PM, BANDA ACEH – Wali Nanggroe Aceh PYM Tengku Malik Mahmud Al Haythar menyambut positif dan menyatakan dukungan penuh terhadap rencana kerja sama strategis yang diajukan Sekolah Vokasi Institut Pertanian Bogor (SV IPB). Kerja sama tersebut dipimpin langsung oleh Dekan SV IPB, Dr. Ir. Aceng Hidayat, MT, bersama tim, dalam kunjungan resmi ke Meuligoe Wali Nanggroe, Aceh Besar, Selasa (5/8).
Pertemuan ini membahas program pengembangan sumber daya manusia unggul di Aceh melalui pendidikan vokasi yang berfokus pada pelatihan keterampilan teknis dan penguasaan bahasa Jepang. Inisiatif ini juga bertujuan membuka akses kerja ke Jepang bagi pemuda Aceh, sebagai upaya konkret mengatasi persoalan pengangguran di daerah.
“Kami mendukung penuh inisiatif ini karena menjadi salah satu solusi konkret untuk mengatasi persoalan ketenagakerjaan di Aceh. Melalui kolaborasi ini, anak muda Aceh akan mendapat kesempatan untuk meningkatkan keterampilan, dan pada saat yang sama bisa menembus pasar kerja global,” ujar Wali Nanggroe.
Program ini ditargetkan dapat melatih 100 hingga 250 peserta setiap tahunnya, dengan 90 persen peserta diharapkan lulus ujian bahasa Jepang JLPT N4, dan sedikitnya 80 persen dari lulusan bisa langsung ditempatkan di perusahaan-perusahaan mitra di Jepang. Langkah ini sekaligus menjawab kebutuhan tenaga kerja asing di Jepang yang diproyeksikan mencapai 345.000 orang hingga tahun 2030, di tengah tingginya angka pengangguran terbuka di Aceh yang mencapai 7,2 persen pada 2024.
SV IPB menegaskan bahwa pendekatan yang digunakan dalam program ini berbeda dari pola praktik sejumlah agen PJTKI komersial maupun ilegal yang hanya mengejar kuantitas tanpa memastikan kualitas. Banyak dari agen tersebut mengirimkan tenaga kerja tidak terampil dengan biaya tinggi dan pelatihan minim, yang justru memicu persoalan baru di negara tujuan.
Sebagai bentuk keberpihakan terhadap pemuda yang terkendala secara ekonomi, SV IPB juga mengusulkan skema pembiayaan berbasis syariah. Wali Nanggroe merekomendasikan agar lembaga keuangan lokal seperti Baitul Mal Aceh, Bank Aceh Syariah, BUMD, dan koperasi syariah dilibatkan sebagai mitra pendukung agar program ini dapat diakses secara luas.
Kolaborasi ini diharapkan menjadi model sinergi antara institusi pendidikan tinggi, lembaga keistimewaan Aceh, dan pemerintah daerah dalam menciptakan SDM unggul, menurunkan angka pengangguran, dan mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat Aceh secara berkelanjutan.
Belum ada komentar