Penemuan Mayat Wanita Tanpa Kepala Gegerkan Seuneudon

Penemuan Mayat Wanita Tanpa Kepala Gegerkan Seuneudon
ilustrasi

PM,LHOKSUKON – Jasad seorang wanita tanpa kepala ditemukan mengapung oleh nelayan di laut Ulee Rubek Timu, Kecamatan Seunuddon, Aceh Utara pada Minggu (6/3/2016) sekira pukul 14.00 WIB.

Panglima Laut Seunuddon, Amir Yusuf mengatakan, penemuan itu menggegerkan warga Seuneudon. Selain tanpa kepala, saat ditemukan mayat tersebut hanya mengenakan pakaian dalam. Ia memperkirakan, wanita itu merupakan korban pembunuhan.

“Tubuhnya sudah bengkak, di paha kanan terdapat luka yang menganga. Tidak ada warga yang bisa mengenali mayat wanita itu. Selain tidak ada identitas, kepalanya juga tidak ada lagi. Saat ditemukan tubuhnya hanya memakai BH, tidak ada pakaian lain,” kata Amir kepada Pikiran Merdeka.

Amir menduga, mayat wanita itu berasal dari daerah lain, karena sepengetahuannya tidak ada wanita yang hilang di kawasan Seunuddon. “Namun untuk lebih jelas akan dipastikan pihak Polsek Seunuddon,” ucapnya.

Sementara itu, Kapolres Aceh Utara AKBP Achmadi, melalui Kapolsek Seunuddon AKP M Ridwan menyebutkan, pihaknya masih menyelidiki kasus tersebut. Polisi hingga kini belum mengetahui identitas jasad korban.

“Kasus ini dalah tahap penyelidikan,” ujarnya singkat.

Ia menambahkan, setelah divisum di Puskesmas setempat, selanjutnya jasad itu baru dibawa ke Rumah Sakit Umum Cut Mutia (RSUCM)  Buket Rata, Lhokseumawe. [PM004]

Belum ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

Cek Mad Tegaskan Tidak Akan Lepas RSUCM ke Pihak Lain
Bupati Aceh Utara H Muhammad Thaib, menegaskan bahwa Pemkab tidak akan melepas RSUCM Buket Rata, kepada pihak lain, Selasa (10/10). [PikiranMerdeka/IST]

Cek Mad Tegaskan Tidak Akan Lepas RSUCM ke Pihak Lain

Rp1 miliar per huruf
Fadhlan Bachtiar (kiri) dan Moh Agus Zamroni (tengah) tampil sebagai pembicara pada diskusi "Fontastis" yang dipandu pembawa acara Teras Sore, Muhadzdzier M Salda (kanan) di Kanot Bu, Emperom, Banda Aceh. FOTO: Oviyandi Emnur

Rp1 Miliar per Huruf