian mendirikan Partai Nasional Aceh. Sedangkan Nova Iriansyah merupakan mantan anggota DPR RI periode 2009-2014 dan kini menjabat Ketua DPD Partai Demokrat Aceh.

Setelah memperoleh stempel dukungan empat partai politik, pasangan ini hampir dipastikan juga mendapat dukungan PDI-P. Ratusan bendera partai besutan Megawati Soekarnoputri itu terlihat memeriahkan acara pengenalan Cagub dan Cawagub tersebut. Dalam baliho maupun spanduk yang disebarkan panitia, juga ditampilkan logo partai moncong putih.

Acara itu antara lain dihadiri Sekjend Partai Demokrat Hinca Pandjaitan. Ia didampingi oleh Wakil Sekjen yang juga anggota DPR RI asal Aceh, T Rifky Harsya. Kolega Rifky di Senayan, Muslim juga terlihat di acara tersebut. Dari PKB, seorang Ketua DPP juga hadir, yakni Lukman Edy. Sementara dari PDA dan PNA, dihadiri langsung oleh ketua umum masing-masing, Irwansyah dan Muhibussabri.

Sementara itu, Ketua DPW PDI-P Aceh Karimun Usman terlihat di lokasi acara. Namun, ia menolak maju ke atas panggung. Alasanya, tak etis karena partainya belum menyerahkan dukungan resmi. Meski begitu, ia memberi sinyal mendukung Irwandi. Akhirnya, ia duduk bersama tamu undangan lain, seperti Ketua DPD I Golkar Aceh TM Nurlif.

“Yang duduk di depan adalah petinggi partai yang sudah resmi mendukung. Saya juga dipersilahkan duduk di depan, namun saya menolaknya karena pada saat ini PDIP belum resmi mendukung. PDIP Aceh memang sudah menayatakan mendukung Irwandi, namun kita masih menunggu keputusan DPP,” jelas Karimun.

Di sisi lain, Pilakda Aceh 2017 nyatanya akan menjadi perebutan dukungan Parpol penyokong Pemerintah Jokowi. Dua nama yang berpeluang manjadi jagoan Parpol yang tengah berkuasa, yakni Tarmizi Karim dan Irwandi Yusuf. Sebelumnya, Tarmizi Karim yang berpasangan dengan Zaini Djalil telah resmi didukung oleh Partai NasDem, PPP dan PKPI.

Tarmizi pernah menjabat Bupati Aceh Utara dan Pj Gubernur Aceh. Sedangkan Zaini Djalil adalah mantan kader PDIP yang kini menjabat Ketua DPW NasDem Aceh.

PDI-P MENENTUKAN

Direktur Aceh Institute, Fajran Zain mengungkapkan, irama politik Jakarta akan menentukan ke calon mana yang akan didukung dalam Pilkada Aceh 2017. Menurut dia, kepentingan pemerintah pusat juga akan terlihat dalam menentukan pasangan yang “direstui” Pemerintahan Jokowi.

“Peta terakhir, dengan dukungan PDI-P ke Irwandi, besar kemungkinan peta dukungan Parnas akan beralih ke Irwandi. Sebelumnya juga ada skenario, koalisi Parnas akan berhadapan dengan pemerintahan yang eksis di Aceh,” tutur Fajran, Jumat pekan lalu.

“Apakah dukungan PDI-P sebatas DPW atau juga akan didukung DPP?” sambung Fajran.

Fajran menuturkan, dukungan DPW PDI-P Aceh kepada Irwandi akan berdampak signifikan jika dukungan ini mewakili dukungan DPP PDI-P.

“Ini adalah energi besar bagi Irwandi yang mengokohkan posisinya memasuki kontestasi. Kalkulasi Parpol pendukung Irwandi sebelumnya  masih kecil dibanding yang lain. Namun, dengan dukungan PDI-P meski tak ada kursi di Parlemen Aceh, tapi partai ini juga punya basis massa.”

Selain sebagai partai utama di Pemerintahan Jokowi, PDI-P diketahui punya basis massa di wilayah tengah Aceh. Dimana, pemilih PDI-P di dataran tinggi Gayo berhasil mengantarkan mantan Bupati Bener Meriah Tagore ke Senayan.

“Apalagi Tagore dulu dekat dengan Irwandi, jika dia mampu memobislisasi massa pendukungnya memilih Irwandi, ini tentu menguntungkan Irwandi,” sambungnya. “Setidaknya dukungan ini darah segar untuk Irwandi untuk mendongkrak suara di wilayah tengah.”

Menurut dia, jika benar nantinya DPP PDI-P mendukung Irwandi, bukan tidak mungkin koalisi Parnas yang awalnya mayoritas di kubu Tarmizi akan lari ke Irwandi.

Berdasarkan informasi yang ia dapatkan, kata Fajran, dukungan Surya Paloh kepada pasangan Tarmizi Karim-Zaini Djalil merupakan dukungan setengah hati.

“Feeling saya, berdasarkan sumber yang saya dapat, dukungan Paloh kepada pasangan Tarmizi–Zaini tidak sepenuh hati,” ujar akademisi UIN Ar-Raniry ini.

Analisa Fajran, Paloh yang notabenenya seorang pebisnis juga mlihat peluang kemungkinan Irwandi menang jika ikut didukung PDI-P.

“Dia pebisnis, di satu sisi dia mengamankan wibawa partai. Masak partai besar tak punya kader. Di sisi lain, sebagai pebisnis, tentu logika-logika bisnisnya tak mungkin dia kesampingkan,” terang Fajran. “Dia pasang dua kaki.”

Nantinya, jika pasangan Tarmizi-Zaini menang, kata Fajran, Paloh akan menikmati kemenangan tersebut karena menempatkan kadernya sebagai wakil. “Namun, jika Irwandi menang dengan didukung PDIP, maka Paloh juga akan merasa punya kontribusi dalam kemenangan tersebut,” tandas Fajran.[]

Komentar