PM, Tapaktuan – Pemerintah Kabupaten Aceh Selatan menyambut baik rencana Pemko Pagar Alam, Provinsi Sumatra Selatan, ingin mengembangkan tanaman pala di daerah itu. Meskipun Pemko Pagar Alam lebih tertarik pada jenis bibit sambungan pala hutan (Pala Sambutan), bukan  bibit konvensional dari Pemkab Aceh Selatan.

“Tapi ini merupakan sesuatu yang positif bagi Aceh Selatan,” kata Kepala Dinas Kehutanan Dan Perkebunan Aceh Selatan, Ir Teuku Masrul di Tapaktuan, Rabu (26/08/2015).

Pihaknya, ujar Masrul, tetap merespon positif setiap perkembangan yang terjadi, sejauh punya nilai positif bagi daerah. Dan apa yang berkembang di seputar rencana Pemko Pagar Alam dengan Forum Pala Tapaktuan, dirinya melihat itu sebagai sesuatu yang positif bagi daerah, meskipun Pemko Pagar Alam membangun komitmen dengan Forum Pala, yang merupakan yayasan yang banyak berbuat untuk perkembangan tanaman pala di Aceh Selatan.

Seperti diberitakan sebelumnya, Pemko Pagar Alam semula tertarik pada hasil eksperiman Forum Pala Tapaktuan yang diekspos melalui facebook. Ketertarikan itu selanjutnya disusul kunjungan khusus Wali Kota Pagar Alam, dr. Ida Fitriati Basyuni, M.Kes, ke Kota Tapaktuan, Minggu (2/08/2015) lalu.

Petang itu juga, rombongan Walikota yang didampingi pengurus Forum Pala langsung menuju ke lokasi sekolah lapang Forum Pala di Gampong Jambo Apha Kota Tapaktuan yang disambut Ketua Forum Pala, Mustafril dan Hamdani ST (manager pembibitan). Ida Fitriati tiba melalui Bandara Nagan Raya, Kabupaten Nagan dan menuju Tapaktuan melalui jalan darat bersama sekitar tujuh orang anggota rombongan.

Sehari di Tapaktuan, Wali Kota Ida Firiati, tampak dengan tekun mengamati setiap bibit pala sambutan yang sedang berkembang menggembirakan di areal sekolah lapang itu. Selanjutnya, Wali Kota melanjutkan peninjauan ke Gampong Panton Luas Tapaktuan, ke kebun pala Forum Pala sekaligus menyaksikan operasional pabrik pala (ketel uap) milik anggota Forum Pala. Saat melihat proses penyulingan minyak pala itu, Walikota Pagar Alam beserta rombongan  tampak begitu tertarik.

Wali Kota Ida Fitriati menjelaskan, dirinya merasa tertarik menyangkut pengembangan pala di Aceh Selatan yang dikenal sebagai tanaman leluhur. Dia mengaku merencanakan akan mengembangkan tanaman ini di Pagar Alam, dengan pengembangan tahap pertama sekitar 10 hektar.

“Nanti kalau ini berhasil, ke depan akan kita kembangkan lebih lanjut dengan memberikan bantuan bibit Pala Sambutan kepada masyarakat,” katanya.

Pengembangan yang dilakukan Forum Pala sudah jauh lebih maju ketimbang budidaya yang dilakukan di daerah Indonesia Timur (Ambon) yang masih sangat konvensional.

Minat mengembangkan budidaya komoditas pala di Pagar Alam, ujar Ida Fitriati, sekalian untuk mengubah pola penanaman kopi di kalangan masyarakat, yang diketahui banyak menimbulkan masalah. Saat ini, dengan total luas wilayah Pagar Alam 63.366 hektar m2, 60 persen di antaranya merupakan kawasan hutan lindung, dan memiliki areal kopi yang merupakan tanaman masyarakat seluas 9.300 hektar. Dari 187.000 jiwa penduduk, 70 persen di antaranya menggantungkan hidup dari usaha pertanian.

Jamur Akar

Eksperimen yang dilakukan Forum Pala adalah dengan menyambungkan bibit pala hutan dengan bibit pala kampung (konvensional) yang antara lain bertujuan untuk menangkal hama jamur putih yang menggerogoti bagian akar dan telah menjadi dilema bagi petani pala setempat selama bertahun-tahun. Dalam kurun tersebut, sudah ribuan batang pohon pala mati sehingga berdampak pada perekonomian masyarakat terpukul.

Uji coba Forum Pala yang diketuai Mustafril dengan actor intelektual eksperimen, Hamdani, ST itu telah dilakukan selama bertahun-tahun dan akhirnya membuahkan hasil, antara lain, tahan terhadap hama jamur akar putih, tanaman itu mampu berproduksi dalam usia 2,5 tahun (pala konvensional 7 tahun), serta semenjak ditanam mudah diketahui jenisnya yakni apakah pala betina atau pala jantan.

Pada pala konvensional, tujuh tahun kemudian baru diketahui jika pala itu tidak menghasilkan buah karena yang ditanam adalah jenis pala jantan, begitu juga sebaliknya, jika yang ditanam adalah jenis pala betina, baru tujuh tahun kemudian diketahui hasilnya melalui buah-buah yang dihasilkan.  Pada bibit pala sambutan hasil rekayasa Forum Pala, “tipuan” menyangkut jenis pala tidak didapati lagi.

“Begitu ditanam langsung diketahui jantan atau betinanya. Jadi petani bisa menanam dengan nyaman,” kata Hamdani yang dibenarkan Mustafril.

Pemko Pagar Alam yang terhampar di kaki gunung Dempo merupakan hasil pemekaran dari Kabupaten Lahat dengan topografi pegunungan memiliki ketinggian rata-rata 650 hingga 1.500 meter dari permukaan laut. Dan di dalam penelitian yang dilakukan Forum Pala, tanaman pala sangat cocok dengan ketinggian seperti itu.  

“Kita mengharapkan usaha yang dirintis ini akan membuahkan hasil sehingga dapat memakmurkan perekonomian rakyat,” kata Walikota Pagar Alam. 

Ketua Forum Pala Tapaktuan, Dr Mustafril yang dimintai tanggapannya terkait minat Pemko Pagar Alam tersebut mengaku akan siap membantu dengan pengadaan bibit pala sekalian memberikan penyuluhan tehknis budidaya yang efektif.

[PM005]

Komentar