Griya Schizofren Aceh berdiri dengan visi-misi ingin mengambalikan Orang Dengan Ganggung Jiwa (ODGJ) kembali ke keluarga dan diterima oleh masyarakat.

Penderita ganggung jiwa skizofrenia sering dianggap sebagai kelompok masyarakat yang meresahkan. Perlakuan yang diterima penderitanya pun seringkali tidak manusiawi. Padahal mereka juga membutuhkan dukungan dari masyarakat untuk membantu penyembuhan gangguan jiwa.

Dilatarbelakangi kondisi tersebut, sekolompok anak muda di Banda Aceh akhirnya menggagas sebuah komunitas yang disebut “Griya Schizofren Aceh”. Komunitas ini berdiri sebagai bentuk aksi kemanusiaan untuk memanusiakan penanganan penderita ganggung jiwa, khususnya skizofrenia.

“Alhamdulillah berkat inspirasi dan pengalaman yang diceritakan oleh Triana Rahmawati founder Griya Shcizofren Solo, akhirnya anak-anak muda Aceh pada 5 April 2015 membentuk Griya Schizofren Aceh,” ujar Khalida Zia, Sabtu pekan lalu.

Griya Schizofren Aceh (GSA), sebutnya, merupakan sebuah ekspansi dari Griya Schizofren yang semulanya hanya ada di Solo. Dengan adanya GSA, sehingga anak muda Tanah Rencong juga memiliki wadah untuk menyalurkan bentuk kepedulian terhadap penderita gangguan jiwa.

Menurutnya, komunitas ini juga dilatar belakangi oleh pengalaman salah seorang peserta almuni Dream Maker 2015 yang pernah melakukan praktek profesi di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Aceh. “Konsep yang digagas oleh Griya Schizofren sangat cocok diterapkan kepada pasien yang ada di rumah sakit jiwa, karena banyak pasien jiwa yang sudah sembuh namun tidak diterima atau dijemput oleh keluarganya lagi, sehingga menjadi pasien tetap rumah sakit jiwa,” sebut mahasiswi jurusan Sosiologi Universitas Syiah Kuala itu.

Padahal, menurutnya, penderita gangguan jiwa tersebut juga mempunyai kemampuan yang luar biasa, namun masyarakat dan lingkungan sulit untuk mempercayai dan menerima mereka. Oleh karena itu Griya Schizofren akan memberdayakan mereka sesuai minat dan keahlian yang mereka miliki.

Untuk saat ini, Griya Scizofren Aceh sendiri memiliki 17 volunteer yang akan senantiasa berkunjung, memotivasi serta memberikan terapi kepada teman-teman Schizophrenic yang berada di RSJ Aceh.

Anggota GSA sendiri tidak hanya berlatarbelakang pendidikan kesehatan, namun mereka yang semuanya mahasiswa itu dengan konsentrasi pendidikan yang berbeda. Walaupun berbeda-beda, namun hal tersebut tidak menjadi persoalan mereka dalam menyalurkan bentuk kepeduliannya terhadap pasien Schizophrenia di Aceh.

Komunitas ini aktif melakukan kegiatan sosial sejak 10 April 2015 lalu, tepatnya lima hari setelah terbentuk, mereka melakukan kunjungan perdananya ke RSJ. Setelah itu, kunjungan kedua dilakukan pada 17 April 2015 dengan mengadakan terapi komunikasi dengan pasien Schizophrenia.

Selama ini, sebut perempuan yang akrab dipanggil Zia itu, kegiatan yang telah dilakukan Griya Schizofren Aceh berupa terapi aktivitas kelompok, terapi musik, terapi kreativitas dan terapi permainan. Karena visi-misi Griya Schizofren Aceh berdiri, jelasnya, ingin mengubah mindset masyarakat terhadap Orang Dengan Ganggung Jiwa (ODGJ) membahayakan, tidak memiliki kemampuan khusus dan mengembalikan mereka kepada keluarga dan diterima kembali oleh masyarakat.

Sebetulnya, menurut GSA, ODGJ itu sama saja dengan manusia pada umumnya. Bahkan bila sedang tenang, mereka juga bisa bercerita kenapa bisa mengalami gangguan jiwa. Umumnya kalau di Aceh disebabkan karena konflik yang berkepanjangan dan Aceh yang pernah dilanda bencana alam gempa dan tsunami akhir tahun 2004 silam.

Lewat komunitas Griya Schizofren Aceh, mahasiswa semester tujuh itu berharap dapat menciptakan wadah bagi anak-anak muda untuk menyalurkan kepedulian sosial dan aksi kemanusiaannya. Dalam waktu dekan, menjelang peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia, mereka berencana menggandeng pihak Dinas Kesehatan Aceh untuk menyelenggarakan beberapa kegiatan, salah satunya adalah jalan santai.

“Dengan berharap dukungan semua pihak, semoga komunitas ini berhasil mencapai target-target yang telah dikonsepkan,” pungkas Zia, anggota GSA bidang partnership.[]

Tabloid Pikiran Merdeka, Edisi 92 5-11 Oktober 2015

Komentar