Kutacane—Banjir bandang menerjang puluhan desa di Aceh Tenggara (Agara), Kamis (12/4) malam. Selain menghancurkan rumah penduduk, musibah itu juga menyebabkan jalan lintas provinsi yang menghubungkan Medan dengan Kutacane lumpuh total.

Kendaraan roda dua dan empat, hingga Jumat (13/4) sore tidak bisa melintas, sehingga pengendara harus mencari jalur alternatif. Jalur utama yang menghubungkan dua kota itu tak bisa dilewati karena tertutup lumpur setinggi sekira 40 sentimeter.

Tidak hanya lumpur, beberapa titik jalan juga dipenuhi kayu gelondongan dan batu besar. Hingga tadi malam, belum ada alat berat yang dikerahkan untuk membersihakan lumpur serta memindahkan kayu dan batu.

Banjir bandang itu menyebabkan ratusan rumah terendam dan rusak berat. Sebagian lainnya, terendam lumpur. Namun belum ada laporan korban jiwa dalam kejadian ini.

Informasi yang dihimpun, Kamis (12/4) malam, usai diguyur hujan lebat, air dan lumpur luapan sungai Likat dan sungai Rikit, menggenangi permukiman warga Kecamatan Tusam, Aceh Tenggara. Ribuan warga Rikit Bur, Kerukunan Lawe Dua dan kawasan sekitar berhamburan menuju lokasi yang aman dari jangkauan banjir.

Tak hanya air dan lumpur, air juga membawa kayu dan bebatuan. Rumah-rumah di 7 desa terendam dan rusak parah. Desa Rikit Bur merupakan kawasan paling parah dilanda banjir.

Badan jalan negara yang menghubungkan Kutacane-Simpang Semadam putus total. Lumpur, kayu, dan batu berserakan. Selain permukiman, banjir juga merusak lahan kemiri, kakao, dan areal jagung. Dipastikan, para petani tak bisa memanen lahannya.

Sekda Aceh Tenggara Hasanuddin Darjo dan sejumlah pejabat daerah turun ke lokasi, Jumat (13/4). Mereka memantau proses evakuasi dan pembersihan fasilitas publik dari lumpur, batu, dan kayu.

Camat Bukit Tusam Samsul Hayat menyatakan belum bisa memastikan jumlah rumah yang musnah, rusak berat dan rusak ringan akibat kejadian tersebut. “Laporan rinci belum masuk, masih didata,” kata Samsul kepada wartawan, Jumat (13/4).[okz/dtc]

Komentar