331
Foto: Istimewa

Stroke telah menyebabkan kematian dan kecacatan pada jutaan orang di dunia. Bagaimana cara menurunkan risiko kondisi yang mengancam jiwa ini?

Menurut Public Health England (PHE), sepertiga kasus stroke menimpa orang berusia 40-69 tahun di negara itu. Kemudian, kasus orang yang baru pertama kali terserang stroke pun terjadi pada mereka yang berusia lebih muda dibanding 10 tahun lalu.

“Setiap orang harus mewaspadai tanda-tandanya,” kata direktur PHE, Profesor Julia Verne, dikutip dari Express.co.uk.

Gejala stroke yang harus diperhatikan antara lain, apakah wajah terlihat turun di satu sisi atau bisakah orang tersebut mengangkat tangan dan terus menahannya di atas? Apakah bicaranya jelas?

Menurut Verne, pertolongan segera bisa menyelamatkan orang tersebut dari kematian dan kecacatan. “Jika dibiarkan tanpa ditangani, orang tersebut bisa meninggal dan cacat,” kata Verne.

Asosiasi Stroke Inggris menyebut tiga hal yang bisa meningkatkan risiko, yakni riwayat keluarga, tekanan darah tinggi, dan kelebihan berat badan. Kontribusi tekanan darah tinggi yang paling besar, yakni setengah dari seluruh kasus. Karena itu, mereka yang telah berusia di atas 40 tahun harus rutin mengecek tekanan darah.

Gaya hidup juga bisa menyebabkan tekanan darah tinggi, antara lain merokok, minum terlalu banyak alkohol, kelebihan berat badan, dan kebiasaan makan yang tak sehat, juga makan terlalu banyak makanan asin. Tekanan darah tinggi membuat kerja pembuluh darah semakin berat dan membuatnya menyempit dan kaku.

Pembuluh darah yang sempit dan kaku bisa menyebabkan penggumpalan darah dan bila gumpalan tersebut mengalir ke otak, maka terjadilah stroke. Tekanan darah tinggi juga bisa menyebabkan pendarahan di otak.

 

Sumber: Tempo.co

Komentar