PM, Jakarta – Menteri Luar Negeri Arab Saudi Adel Al-Jubeir menyebut Iran sebagai negara yang berbahaya dalam hal serangan siber (cyber) sembari mengatakan bahwa negaranya telah “berulangkali” diserang oleh negara yang dianggap sebagai musuh tersebut.

Ketika ditanya negara mana yang ia yakini sebagai yang paling berbahaya dalam hal serangan siber, Al-Jubeir menjawab dengan tegas.

“Negara paling berbahaya di balik serangan siber? Iran,” kata Al-Jubeir kepada CNBC International, Minggu (18/2/2018).

“Iran adalah satu-satunya negara yang telah menyerang kami berulang kali dan mencoba menyerang kami berkali-kali. Faktanya, mereka mencoba melakukannya secara virtual setiap minggu,” ujarnya.

Saat berbicara di sela-sela Konferensi Keamanan Munich, Menlu tersebut berulang kali mengkritik Iran untuk apa yang ia sebut “perilaku jahat” di wilayah Timur Tengah. Ia merujuk secara khusus pada dukungan Iran terhadap kelompok militan Syiah, Hizbullah, yang memiliki pengaruh di Libanon dan berbagai negara lainnya di kawasan itu.

Kepentingan Kerajaan Arab Sunni selama puluhan tahun bertentangan dengan kepetingan Iran, tetapi tahun lalu ketegangan di antara kedua negara meningkat akibat konflik di Yaman dan Suriah.

Terkait kebencian yang menumpuk antara Kerajaan Arab dan Republik Islam Syiah, pernyataan Al-Jubeir tersebut bukan sesuatu yang mengejutkan. Pihak CNBC menghubungi pemerintah Iran untuk merespon komentar Al-Jubeir namun belum mendapatkan balasan.

Al-Jubeir mengatakan negaranya mengambil langkah untuk melawan ancaman siber yang diterima dari Iran.

“Kami mengambil semua langkah yang diperlukan untuk memberi pertahanan terhadap bank data kami, internet, dan hal lainnya. Kami juga mengambil langkah yang diperlukan dalam melatih rakyat agar dapat terlibat dalam operasi penyerangan untuk membuat sistemnya mustahil disusupi orang,” katanya.

Pengamat siber juga telah menunjukkan apa yang mereka lihat sebagai peningkatan kemampuan mata-mata siber canggih dari negara tersebut.

September tahun lalu, Kementerian Keuangan Amerika Serikat (AS) memasukkan dua jaringan peretas yang berbasis di Iran dan delapan orang ke dalam daftar sanksi AS dengan tuduhan menjadi bagian dari serangan siber di sistem keuangan AS tahun 2012 dan 2013, seperti dilaporkan oleh Reuters. 

Iran menyangkal peran apapun di serangan siber tersebut meskipun pihaknya juga dikaitkan dengan serangan yang lebih dekat dengan negaranya.

Peretas yang diyakini terkait dengan pemerintah Iran menyerang perusahaan minyak raksasa milik Arab Saudi, Aramco, di tahun 2012. Aksi tersebut sukses menghapus sistem 30.000 komputer dan melumpuhkan operasi.

Sebagai tambahan, pakar keamanan juga telah menelusuri sejumlah serangan berikutnya kembali ke Iran, termasuk peretasan pada perusahaan kedirgantaraan dan petrokimia Arab Saudi juga negara Barat. 

Perusahaan keamanan siber FireEye mengatakan pihaknya mendeteksi sistem pengkodean yang mengandung referensi Farsi di dalam perangkat lunak perusak yang ditinggalkan peretas.

Semenjak virus Stuxnet yang merusak peralatan yang dioperasikan oleh komputer Natanz Uranium Enrichment Facility milik Iran di tahun 2011, kemampuan siber Iran disebut telah berkembang dengan sangat pesat.

Pada bulan September 2017 FireEye menyebut kelompok peretas yang diyakini berada di balik serangan ke perusahaan penerbangan dan minyak Arab Saudi, AS, dan Korea Selatan sebagai “APT33. Kelompok tersebut juga disebut mempersiapkan serangan yang bisa jadi melumpuhkan jaringan komputer secara keseluruhan. 

“Jejak dari warga Iran ada di seluruh bagian upaya ini, khususnya pemerintah,” kata analisis Direktur Mata-mata Siber FireEye yang dikutip oleh Reuters.

Iran tidak memberi konfirmasi ataupun mengelak tuduhan bahwa pihaknya ada di balik serangan.

Keamanan siber menjadi fokus utama di Konferensi Keamanan Munich, yang telah mengumpulkan lebih dari 450 pejabat senior dan kepala negara untuk berdiskusi tentang ancaman saat ini dan yang akan datang demi kestabilan internasional. | CNBC Indonesia

Komentar