muslim amerika
Ilustrasi (foto: tempo.co)

PM, Washington DC – Hassan Sheikh berada di kelas sekolah menengahnya di Detroit, Michigan, pada pagi hari serangan 11/9. Alih-alih mengikuti tes yang dijadwalkan, dia malah menyaksikan dua pesawat menabrak World Trade Center di New York City setelah gurunya mendorong televisi ke dalam ruangan kelas.

“Kami semua hanya menonton dengan kaget,” kenang Sheikh, yang hari ini telah berusia 34 tahun. “Kami tidak dapat memahami gawatnya situasi pada saat itu.”

Pasca peristiwa 11 September 2001 tersebut turut mengubah hari-hari Hassan Sheikh seorang remaja imigran asal Pakistan, yang juga seorang Muslim di Amerika Serikat. Banyak teman-teman Sheikh yang menjauh, mendapat intimidasi, dan turut menjadi sasaran komentar rasis yang terang-terangan.

Pengalaman pahit itu dirasakan Sheikh seperti saat pertandingan basket. Dalam pertandingan itu, seorang pemain lawan memanggilnya dengan sebutan teroris Arab yang “raghead”. Wasit pertandingan tidak melakukan apa-apa, padahal dia mendengar komentar rasis tersebut.

Teror terhadap Hassan belum berakhir. Setahun pasca serangan 11 September 2001, ibunya juga mendapat pengalaman tidak menyenangkan dalam perjalanan keluarga mereka ke Washington. Ada seorang pria yang menyebut ibu Hassan sebagai teroris dan mempertanyakan mengapa dia memakai jilbab.

Intimidasi dan teror seperti itu berkali-kali dialami Sheikh Hassan dan keluarga. Hal tersebut bahkan tidak hanya dialami oleh Hassan, tetapi juga muslim Amerika Serikat lainnya. “Banyak yang hilang sejak 11/9,” kata Sheikh Hassan, seperti dilansir aljazeera.com.

Peningkatan Pengawasan

Segera setelah serangan WTC dan Pentagon, kebencian dan kejahatan terhadap Muslim di AS terus meningkat. Dari data statistik FBI diketahui terdapat 28 kali insiden kebencian dan kejahatan terhadap Muslim di AS pada tahun 2000. Jumlah tersebut meningkat pada 2001, menjadi 481 peristiwa.

Masih berdasarkan data FBI, sikap anti-Muslim yang berujung pada intimidasi dan kejahatan terus meningkat, bahkan hingga 2019 terdapat 219 insiden seperti itu.

“Setelah 11/9 kebencian dan diskriminasi meningkat,” kata Sumayyah Waheed, seorang konsultan kebijakan di Muslim Advocates–sebuah kelompok hak-hak sipil yang berbasis di Washington DC.

Waheed mengatakan kehidupan sehari-hari Muslim di Amerika terus menjadi subjek konsumsi publik secara luas, keyakinan mereka pun dirasialisasi, dan semua komunitas menghadapi pengawasan ketat dari masyarakat di negeri Paman Sam. “Hal yang belum pernah terjadi sebelumnya,” kata Waheed.

Serangan terhadap menara kembat World Trade Center (WTC) di New York City dan di Pentagon, yang menewaskan hampir 3.000 jiwa, pemerintah AS dengan cepat meningkatkan keamanan di bandara dan gedung-gedung pemerintah.

Berselang 45 hari kemudian, Kongres Amerika mengesahkan Patriot Act, sebuah undang-undang yang memudahkan lembaga penegak hukum AS untuk melacak aktivitas serta memantau komunikasi online dan telepon orang Amerika yang dicurigai melakukan terorisme.

Sikap rasial terus diterima oleh penduduk Muslim di Amerika. Pemerintahan Presiden George W Bush pada tahun 2003 bahkan melahirkan program inisiatif yang disebut “Daftar Pantauan (Watchlist)”. Daftar ini juga dikenal sebagai Basis Data Penyaringan Teroris (TSDB).

Menurut FBI terdapat 5.000 warga negara Amerika yang masuk dalam Daftar Pantauan, dan mayoritas adalah Muslim dan para imigran asal Arab. Hal tersebut membuat kelompok hak sipil Muslim Amerika menggugat pemerintahan “Paman Sam”. Mereka beralasan kebijakan tersebut tidak konstitusional. Namun banding yang dilakukan kelompok sipil tersebut tidak mampu membendung kebijakan TDSB tersebut. “Segera setelah 11/9, semua Muslim yang tinggal di AS ditempatkan di bawah prisma sebagai ancaman keamanan bagi keamanan nasional,” kata Robert McCaw, Direktur Departemen Urusan Pemerintah di Council on American-Islamic Relations (CAIR).

Pemerintahan federal bahkan terus memantau tempat-tempat ibadah, masyarakat sipil, kelompok mahasiswa, dan bahkan tempat usaha. FBI menurut McCaw, juga mengerahkan ribuan agen untuk mengumpulkan informasi dari setiap individu di AS. “Sampai hari ini, Muslim Amerika menebak-nebak sendiri apakah mereka sedang dimata-matai oleh pemerintah,” katanya.[] Selengkapnya baca di Al Jazeera

Komentar