Medan—Project Officer Global Fund Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara Andi Ilham Lubis mengatakan, sampai saat ini kasus HIV/AIDS di provinsi itu masih cenderung meningkat, bahkan pihaknya mengestimasikan sebanyak 6.000 kasus.

“Meningkatnya kasus ini bukan karena tidak ada penanganan dari kami. Bahkan sampai saat ini, kami terus berupaya untuk menemukan kasusnya, karena penyakit ini perjalanannya lama sehingga orang-orang HIV itu harus segera ditemukan untuk menjalani konseling,” katanya di Medan, Senin (8/4).

Ia mengatakan dewasa ini orang dengan HIV dan AIDS di daerah itu didominasi oleh usia produktif 19 sampai 40 tahun.

“Jumlah kumulatif HIV/AIDS menurut jenis kelaminnya didominasi oleh pria, yakni laki-laki sebanyak 2.987 dan perempuan sebanyak 1.010 orang,” katanya.

Untuk faktor risiko penularan HIV/AIDS, katanya, didominasi oleh hubungan seksual dan penggunaan jarum suntik secara bergantian di kalangan pengguna narkotika.

“Kalau faktornya yah karena hubungan seksual, narkoba dan penularan ke janin,” katanya.

Menanggapi hal ini Konselor di klinik VCT RS Dr Pirngadi Medan Indah Kumala mengatakan bahwa khusus di RS Pirngadi untuk tahun Januari hingga Maret 2013 ada sebanyak 300 orang yang datang untuk memeriksakan diri, dan dari jumlah tersebut sebanyak 31 orang positif HIV.

“Kalau di tahun 2013 saja jumlahnya yang positif sudah ada 31 orang. Dari tahun ke tahun memang masih mengalami peningkatan. Hal ini terjadi karena kurangnya pendidikan tentang HIV dan AIDS khususnya bagi masyarakat yang tinggal di pedesaan,” katanya.

Bahkan, ketika ia melakukan sosialisasi ke daerah bersama beberapa anggota DPRD, ternyata pengetahuan tentang penyakit tersebut sangat minim, hal tersebut terbukti dari pertanyaan-pertanyaan masyarakat yang dilontarkan kepadanya.

“Saya heran, padahal sosialisasi sudah banyak dilakukan, tetapi buktinya ketika saya ikut reses bersama anggota dewan ke pedesaan banyak juga yang belum tahu. Jadi saya pun kaget, bahkan masyarakat di situ sudah bisa dibilang kelas menengah,” katanya.

Menurut dia hal itu juga disebabkan karena adanya ketakutan-ketakutan dari sebagian masyarakat.

“Kita pernah buat program sistem mobile dengan datang ke lokasi-lokasi, namun pemilik cafe ketakutan. Padahal kita hanya mau sosialisasi saja, bahwa mereka yang suka berganti pasangan harus periksakan diri, agar dikonseling. Padahal semua gratis, obat gratis, semua gratis. Nah ini karena stigma tadi,” katanya.[ant]

Komentar