putri akidi tio heryanty
Putri Akidi Tio, Heryanty, saat dijemput penyidik Polda Sumsel terkait donasi Rp 2 triliun (Foto Antara)

PM, Palembang – Rencana sumbangan Rp 2 triliun dari keluarga mendiang Akidi Tio, salah satu pengusaha warga negara keturunan di Sumatera Selatan berbuntut panjang. Donasi yang sejatinya jatuh tempo pada 2 Agustus 2021 lalu masih sebatas nominal yang tertera di atas selembar gabus dan bilyet giro, tanpa realisasi. Alih-alih mendapat suntikan dana segar untuk penanganan Covid-19 di Sumatera Selatan dan Palembang, Kapolda Sumsel Irjen Eko Indra Heri bahkan harus berurusan dengan Tim Pengawasan dan pemeriksaan Khusus (Wasriksus) Inspektorat Pengawasan Umum Polri.

Hingga Sabtu, 7 Agustus 2021, penyidik Mabes Polri telah memerksa enam saksi, termasuk Heriyanti atas polemik dana hibah Rp 2 T penanganan Covid-19 tersebut. Pihak kepolisian juga berencana memeriksa lima orang anak Akidi Tio yang berdomisili di Jakarta, tetapi masih menunggu balasan Bank Indonesia dan PPATK terkait rekening milik Heriyanti.

Tak hanya itu, Mapolda Sumsel turut mendatangkan tim psikolog untuk memeriksa kejiwaan Heriyanti pada Kamis, 5 Agustus 2021 kemarin. “Hasilnya masih tunggu karena tidak bisa langsung keluar,” ujar Kepala Bidang Humas Polda Sumsel, Kombes Supriadi.

Rencana sumbangan Rp 2 triliun yang sempat viral itu turut membongkar aib anak bungsu Akidi Tio, Heriyanti. Seorang dokter spesialis kandungan di Palembang, Siti Mirza Nuria mengungkap Heriyanti memiliki utang sebesar Rp2,3 miliar kepada dirinya. Siti sempat berniat melaporkan kasus tersebut kepada Polda Sumsel. Namun dokter spesialis kandungan tersebut membatalkan niatnya.

“Saya tadi baru konsul di Polda. Saya masih butuh waktu mempertimbangkannya karena kalau pun saya lapor, saya tahu keuangan Heriyanty sedang terpuruk jadi belum tentu juga uang saya kembali,” ujar Siti Mirza kepada CNN Indonesia melalui sambungan telepon, Jumat (6/8).

Siti Mirza yang dijuluki “Si Cantik” oleh Dahlan Iskan dalam artikelnya menyebutkan, permasalahan utang itu berawal pada Mei 2019 lalu. Saat itu, Heriyanti menawarkan kerja sama kepada Mirza untuk investasi di bisnis ekspedisi. Heriyanti menjanjikan keuntungan 10-12 persen setiap bulannya dari jumlah yang diinvestasikan.

Janji keuntungan tersebut ditunaikan Heriyanti pada enam bulan pertama, setelah Siti Mirza menyerahkan uang Rp600 juta. Belakangan Heriyanti kembali meminjam uang kepada Siti Mirza sehingga total modal si dokter mencapai Rp1,8 miliar. Akan tetapi pada Januari 2020, pembagian keuntungan tersebut mulai macet. Heriyanti kembali meminjam uang kepada Siti Mirza sebesar Rp500 juta untuk keperluan membayar pajak kendaraan ekspedisi. Jumlah investasi Siti kembali bertambah dengan total nilai mencapai Rp2,3 miliar.

“Sekarang saya harus terus kerja untuk bayar utang itu ke bank yang sudah membengkak sampai Rp2,5 miliar,” ungkap Siti seperti dikutip dari CNN Indonesia.

Siti tidak mengetahui motif Heriyanti yang tiba-tiba merencanakan pemberian sumbangan kepada Kapolda Sumsel Irjen Eko Indra Heri sebesar Rp2 triliun. Padahal uangnya saja yang hanya sebesar Rp200 juta tidak mampu ditunaikan oleh Heriyanti. Siti sempat mengancam akan melaporkan Heriyanti ke polisi agar mau melunasi utang-utangnya.

“Tiba-tiba dia bilang mau bayar utang ke saya bentar lagi dan mau sumbang Kapolda Rp2 triliun karena dana warisan padanya di luar negeri sudah cair. Tapi sekarang malah jadi masalah,” ungkap Siti.

Sementara itu, dari penulusaran Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) menemukan bahwa jumlah uang yang tersimpan di rekening Heriyanti tidak mencapai Rp2 triliun. Hal tersebut menjadi kontras dengan niat Heriyanti yang hendak menyumbangkan dana besar untuk penanganan Covid-19 di Sumatera Selatan.

PPATK hingga Rabu, 4 Agustus 2021 kemarin juga telah memeriksa semua rekening terkait rencana sumbangan tersebut. “Kita sudah telusuri semua rekening terkait dan kita bisa simpulkan secara kualitatif bahwa memang jauh dari memadai untuk bisa memenuhi sumbangannya yang sudah dijanjikan (Rp 2 triliun),” kata Kepala PPATK Dian Ediana Rae dalam program Sapa Indonesia Malam di Kompas TV.

Rencana sumbangan bernilai fantastis tersebut telah menyedot perhatian publik tentang profil Akidi Tio, yang tidak masuk dalam barisan konglomerat di dalam negeri. Belakangan profil Akidi Tio diungkap oleh dr Hardi, dokter keluarga mendiang Akidi. Menurut keterangan dr Hardi, Akidi Tio merupakan seorang pengusaha di bidang perkebunan dan bangunan. Dia telah mengenal Akidi sejak puluhan tahun lalu.

Akidi lahir dan pernah menetap di Langsa. Dia kemudian pindah ke Palembang pada tahun 1976, dan meninggal pada tahun 2009.[]

Komentar