PM, Bireuen — Guna menunjang wisata di daerah, pemerintah telah menyiapkan dana khusus untuk gampong-gampong wisata di Aceh yang selama ini merintis objek wisata baik wisata bahari maupun wisata alam.

Demikian dikakatan Raihan Iskandar, Lc, anggota DPR RI, yang juga politisi dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang membidangi parawisata pada acara silaturrahmi dengan wartawan, Kamis (26/4).

Menurut Raihan, setiap desa maupun gampong wisata itu akan mendapatkan dana setiap tahunnya, karena di pusat telah ada Menteri Parawisata dan Ekonomi masyarakat yang akan mengalokasikan dana tersebut.

“Sementara di Aceh, dunia wisata masih terjadi pro dan kontra, ini disebabkan kurangnya pemahaman tentang wisata, sebab di pikiran masyarakat, wisata itu menjurus ke maksiat,” katanya.

Disamping tak adanya sosialisasi oleh pemerintah baik di provinsi maupun di tingkat kabupaten/kota, kendati telah dibahas tentang qanun wisata Islami, namun implemetasinya di lapangan bulum dilakukan. “Setelah tsunami, banyak yang datang ke Aceh, kedatangan warga dari provini lain bukan alasan ingin berwisata semata, tapi mereka lebih tertarik dengan kultur budaya Aceh, makanan khas Aceh,” jelasnya.

Tetapi selama ini, kata Raihan, di Aceh hanya bisa menghandalkan wisata bahari, selebihnya tak ada sema sekali. “Contoh kecilnya saja, makam Habib Bugak di kawasan Jangka, Bireuen untuk menuju ke sana saja tak ada jalan, dan harus melewati pematang sawah dengan kondisi semak belukar, kendati nama beliau sangat tersohor di Jakarta bahkan di Malaysia maupun di Arab, tapi kenyatannya sangat menyedihkan. Kan aneh, begitu banyak uang yang dihibahkan untuk beliau di Arab, tapi kok bisa demikian, seharusnya pemerintah Bireuen memiliki tanggungjawab terhadap makam Habib Bugak,” lanjutnya.

Menurut Raihan, Pemkab Bireuen harus merawat makan tersebut, minimal membangun sarana jalan sehingga masyarakat dapat berziarah sambil mengenal lebih dekat tentang figur Habib Bugak yang masih memiliki keturunannya di Bireuen.

“Belum lagi dengan wisata sejarah lainnya, seperti Raja Jeumpa, rumah Tengku Awe Geutah, dan Cot Panglima, semuanya memiliki sejarahnya yang luar biasa, termasuk Pendopo dan tugu Kota Juang. Semua objek wisata itu belum terangkat sama sekali, walaupun Bireuen sudah terkenal dengan dunia wisata sejarahnya, termasuk wisata alam dan pergunungan,” kata Raihan.

Raihan berharap kepada pemerintah daerah, terutama pemerintahan Bireuen, untuk dapat menghidupkan dunia wisata dengan melibatkan semua unsur, sehingga wasita itu tidak dianggap lokasi maksiat, tapi lebih dekat dengan wisata Islami.[jon]

Komentar