Harga Pinang Belah
Hamdani penampungan hasil bumi di kecamatan Samudera, Aceh Utara, sedang memperlihatkan pinang hasil belinya, Foto direkam Sabtu(24/3).(Pikiran Merdeka/Saifullah)
Harga Pinang Belah
Hamdani penampungan hasil bumi di kecamatan Samudera, Aceh Utara, sedang memperlihatkan pinang hasil belinya, Foto direkam Sabtu(24/3).(Pikiran Merdeka/Saifullah)

Lhoksukon—Menjelang kenaikan harga bahan bakar minyak, harga beli pinang melonjak di Aceh Utara. Dari Rp4 ribu-Rp5ribu, jadi Rp6 ribu sampai Rp7 ribu per kilogram. Sementara harga coklat masih bertahan pada kisaran Rp17 ribu-Rp18 ribu per kilogram.

Hamdani, 35, pedagang hasil bumi di Desa Keude Geudong, Samudera, Aceh Utara, Sabtu (24/3) mengatakan, perubahan harga tampung pinang kering itu sudah berlangsung dua pekan terakhir.

“Hingga hari ini (kemarin-red) kita masih bisa menampung Rp6 ribu sampai Rp7 ribu per kilogram. Harga tersebut kita sesuaikan dengan kualitas barang, jika barangnya bagus harganya juga akan bagus,” sebut Hamdani.

Menurutnya, harga bisa berubah kapan saja, karena harga itu tergantung yang ditampung di Medan, baik coklat maupun pinang. “Kalau memang mahal di tampung di Medan, kita juga akan mahal menampung di sini,” terangnya.

Dia juga berharap, harga pinang dan coklat bisa melonjak lagi agar semangat petani meningkat untuk memanenkan hasil buminya. Umumnya masyarakat Aceh Utara hasil buminya kebanyakan pinang dan coklat.

“Kalau harga anjlok lagi, kita khawatirkan hasil yang didapat para petani coklat maupun pinang tidak bisa mencukupi kebutuhan sehari-harinya, apalagi awal April 2012 sudah direncakan BBM akan naik. Walaupun begitu kita pun tidak bisa membeli di atas harga pasaran di Medan,” sebut Hamdani.[pm/csf]

Komentar