Kondisi Jalan T Hamzah Bendara depan RSUD dr Fauziah Bireuen
Kondisi Jalan T Hamzah Bendara depan RSUD dr Fauziah Bireuen

“Belum sempat dioperasi, orangtua kami mengembuskan nafas terakhir di depan dokter bedah. Kami hanya bisa pasrah kepada Allah, tapi bagi kami, orang tua kami terlambat ditangani,” ujar Munadi (35) kepada Pikiran Merdeka, berkaca-kaca.

Dia menceritakan kembali hari naas yang mengalami ayahnya, Teungku Jafar bin Adam. Pada Minggu, 24 Juli 2016, jam 1 siang, almarhum ayahnya mengalami kecelakaan di Jalan Gle Kuprai, Kecamatan Gandapura, Bireuen.

Ayahnya kemudian dibawa ke Puskesmas Gandapura oleh warga setempat. Puskesmas tak mampu tangani, karena kondisi pasien sangat kritis.

Korban dirujuk ke RSUD Fauziah Bireuen. Sekitar pukul 15.00 WIB, pasien diterima beberapa perawat yang sedang bertugas di UGD. Pasien selanjutnya di-rontgen dua kali.

Hasil analisa dokter tiga jam kemudian, pasien mengalami kebocoran usus. Dokter menganjurkan pasien untuk dipersiapkan proses operasi sehabis Magrib. Pasien juga diminta berpuasa.

Setelah magrib, pihak keluarga kembali mempertanyakan kepada perawat jaga IGD. “Perawat mengatakan harus menunggu hasil tes jantung, dan mereka bilang sebentar lagi,” ceritanya.

Munadi dan keluarganya harus berjam-jam menunggu kabar di UGD seraya terus mengkonfirmasi ke perawat. Tapi mereka masih saja mendapat beragam alasan dari rumah sakit.

Tepat pada pukul 21.00 WIB, keluarga Munadi dikejutkan oleh kabar tiba-tiba dari petugas UGD, operasi ditunda dengan alasan dokter tidak masuk. Mereka panik, gelisah, gundah, dan tentu kecewa.

Keluarga Teungku Jafar harus bersabar hingga keesokannya. Setelah seharian menunggu, tepat pada pukul 13.00 WIB, Senin, 25 Juli 2016, petugas mengkonfirmasi pasien akan segera dioperasi. Dokter baru masuk.

Namun, ketika melihat kondisi pasien, dokter berkilah, kondisi pasien sudah sangat kritis. Dokter mengatakan, kenapa tak ada yang menghubunginya padahal semalaman dia tidak ada pekerjaan apapun. Berbanding terbalik dengan pernyataan perawat.

“Dokter T Mahdi Syafri SpB, dokter bedah yang memeriksa orang tua kami hari itu sempat mengatakan, kalau dirujuk ke Banda Aceh kondisi orang tua kami sudah sangat lemas. Namun kalau dioperasi hasilnya 50:50, sehingga kami tidak memiliki pilihan lain selain menyerahkan semuanya kepada Allah,” kisah Munadi.

Satu jam kemudian, korban dimasukkan ke ruang operasi. Namun, belum sempat dioperasi, ayahnya mengembuskan nafas terakhir di depan dokter bedah tersebut, tepat pukul 14.00 WIB.

“Yang sangat mengecewakan, tidak seorangpun keluarga diizinkan masuk untuk menemani. Beberapa saat kami menunggu, dokter keluar dan mengatakan bahwa orangtua kami telah tiada dan operasi tidak jadi dilakukan,” ceritanya.

Keluarga Munadi sempat mempublis keluhan mereka terhadap pelayanan RSUD Fauziah ke salah satu media lokal, yang diterbitkan pada Selasa, 26 Juli 2016.

“Kami keluarga bukannya tidak menerima apa yang telah Allah takdirkan kepada orang tua kami, tapi setidaknya kami sudah berikhtiar. Kami sangat kecewa terhadap pelayanan di RSUD Fauziah, tepatnya pelayanan di UG,” tulis Munadi mewakili keluarga.

“Kami tidak menuntut. Tapi ke depan pelayanannya lebih ditingkatkan, terlebih ini adalah RS umum supaya apa yang terjadi pada keluarga kami tidak terjadi pada masyarakat Bireuen umumnya,” sambung putra kedua almarhum itu.

Namun menurut Munandi, pihak RSU dr Fauziah sempat melayat ke rumah almarhum untuk takziah. Mereka melayaninya selayaknya saudara mereka.

Bukan Kasus Pertama

Dugaan pembiaran pasien bukan kali pertama terjadi RSU Fauziah Bireuen. Pada awal Juni 2016, Helmi yang merupakan Kepala Pos Polisi (Kapospol) Kuala membawa istrinya, Badriah Binti Arbi (49), yang mengalami sesak nafas ke rumah sakit plat merah itu.

“Istri saya masuk ke ruangan Jamsostek yang AC-nya rusak. Setelah satu hari berada di ruangan itu, baru masuk dr Era Muliana yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam,” kisah Helmi.

Saat itu, lanjut dia, kondisi istrinya tambah parah namun hanya ditangani dengan infus dan obat. “Istri saya jungkir balik dan meringis-ringis di ranjang. Kencing berak juga di ranjang, namun belum juga ada penangganan lanjutan dari pihak rumah sakit,” papar Helmi.

Melihat kondisi tersebut, sebut dia, pihaknya meminta pasien untuk dirujuk ke Banda Aceh, namun perawat tidak mengizinkan. “Saya minta rujuk ke Banda Aceh, namun tidak diizinkan oleh perawat jaga dengan alasan masih bisa ditangani di RSU Fauziah. Namun, setelah enam hari perawatan, istri saya meninggal di ruangan itu,” ungkap Helmi.

Menurut Helmi, selama enam hari istrinya dirawat di RSU Fauziah hanya 3 kali diperiksa oleh dokter spesialis panyakit dalam. “Selebihnya hanya ditangani oleh perawat jaga,” katanya.

Bukan hanya masalah perawatan, menurut Helmi, kondisi ruangan yang AC-nya rusak juga terkesan dibiarkan pihak RSU Fauziah Bireuen. Sehingga, isterinya harus diurus pindah ke ruangan Perawatan Dalam Wanita (RPDW) yang AC-nya lumayan bagus.

“Istri saya sebelum meninggal sempat membisikkan kepada saya bahwa dirinya ketika bernafas sakit di dadanya. Saya pasrah dan sedih, bercampur marah terhadap proses penangganan terhadap istri saya yang tidak ada tindakan apa-apa selama perawatan,” tuturnya.

Dia juga dipungut biaya ambulans Rp360 ribu saat mengantarkan jenazah istrinya ke rumah duka. Padahal, selama ini digembar-gemborkan bahwa penggunaan ambulans milik RSU Fauziah tidak dibebankan biaya kepada masyarakat.[]

Komentar