Seorang anak bermain di porosotan dalam Taman Sari Banda Aceh. (Foto Makmur Dimila)
Seorang anak bermain di porosotan dalam Taman Sari Banda Aceh. (Foto Makmur Dimila)

Pengadaan fasilitas publik di Banda Aceh terkesan tanpa konsep. Membangun, merusak dan membangun kembali. Termasuk dalam revitalisasi Taman Sari yang dinilai merambah ruang terbuka hijau.

Warga Banda Aceh nyaris tidak bisa menghindari panas terik di Taman Sari. Area taman yang selama ini menjadi halaman Kantor Walikota Banda Aceh itu sudah tidak lagi sesejuk dulu. Sejumlah fasilitas menyesaki salah satu area ruang terbuka hijau di tengah-tengah Kota Madani itu.

“Suasanan Taman Sari sudah tidak seperti dulu yang sejuk dan teduh. Kini sudah terasa sumpek,” sebut Yoki, 35, warga Neusu, Kecamatan Baiturrahman.  

Dari pengamatannya, ruang terbuka hijau kini semakin sempit. Sejumlah sudut taman sudah dipenuhi bangunan. Mulai bangunan setengah lingkaran di ujung utara kompleks hingga ujung selatannya yang kini sedang dilaksanakan proyek pembangunan museum digital dalam rangka revitalisasi Taman Sari.  

Iklan Duka Cita Thanthawi Ishak dari BPKA Dan SAMSAT

Kamis (11/08/16) pagi pekan lalu, Yoki tengah menemani putrinya bermain porosotan. Terdengar olehnya, dentuman palu para pekerja memaku kayu-kayu pada pondasi sebuah gedung di arah utara dari arena putrinya bermain.

Di balik sekat yang berdekatan dengan lokasi dia menenami anaknya, Pemko Banda Aceh tengah melaksanakan proyek pengadaan fasilitas pendukung keindahan Taman Sari. “Itu proyek revitalisasi Taman Sari tahap dua,” ujar Surya, 45, pengawas proyek tersebut kepada Pikiran Merdeka.

Dia menunjuk papan informasi proyek dalam area pembangunan yang sudah dipagari. “Proyek ini dikerjakan Dinas Kebersihan dan Keindahan Kota (DK3)  Banda Aceh dan dilaksanakan PT Yudha Bakti Utama—pemenang tender,” katanya.

Gedung Museum Digital Taman Sari Banda Aceh. (Foto Makmur Dimila)
Gedung Museum Digital Taman Sari Banda Aceh. (Foto Makmur Dimila)

Pemko Banda Aceh, kata Surya, ingin mendirikan museum digital pada proyek yang sedang diawasinya. Dengan anggaran Rp5,8 miliar itu, sebutnya, Pemko alokasikan  untuk pengadaan bangunan museum digital dan perbaikan jalur pedestrian Taman Sari.  “Besaran biaya yang wajar jika kami melihat RAB-nya,” ucap Surya.

Di seberang kompleks proyek, sebagai warga Banda Aceh diakui Yoki, Pemko memang perlu merevitalisasi Taman Sari. “Tapi penting juga bagi Pemko merawat taman yang sudah ada,” katanya kepada Pikiran Merdeka.

Dia menunjukkan beberapa titik di Taman Sari yang terkesan tanpa perawatan, seperti sepetak panggung di belakang tempat anaknya bermain dan rel kendaraan yang sudah ditutupi rerumputan.

Di sisi lain, sebagian masyarakat menilai, semakin bertambahnya fasilitas di Taman Sari semakin mengikis Ruang Terbuka Hijau (RTH). Padahal, sebut Myna Agustina dalam sebuah diskusi tentang konsep peta hijau dengan Pikiran Merdeka, Kota Banda Aceh sangat kekurangan RTH jika dibandingkan dengan kota-kota besar lainnya di Indonesia.

Bersambung ke Hal 2

Komentar