Bendera Negara Republik Turki

Oleh: Ikhwanul Kiram Mashuri

Beberapa waktu lalu Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Sutiyoso menyatakan ingin membuka kantor BIN di Turki. Mengapa Turki? Informasi intelijen apa yang bisa digali dari negara Presiden Recep Tayyib Erdogan yang selama dua hari kemarin berkunjung di Indonesia?

BIN tampaknya telah mencium peran Turki sebagai wilayah lalu lintas para kelompok garis keras dan teroris untuk melintasi batas masuk ke Suriah. Termasuk sejumlah warga negara Indonesia yang ingin begabung dengan sebuah kelompok teroris yang menamakan diri sebagai Islamic State of Iraq and Syria (ISIS). Beberapa waktu lalu di antara mereka telah berhasil diamankan pihak berwenang Turki dan dikembalikan ke Indonesia. Dikabarkan  kini ada sekitar 500 warga negara Indonesia yang telah bergabung dengan ISIS.

Sutiyoso menyebut wilayah perbatasan Turki untuk masuk ke Suriah itu sebagai ‘jalur klasik’ bagi mereka yang ingin bergabung dengan kelompok-kelompok radikal di Suriah dan Irak. Ia pun ingin memutus jalur lalu lintas orang-orang berpaham radikal ISIS melalui negara tersebut. ‘‘Pasti saya isi dalam waktu dekat karena jalur klasiknya (paham radikal) itu pasti lewat Turki,’’ kata Sutiyoso pertengahan Juli lalu seperti dikutip media.

Jalur lalu lintas di perbatasan Turki-Suriah yang disebut Sutiyoso itu panjangnya mencapai 950 km. Jalur sepanjang itu diistilahkan oleh para kelompok radikal sebagai ‘Gerbang Jihad (Bawwabatu al Jihad)’’.

Menurut catatan media al Sharq al Awsat, lebih dari 12 ribu anak muda Eropa telah pergi ke Suriah untuk bergabung dengan ISIS. Sedangkan sumber lain menyebutkan lebih dari 8 ribu warga dari 20 negara Eropa telah ikut berperang bersama ISIS. Pertanyaannya, bagaimana mereka tiba di wilayah yang telah dikuasai ISIS itu?

Mengutip sumber Barat, di antaranya pernyataan Perdana Menteri (PM) Prancis Manuel Carlos Valls Galfetti, anak-anak muda Eropa itu tiba di Suriah melalui Turki. Hal yang sama disampaikan PM Inggris, David Cameron. Yang terakhir ini bahkan mengaku sudah berkordinasi dengan para penguasa Turki untuk mencegah warga negaranya pergi ke Suriah.

Lalu bagaimana Turki bisa menjadi gerbang lalu lintas warga asing yang ingin bergabung dengan ISIS?

Turki merupakan negara turisme. Setiap tahun tak kurang dari 40 juta wisatawan asing yang berkunjung ke Turki. Untuk menggaet turis asing sebanyak-banyaknya, Turki memberlakukan bebas visa (visa on arrival) bagi para wisatawan dari banyak negara, termasuk Indonesia. Kemudahan-kemudahan inilah yang kemudian disalahgunakan oleh para wisatawan asing untuk bergabung dengan ISIS melalui perbatasan Turki-Suriah.

Menurut pengamat Timur Tengah yang juga mantan pemimpin redaksi al Sharq al Awsat, Abdul Rahman al Rasyid, membanjirnya warga asing ke Suriah bermula ketika terjadi demonstrasi besar-besaran untuk menuntut Presiden Bashar Assad mundur, seiring munculnya The Arab Spring alias Revolusi Arab pada 2011. Aksi-aksi unjuk rasa ini lalu dihadapi dengan kekerasan oleh rezim penguasa.

Dukungan Turki kepada kelompok oposisi (demonstran) pada awalnya tampak lumrah, sebagaimana mereka juga mendukung kaum oposisi di banyak negara Arab. Pada tahun pertama hingga pertengahan tahun kedua, perlawanan rakyat Suriah tampak biasa saja. Namun, pada akhir tahun kedua, perlawanan rakyat berubah menjadi perlawanan senjata ketika rezim penguasa terus menghadapi kaum oposisi dengan kekerasan yang menelan korban nyawa. Pada saat itu Ankara terus mendukung kaum oposisi yang tergabung dalam koalisi di bawah bendera Tentara Pembebasan Nasional Suriah.

Memasuki tahun ketiga perlawanan rakyat, rezim Bashar Assad mulai goyah. Beberapa wilayah telah berhasil dikuasai oposisi. Pertempuran terus bergejolak. Damaskus mulai terkepung. Sejak itu muncullah dua perkembangan. Pertama, Suria menjadi perhatian dunia, terutama dunia Islam, seperti halnya Bosnia pada 1990-an. Jutaan pengungsi dan ratusan ribu warga yang tewas akibat perang bersaudara di Suriah telah mengagetkan dunia. Sayangnya, dunia internasional — PBB, OKI, Liga Arab, hingga Uni Eropa dan lembaga internasional lainnya — gagal memberi solusi. Kedua, munculnya beberapa negara — Rusia, Cina, Hizbullah (Lebanon), dan Iran — untuk mendukung rezim Bashar Assad agar tidak jatuh.

Sejak itu warga asing mulai berdatangan ke Suriah melalui perbatasan Turki, baik yang mendukung kelompok oposisi maupun rezim Bashar Assad. Termasuk kelompok-kelompok radikal yang kemudian bergabung dengan Jabhatu an Nashrah dan ISIS. An Nashrah merupakan bentuk lain dari Alqaida di Suriah.

Pada mulanya Ankara sengaja membiarkan — dengan diam maupun terang-terangan — para warga asing itu memasuki Suriah melalui perbatasannya. Bahkan Turki sepertinya memanfaatkan keberadaan  mereka — para tentara asing itu — untuk kepentingannya sendiri. Pertama, kehadiran warga asing untuk bergabung denagan an Nashrah dan ISIS diharapkan bisa memperlemah rezim Bashar Assad yang juga didukung tentara asing.

Kedua, keberadaan ISIS juga diharapkan dapat memperlemah posisi suku Kurdi yang berada di perbatasan wilayah Suriah-Turki seperti yang terjadi di Kota Kobani. Selama bertahun-tahun Turki mempunyai persoalan dengan suku Kurdi yang terus menuntut kemerdekaan dan pemisahan diri. Sikap Turki inilah  yang kemudian disebut oleh pengamat Timur Tengah lainnya, Amir Thahiri, sebagai La’batu Erdogan al Khatarah (permainan Erdogan yang bahaya/penuh risiko).

Sikap Turki yang seolah membiarkan perbatasannya terbuka bagi lalu lintas warga asing masuk ke Suriah bukan hanya menuai kritik dari dunia internasional, terutama negara-negara Barat yang banyak warganya bergabung dengan ISIS. Sikap itu bahkan menjadi blunder bagi Turki sendiri.

ISIS sebagaimana kelompok radikal/teroris lainnya tidak peduli dengan masalah nasionalisme, negara kesatuan, hubungan antar-negara, dan masalah-masalah akhlak lainnya. Yang menjadi kepentingan mereka adalah bagaimana menguasai dunia, dengan segala cara. Termasuk menawan dan membunuh siapapun yang dianggap lawan.

Terbukti  ISIS juga tidak segan-segan melakukan bom bunuh diri di wilayah Turki. Salah satunya terjadi di Kota Suruc, Turki, yang menewaskan 32 warga, beberapa hari lalu. Tindakan ini dilakukan sebagai pembalasan kepada Turki yang telah memberhentikan para warga asing yang ingin bergabung dengan ISIS di Suriah dan penutupan Website ISIS berbahasa Turki. Abdul Rahman al Rasyid menyebut bom bunuh diri itu sebagai  ‘Inqilab  Da’isy ‘ala al Atrak (Kudeta ISIS pada Turki)’.

Bom bunuh diri ini kemudian dibalas Turki dengan melancarkan serangan bom dari udara ke berbagai sasaran ISIS. Serangan yang diharapkan akan mengakhiri ‘syahrul ‘asal (bulan madu)‘ Turki-ISIS. Berbagai pihak pun menyambut baik dengan perubahan sikap Turki ini. Perubahan sikap yang diharapkan dapat memperlemah eksistensi ISIS dan sekaligus mengubah peta kekuatan di Irak dan Suriah dan bahkan di Timur Tengah.

Dengan posisi strategis Turki seperti ini, kita pun mendukung keinginan Sutiyoso untuk membuka kantor BIN di negara Tuan Erdogan itu. Keberadaan BIN ini kita harapkan bisa mendeteksi dini warga Indonesia yang yang ingin pergi bergabung dengan kelompok-kelompok radikal di Timur Tengah. Wallahu a’lam.

 

Komentar